Hadirnya internet memang dapat memudahkan menyelesaikan banyak pekerjaan atau mencari solusi, namun di sisi lain memudahkan para peniat kejahatan mewujudkan niatnya. Gambar: unsplash.com/@mrbrodeur

Digital Safety; Pengganggu, dan Kebiasaan Untuk Menjaganya

0 Shares
0
0
0

sapopoé – “Gaes, kalau ada yang DM pake akun gue, jangan tanggapin ya, akun gue lagi di bajak orang,” ialah kalimat pengumuman yang kerap kita temukan di zaman bermedia sosial. Berselancar di media sosial kini sudah menjadi salah satu aktfitias yang mungkin sulit terlepas dari keseharian kita. Namun, ketika kita tidak waspada, alih-alih menyenangkan, malah dapat merugikan kita. Bukan saja karena ada niat pelakunya, namun juga karena ada kesempatan.

Kejahatan via internet memang tidak melukai kita secara fisik melalui layar atau monitor.  Namun, tentu kita tidak mau kan teman kita rugi secara finansial oleh orang yang mengatasnamakan kita. Untuk itu, kita perlu menyalakan kesadaran kita ketika berinternet. Memang agak sulit memahami soal kemanan karena keamanan itu baru terasa fungsinya ketika kehilangan atau ketika kecelakaan.

Namun, setidaknya perlu tahu apa saja “pintu-pintu” yang biasa digunakan para penjahat dan wujud penjahatnya. Dengan begitu, kita dapat waspada ketika melihat sosok mencurigakan muncul. Itulah “Digital Safety”. Dengan mempelajarinya, kita setidaknya dapat menutup celah-celah yang memungkinkan pejahat “tergoda” untuk mencuri atau melakukan kejahatan pada kita.

Definisi dan Para Pengganggu Keamanan

Digital Safety atau Internet Safety atau online safety atau cyber safety atau E-Safety ialah “Upaya agar aman berada di internet dengan cara meningkatkan atau mendorong kesadaran pengguna terkait keamanan personal dalam ruang lingkup informasi atau properti milik perseorangan dari kejahatan di internet.”

Dalam konsep “keamanan digital”, Wargi juga mungkin pernah mendengar istilah “Cybersecurity”. Terjemahan “Security” dan “Safety” dalam bahasa Indonesia sama-sama-sama “keamanan”. Namun, ada sedikit perbedaan antar keduanya. Secara teknis, mengacu swgfl.org, Cyberscurity” fokus melindungi peranti/ perangkat dan jaringan dari bahaya oleh pihak ketiga, sedangkan Digital Safety, melindungi kita (pengguna) dan milik kita pribadi dari bahaya di dalam perangkat maupun jaringan dengan cara menyalakan kesadaran dengan upaya edukasi, informasi, dan teknologi (aplikasi misalnya).

Ada dua jenis pengganggu yang dapat mengancam “Safety Kita”. Pertama, dari aspek informasi pribadi kita. Kedua, aspek personal kita. Pada aspek informasi, Wargi akan menemukan pishing, internet scams, dan malware. Sedangkan pada aspek personal, wujudnya berupa cyberstalking, perundungan siber (cyberbullying), predator daring (online predation), konten ofensif, dan sextortion.

Langkah (Kebiasaan) Agar tetap Safety

Pada dasarnya, berselancar di internet atau media sosial itu aman-aman saja sebagaimana mall tempat kita berbelanja. Namun, ketika kita “ceroboh”, misal lupa mengunci mobil atau lupa melepaskan kunci motor dari tempatnya atau lupa menarik kartu ATM ketika mengambil uang. Kita tidak akan tenang ketika sadar atau bahkan bisa jadi harus pulang dengan kendaraan umum, itupun jika uang belanja masih tersisa.

Untuk itu, berikut adalah langkah-langkah teknis yang hendaknya menjadi kebiasaan wargi agar terjaga aman. Mengutip, aeseducation.com, ada tujuh langkah yang dapat Wargi lakukan.

  1. Verfikasi identitas seseorang

Di internet seseorang dapat tampil dengan jutaan wajah. Bahkan, seseorang dapat memiliki puluhan akun media sosial. Bentuknya, dapat kita temukan misal dalam VTUbe atau praktik catfishing. Dalam ruang lingkup profesional, Wargi dapat mengecek apakah orang tersebut memiliki akun LinkedIn atau tidak. Wargi juga dapat menilai feed media sosial yang dimiliki. Jika followernya nol atau tidak ada konten di dalamnya, Wargi boleh mencurigai keasliannya.

Ketehuilah jika link website dengan “HTTP” itu tidak aman dan “HTTPS” itu aman. Artinya, link dengan HTTPS itu merupakan website yang dikelola dengan baik. Sebaliknya, bisa jadi website dengan HTTP itu berbahaya. Bisa juga dengan cara hovering, yaitu meletakkan kursor pada link tanpa mengkliknya. Biasanya, link aman memunculkan apa yang tertaut pada link tersebut.

  1. Identifikasi penipuan daring

Penipuan daring (online) sering kali berbentuk email yang tidak diminta, pesan instan, atau pesan teks. Pada dasarnya, penipuan itu pesan yang datang dari sumber yang tidak dikenal. Mereka memberi tahu penerima untuk melakukan sesuatu, seperti mengklik tautan. Biasanya dengan iming-iming menggiurkan. Untuk keamanan, Wargi jangan klik tautan tersebut.

  1. Lindungi privasi (privacy)

Dahulu, Wargi mungkin bosan dengan pesan dari orang tua atau guru agar tak memberitahukan nomor ponsel atau alamat rumah pada orang lain, namun nasihat tersebut merupakan cara ampuh untuk melindungi kita. Dalam konteks digital, Wargi hendaknya tak sembarangan menaruh atau memperlihatkan nama, alamat surel (e-email), nomor ponsel, dll.

Misal, dalam media sosial. Mungkin saat membuat akun, kita biasanya diminta untuk memasukkan nomor ponsel. Ketika bisa dihindari, lebih baik jika dihindari menyetorkan nomro ponsel. Jika pun terpaksa, perhatikan setelan (setting). Bila ada opsinya, lebih baik nomor ponsel tersebut tak terbuka secara publik.

  1. Membuat dan menggunakan sandi (password)

Biasanya, agar praktis, kita memilih menggunakan akun Google atau Facebook saat membuat akun di berbagai aplikasi lainnya. Namun, dari perspektif keamanan, itu kurang aman. Dengan begitu, sekalinya kunci tersebut didapatkan oleh penjahat, bisa jadi kita kehilangan berbagai aset digital kita. Apalagi jika kunci tersebut juga kita pakai dalam aplikasi keuangan, misal dompet digital kita, bisa-bisa terkuras isinya.

Untuk itu, alangkah lebih baiknya, ketika kita menggunakan kredensial (credential) yang berbeda di setiap kita sign up di macam-macam aplikasi. Memang terkesan ribet karena kita harus memegangn banyak kunci, namun akan lebih aman. Untuk membantu, Wargi dapat menyimpannya secara tertulis di buku atau di buku catatan digital terkunci atau menggunakan password manager.

Juga, ketika Wargi membuat password, ada baiknya memenuhi karakter atau setidaknya memenuhi salah satu karakter di bawah ini:

  • 10+ karakter panjang
  • Menyertakan huruf, angka, dan karakter lainnya
  • Tidak terkait dengan informasi pribadi
  • Mudah diingat
  • Sulit ditebak
  • Unik
  1. Identifikasi perundungan daring (cyberbullying)

Jejaring sosial dan berkirim pesan memang termudahkan dengan peranti digital, namun juga itu berarti lebih mudah untuk melecehkan orang. Langkah penting yang dapat dilakukan ialah identifikasi. Penghinaan, lelucon dengan mengorbankan seseorang, dan pelecehan berulang-ulang adalah tanda panggilan perundungan siber.

Wargi mesti tahu dampaknya yang dapat sangat merugikan korbannya. Media sosial memiliki kecenderungan mengungkap sisi kehidupan personal seseorang, dan diperkuat dengan lingkaran sosial atau pergaulan di dunia nyata, kemungkinan terjadinya perundungan siber kian terbuka lebar.

Untuk mencegah perasaan terisolasi, keraguan diri, dan hasil yang lebih buruk, sangat penting bagi Wargi untuk menyadari perundungan siber ketika melihatnya sehingga Waegi dapat menghentikan pelecehan tersebut.

  1. Jadilah Warga Digital (Wargi) yang baik

Saya yakin, sebetulnya, Wargi Indonesia itu Wargi yang baik. Soal sopan-santun dalam ruang sosial, merupakan jati diri. Namun, lingkungan digital memang menimbulkan kondisi psikologis yang berbeda bagi seseorang.

Memang, untuk menjadi warga digital (Digital Citizen) memerlukan literasi tambahan. Seperti pengetahuan umum tentang teknologi, cara kerja Internet, dan tanda-tanda peringatan bahwa ada sesuatu yang salah. Dengan begitu kita dapat lebih cerdas dan bertanggung jawab ketika membuat pilihan di Internet.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like