Covid-19 memaksa anak-anak Wargi menggunakan gawai. Yang sebelumnya Wargi dapat melarang anak, kini tak bisa lagi. Saatnya membekali anak kita dengan “Digital Skills”. Gambar: unsplash.com/@kellysikkema

Tak Mungkin Lagi Melarang, Saatnya Bekali Anak Dengan “Digital Skill”

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – Anak generasi sekarang, belum lahir saja sudah kenal dengan gawai, tentu melalui sang Ibu. Membandingkan dengan saya yang baru mengenal internet kala sekolah tingkat menengah pertama, itupun baru tahu yahoo. Tentu bukan untuk membanding-bandingkan, namun ini merupakan salah satu gambaran anak-anak generasi Z dan Alpha memang miliknya era digital.

Dalam satu obrolan dengan kawan-kawan sekantor, pernah satu waktu kami saling bercerita soal bagaimana cara mereka masing-masing menyikapi anak-anaknya yang “selalu gawai”. Yang satu, ada yang membiarkan karena tak tega, yang satu melarang sama sekali karena begitu khawatirnya pada akibat tontonan pada anak. Kedunya mempunyai alasan yang logis. Dan jika mengacu pada beberapa penelitian, alasan bapak kedua lebih aman sepertinya karena memang begitu banyak bahaya yang mengancam.

Namun, apakah pilihan tersebut adalah pilihan terakhir sementara anak-anak memang akan berhadapan dengan zaman serba digital? Sementara itu, pandemi menbuyarkan kebijakan tersebut. Demi melindungi anak-anak dari covid-19, pemerintah berkebijakan menutup sekolah. Sementar, kegiatan belajar-mengajar, mau tak mau, dilakukan secara daring. Banyak media yang mengabarkan jika banyak orang tua yang stres karena harus “membantu” kegiatan pembelajaran anaknya.

Namun, tahukan Wargi, jika anak juga terancam oleh beragam “kejahatan” di dunia digital? DQInstitute, menunjukkan, 60 persen anak usia 8 -12 tahun di 30 negara mengalami setidaknya satu ancaman digital sepanjang 2020. Bentuk ancamannya bervaiasi, termasuk di dalamnya perundungan siber (cyberbullying), pembohongan, pertemuan beresiko, adiksi gim (game), soal privasi (privacy), konten beresiko, dan informasi palsu. Ancaman ini berpotensi berujung pada akibat yang serius, kemampuan sosialisasi yang buruk, kemampuan belajar yang buruk, dan kesehatan yang buruk.

Digital Readiness

Bila Wargi khawatir dengan anaknya dengan akibat interaksi anak dengan gawainya, Anda tak perlu menekan kekhawatiran tersebut karena merupakan energi. Namun, melarang sama sekali, kini tak bisa menjadi pilihan. Inilah saatnya mengubah pola pikir, di mana kita sudah saatnya membekali anak kita ilmu yang benar soal bagaimana menyikapi dan menggunakan teknologi digital sehingga mereka siap.

Pertanyaannya kemudian, apa yang mesti Wargi ajarkan pada anak agar “siap” digital. DQ Institute menawarkan pada para orang tua dan pendidik semacam kurikulum beserta alat ukurnya sehingga anak tangguh (resilient) secara digital. Pembelajaran ini tidak menjanjikan dapat melindungi anak sepenuhnya dari berbagai kemungkinan ancaman, namun setidaknya mereka memiliki kesiapan mental untuk merespon, beradaptasi, dan bertumbuh; meminimalisasi ancaman digital dan memaksimalkan potensi teknologi digital.

Wargi perlu menganggarkan satu hingga dua jam dalam rentang delapan hari dengan konten edukasi mereka. Dengan mengikutinya DQ Institute menjnjikan anak akan mampu menggunakan teknologi digital lebih baik dan lebih bijaksana dengan kemampuan berpikir kritis. Lebih jauh, mereka akan mampu beradaptasi dengan berubahnya metode pembelajaran (lewat daring) dan siap dengan menghadapi masa depan dunia kerja.

8 Digital Skills

8 Digital Skills. Sumber: DQInstitute.org
Screen Time Management (Digital Use)

Merupakan kemampuan untuk mengatur (memenej) screen time, multitasking, bagaimana dapat berinteraksi dalam gim daring (online game) dan media sosial dengan kontrol diri. Salah satu luaran (outcome)-nya ialah “Be a Digital Leader” dan “Self-Control pada penggunaan (teknologi) digital: menjadi pengendali teknologi digital, bukan sebaliknya.

Privacy Management

Merupakan kemampuan melindungi semua informasi pribadi maupun orang lain yang dibagikan dalam berbagai platform digital.

Cyber Bullying Management

Merupakan kemampuan mendeteksi situasi yang terdapap perundungan siber (cyberbullying) dan dapat menanganinya dengan bijaksana. Anak akan belajar bagaimana bentuk-bentuk perundungan siber dan bagaimana menghadapi atau berurusan dengan perundungan siber.

Digital Citizen Identity

Merupakan kemampuan untuk membangun dan memenej identitas yang baik secara daring maupung luring serta mebangun integritas. “(Pembelajaran) Ini sangat penting bagi anak untuk dapat memahami karena Anda (orang tua) pasti tak maun mereka (anak-anak) berpikir jika apa yang mereka katakan atau lakukan di dunia digital mesti berbeda dari apa yang mereka katakan atau lakukan di kehidupan nyata,” kata Psikolog Sekolah, Francyne Zeltser, Ph.D.

Digital Footprint Management

Kemampuan untuk dapat mengerti cara kerja jejak digital (digital footprints) dan bagaimana dampaknya pada kehidupan nyata, serta bagaimana mereka dapat bertanggungjawab atas perilakunya tersebut.

Cybersecurity Management

Merupakan kemampuan melindungi data diri maupun orang lain dengan (salah satunya) membuat password yang kuat dan juga bagaimana cara memenej atau menghindari berbagai macam serangan siber (cyberattcks). Selain membuat password, anak-anak juga akan belajar bagaimana mendeteksi SPAM dan SCAM, serta bagaimana mengenali dan menyikapi Pishing.

Critical Thinking

Merupakan kemampuan membedakan informasi yang benar dan salah, konten yang bagus dan berbahaya, dan juga bagaimana membedakan kontak yang dapat dipercaya maupun dipertanyakan di jagat digital.

Digital Empathy

Kemampuan menunjukkan empati pada kepemilikan, kebutuhan, dan perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam dunia digital. Pada poin ini, anak akan belajar untuk mengungkapkan pendapat serta menghargai pendapat orang lain di dunia digital.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like