Sinar biru pada ponsel konon membahayakan mata, namun hasil penelitian terbaru mengatkan sebaliknya. Gambar: unsplash/@danielfalcao

Benarkah Bluelight Pada Ponsel Membahayakan Kesehatan Mata?

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – Banyak publikasi yang mensinyalir jika “sinar biru” (Blue Light) pada ponsel dapat merusak mata. Mulai dari mata minus, kelelahan, hingga sulit tidur. Padahal di sisi lain, kegiatan kita sehari-hari kini sulit terlepas dari menggunakan ponsel. Untuk itu, bertebaran pedagang kacamata yang menawarkan lensa anti radiasi sinar biru atau obat yang dapat “mengebalkan” mata dari paparan sinar biru.

Pertanyaanya, benarkan sinar biru pada ponsel berbahaya bagi mata? Lebih jauh, benarkah sinar biru dapat membutakan mata? Mengacu pada artikel di health.harvard.edu, jawabannya ialah tidak. Sinar biru dari peranti elektronik, termasuk ponsel pintar, tablets, televisi LCD, laptop, komputer tidak membahayakan retina maupun bagian mata lainnya.

Apa itu Cahaya Biru (Blue Light)?

“Cahaya biru” (blue light) merupakan salah satu tipe cahaya yang dapat terlihat dengan panjang gelombang antara 400 – 450 nanometer (nm). Sebagaimana Namanya, tipe ini terlihat berwarna biru. Namun, sejatinya cahaya biru itu bisa saja ada sebagai salah satu spektrum pada cahaya yang terlihat berwarna putih atau berwarna lainnya.

Cahaya biru mendapatkan perhatian khusus karena secara teknis mengandung lebih banyak energi per foton cahaya daripada spektrum warna lainnya, yaitu hijau, merah, orange, kuning, indigo, dan violet. Spektrum cahaya ini dapat kita lihat pada pelangi seusai hujan sementara matahari tak terhalangi awan.

Sebagaimana cahaya biru, spektrum warna lainnya pun memiliki panjang gelombang dan energi. Namun, cahaya biru memiliki panjang gelombang lebih pendek dan mengandung energi lebih besar daripada spektrum warna lainnya. Cahaya biru dengan dosis tinggi disinyalir dapat mengakibatkan kerusakan Ketika terserap oleh jenis sel tertentu pada tubuh kita.

Mengutip webmd.com, panjang gelombang yang biasanya merusak mata berada pada 415 – 455 nanometer (nm). Sedangkan kebanyakan cahaya pada LED yang biasanya kita dapat temukan pada ponsel pintar, televisi, dan tablet biasanya memiliki panjang gelombang antara 400 – 490 nanometer (nm).

Cara Mata Mempersepsi Cahaya

Kembali ke health.harvard.edu yang mengungkapkan jika persepsi kita soal warna tergantung pada empat sel utama (yang peka dengan cahaya); tiga kerucut photoreceptor dan satu rod photoreceptor. Sel tersebut terletak di retina mata kita.

Sepanjang hari, tiga kerucut (cone) photoreceptor secara aktif menangkap cahaya dan setiap kerucut memiliki tingkat sensitifitas tersendiri pada spektrum warna biru, hijau, atau merah. Pada tingkat yang paling mendasar, kemampuan kita melihat warna ditentukan oleh keseimbangan aktifitas ketiga sel ini. Ketika cahaya terlalu redup untuk menstimuli kerucut indrawi warna kita padam. Kita melihat sekitar dalam warna abu-abu karena hanya satu photreceptor yang mempertahankan fungsi visual kita.

LED dan Cahaya Biru

Cahaya LED warna putih mengandung cahaya biru lebih banyak daripada sumber cahaya tradisional lainnya. Cahaya biru ini tidak mungkin dapat menimbulkan bahaya pada retina scara fisik. Namun, ia mungkin saja menstimuli siklus sirkadian daripada sumber cahaya tradisional, membuat Wargi terbangun padahal waktunya tidur, membuat tidur terganggu, dan gangguan siklus sirkadian lainnya.

Sebagaimana kita tahu, sebagian orang menggunakan ponselnya sementara ia sudah bersiap tidur di atas kasurnya. Sementara, cahaya putih pada ponsel pintar, tablet, dan laptop mengandung jumlah cahaya biru paling banyak. Riset menunjukkan jika menggunakan ponsel sebelum tidur dapat mengurangi jumlah produksi melatonin, mengakibatkan Wargi sulit tidur.

Ancaman Cahaya Biru

Pada dasarnya, cahaya biru yang terpancar dari perangkat elektronik tidak berbahaya bagi retina. Contohnya, iPhone keluaran terbaru memiliki kecerahan (brightness) maksimal sekitar 625 candelas permeter kuadrat (cd/m2). Daripada itu, pancaran cahaya lampu LED di toko ritel bersinar lebih terang. Meski begitu, sumber cahaya ini tentu masih kalah dengan matahari yang lebih terang 10 kali lipat.

Melihat langsung pada sumber cahaya biru, secara umum, memang dapat menimbulkan efek negatif pada keseahtan mata. Namun, cahaya biru yang dihasilkan oleh produk elektronik telah disertai dengan filter demi melindungi konsumen. Selanjutnya, efek berbahaya mungkin saja terjadi bila kita melihat secara langsung ke arah sumber cahaya dengan konsumsi energi yang sangat besar karena akan sangat terang. Termasuk, senter standar militer atau jenis senter besar lainnya.

“Jika Anda melihat jumlah cahaya yang keluar dari ponsel Anda, sebetulnya tidak baik (bagi kesehatan), namun masih dapat ditoleransi,” ujar Dr. John Payton yang merupakan asisten tamu professor di Departemen Kimia dan Biokimia Universitas Toledo, Amerika Serikat, sebagaimana dikutip oleh news.utoledo.edu. Ia juga menilai positif dengan upaya produsen ponsel yang menerapkan filter cahaya biru pada layar.

Selanjutnya, sebagai antisipasi, Dr. Ajith Karunarathne yang berasal dari institusi yang sama dengan Payton, menyarankan, hendaknya kita menghindari penggunaan ponsel atau melihat layer ponsel di tengah lingkungan gelap. Ia juga menyarankan agar kita menggunakan kacamata yang dapat memfilter UV dan cahaya biru. Meski untuk saran yang kedua, penelitian lain justru menunjukkan penggunaanya (lensa anti radiasi cahaya biru) tidak lebih bermanfaat ketimbang lensa biasa.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like