Trafik pengguna media digital bertumbuh mengiringi kebijakan akibat pandemi. Namun, kreator cemas karena penghasilan dari sponsor menurun, menuntut para developer besar memberikan keleluasaan lebih bagi kreator untuk memonetasi, terpecut oleh hadirnya platform alternatif yang menjanjikan bagi hasil lebih. Gambar: unsplash.com/@mattmoloney

“The Creator Economy” Fenomena di Mana Kreator Menjadi Episentrum Ekonomi

0 Shares
0
0
0

sapopoé – Sudah lebih dari satu tahun pandemi hadir di tengah-tengah kita. Bukan hanya mengancam kesehatan, namun juga menghantam aspek ekonomi. Dampak ekonomi dari pandemi ini tak main-main, para ahli memperkirakan kondisinya akan setara dengan krisi keuangan Asia tahun 1997-1998, bahkan lebih parah. Namun, di sisi lain, keretakan karena pandemi nyatanya membukakan celah peluang bagi industri digital, salah satunya bagi para kreator, bahkan menjadikannya sebagai episentrum perkembangan ekonomi.

CEO Grup Gushcloud Internasional, Althe Llim mengungkapkan pandemi memang periode yang sulit bagi semua industri, namun di sisi lain menciptakan peluang baru bagi para kreator (content creatof) dan pemengaruh (influencer), bisnis, dan agensi merek. “Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar, itulah industri kreator digital,” ungkapnya pada Agustus 2020 silam.

Oddie Randa, Country Director Gushcloud Indonesia menambahkan, bisnis influencer marketing mampu bertahan di meski tetap merasakan dampak besar. Pasalnya, perusahaan besar mengurangi marketing budget-nya.

Segmen Kreator Bertumbuh di Masa Pandemi

Di sisi lain, trafik pengguna media sosial di tengah pandemi juga bertumbuh pesat. Banyaknya aktifitas yang dilakukan secara daring merupakan pemicunya. Bukan hanya segmen Warga Digital (pengguna konsumtif), namun juga melahirkan segmen kreator. Di Indonesia, pertumbuhan tersebut dapat kita lihat dari tumbuhnya jumlah kreator atau influencer selama pandemi. Marketplace talent dan influencer – SociaBuzz – melaporkan, sebelum pandemi, kreator yang terdaftar di platform-nya sekitar 2.552 perbulan. Namun, sejak Maret tahun 2020, jumlahnya meningkat hingga tiga kali lipat atau sekitar 7.730.

Di sisi developer, kita dapat kita lihat, banyaknya perkembangan, seperti TikTok, YouTube, dan Facebook. Mulai dari menyediakan fitur baru hingga menyediakan insentif bagi para kreator. Bahkan, pandemi membukakan peluang bagi para developer untuk melahirkan platform-platform alternatif, di mana mereka menawarkan insentif yang lebih besar porsinya bagi para kreator. Pasalnya, beberapa kalangan kreator harus berupaya bertahan agar tetap eksis sementara, pedapatan dari para pengiklan besar berkurang.

Bisnis yang terus berkembang di sekitar para talenta digital ini tumbuh begitu besarnya sehingga melahirkan frasa “the creator economy“. Istilah ini menjadi perbincangan pada topik bisnis selama tahun pandemi ini. TikTok merupakan salah satu fenomenanya, di mana banyak kreator TikTok yang lahir di masa pandemi dan berhasil menggaet jutaan pengikut dalam rentang tahun, bahkan bulan. Bagi para Jurnalis, khususnya di Amerika, Substack menjadi andalan.

“The Creator Economy”

Ekonomi Kreator, menurut CBinsight merupakan bisnis independen atau penghasilan sampingan yang diperkenalkan pada publik oleh perseorangan. Mereka mendapatkan penghasilan tersebut dengan mengandalkan pengetahuan mereka, skill, dst.  Menurut Ali Berman, head of digital talent di United Talent Agency, kreator ekonomi ini bernilai lebih dari $20 Miliar atau sekitar Rp285,8 Triliun

Fenomena ini lahir dari sedikitnya peluang bagi para kreator untuk memonetasi secara langsung, kecuali YouTube yang membagi 55 persen penghasilan iklannya bagi kreator. Sementara para kreator berjuang keras demi mengumpulkan ribuan hingga jutaan pengikut.

Sebagai gantinya para pengguna, pun kreator tak segan meninggalkan platform tersebut sebagaimana yang terjadi pada Vine. Apabila Wargi mengenal Zach King, ia adalah salah satu pesohor di platform tersebut. Dibeli oleh Twitter pada 2012, memperoleh 200 juta pengguna aktif pada 2015, namun kurang panduang produksi serta infrastruktur sebagai dukungan bagi kreator membuatnya ditinggalkan pengguna.

Latar belakang lainnya ialah karena “monetasi tidak langsung” dinilai tidak cukup seiring dengan berkembangnya “kreator” menjadi karir. Kemudian, pendapatan dari pengiklan atau kita istilahkan dengan jasa endorse dinilai terlalu fluktuatif dari bulan ke bulan.

Celah ini kemudian memunculkan platform-platform yang “lebih memahami keresahan para kreatif”. Ada Substack yang membagikan 90 persen pendapatan berlangganan (subscription) bagi para penulisnya, Twitch yang membagikan 50 persen pendapatan berlangganannya, ada Patreon yang membayar para kreator 88 perseni hingga 95 persen dari pendapatan berlangganan, dan OnlyFans yang memungkinkan kreator membawa pulang 80 persen dari pendapatan mereka.

Respon Platform Besar

Facebook, Clubhouse, TikTok mulai sadar dengan fenomena ini dan kemudian berupaya mempertahankan para kreatornya:

  • Instagram kini menghadirkan peranti untuk para kreator, termasuk toko bagi para kreator, link affiliate dan marketplace yang dapat menghubungkan para kreator dengan brand.
  • Clubhouse menghadirkan fitur monetasi pertamanya, semacam tips bagi kreator.
  • Twitter yang menghadirkan Super Follow yang memungkinkan kreator untuk menarik tarif dari tweet ekslusif mereka dan tiket berbayar pada Space.
  • TikTok yang kini menyediakan marketplace yang menghubungkan pengiklan dengan kreator. TikTok juga mengucurkan $200 Juta untuk berinvestasi pada kreator top mereka meski tak membuat semua kreator senang.
  • YouTube juga sebagaimana kita ketahui, menyiapkan dana $100 Juta yang dijanjikan bagi para kreator yang meramaikan fitur mirip TikTok mereka, Shorts.
  • Tak ketinggalan, Spotify yang berjanji memberikan pendapatan jasa berlangganan (subscription) sepenuhnya bagi kreator hingga 2023. Setelah itu, kreator harus rela membagi 5 persennya dengan Spotify.

Terhitung total dana yang dikucurkan pada gelombang The Creator Economy ini mencapai $1,3 Miliar atau sekitar Rp18,5 Triliun. Untuk pembagiannya, CBinstight mengakui jika sullit untuk menghitung keseluruhan estimasinya. SignalFire melaporkan terdapat 50 juta kreator pada hari ini di seluruh dunia. Namun, sebagai gambaran, kita dapat melihatnya dari beberapa contoh berikut ini:

  • YouTuber top dapat memperoleh sekitar $211 Juta atau sekitar Rp 3 Triliun pada rentang  Juni 2019 – Juni 2020 sebagaimana Forbes laporkan
  • Influencer sekaligus kreator instagram Huda Kattan atau Eleonora Pons dapat memperoleh hingga Jutaan Dolar perpostingan.
  • Penulis top Substack dapat memperoleh $1 Juta atau sekitar Rp 14 Miliar pertahun

Memanfaatkan Peluang

Memang kini peluang kian besar dengan banyaknya tawaran menarik dari pihak pengembang (developer). Namun, di sisi lain kita juga perlu ketahui jika itu berarti persaingan akan kian ketat. Belum lagi, kalau kita mempertimbangkan aspek “platform mana yang banyak digunakan oleh Warga Digital Indonesia?”. Untuk kalangan internasional, tentu peluang itu besar karena banyaknya alternatif platform sehingga dapat disesuaikan dengan minat atau keahlian kita. Apakah juga begitu di Indonesia? Bila ingin leluasa, tentu Wargi harus menyesuaikan “bahasa” yang digunakan.

Founder SociaBuzz, Rade Tampubolon melihat jika tren di Indonesia di tahun mendatang ialah video singkat seperti di TikTok, sebagaimana dikutip oleh tek.id. Hal ini juga di-“amin”-kan oleh pihak Instagram dengan menyebarluaskan Reels secara global dan YouTube dengan Shorts-nya. “Audiens suka video singkat karena untuk hiburan dan pelarian sementara dan ini peluang bagi kreator konten dapat mengolah video singkat menjadi menarik,” katanya.

Prinsipnya, agar dapat sukses memanfaatkan peluang di era Ekonomi Kreator ini, kata Merry Riana dalam salah rilis Inspira Fest 2021, para kreator “..harus mampu memberi tuntunan dengan posting (hal-hal) yang penting, bukan yang penting posting”. Untuk itu, perlu ditunjang dengan beberapa skill. Namun, sebagai awalan, wargi pelu tahu dan sadar apa yang menjadi kesenangan Wargi, apakah menulis, apakah berbicara, atau mampu tidak menampilkan wajah di hadapan publik? Setelah itu, Wargi dapat memilih platform mana yang akan digunakan. Menurut Zulie Rane (salah satu Kreator Konten), setidaknya kita memilih dua platform sebagai awalan.

Selangkah Lebih Jauh

Menurut CBinsight, ke depannya, raksasa media pasti akan meluncurkan lebih banyak alat monetisasi dalam sebagai bentuk upaya menjaga kretor konten dan basis penggemar masing-masing terlibat di platform mereka. Namun, kreator konten kemungkinan akan lebih memilih menjadi “agnostik’ platform dan menjadi merek independen. Dengan begitu, mereka tidak perlu tergantung pada platform manapun.

 

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like