Musik dapat berpengaruh pada perilaku kita, termasuk dalam mengemudi. Gambar: picjumbo.com/author/viktorhanacek/

Waspadai Musik Jenis Ini Kala Mengemudi

0 Shares
0
0
0

sapopoé – Musik merupakan salah satu teman kita saat sendiri, musik juga merupakan pemersatu saat kita baru masuk kuliah. Menemani saat-saat sibuk mencuci baju, menjemur baju, dan menyetrika baju. Juga menemani saat harus mengerjakan tugas sembari begadang. Intinya, musik merupakan teman yang dapat kita andalkan dalam berbagai aktifitas keseharian kita, termasuk ketika kita sedang mengemudi.

Kehadiran internet, membuat kita dapat mengakses jutaan musik tanpa harus mengurangi kapasitas memori internal ponsel. Konsep tersebut kita kenal dengan nama streaming. Kapanpun, di manapun kita dapat mengaksesnya, asalkan memiliki akses internet dan baterai yang cukup, plus aplikasi yang terinstal.

IFPI menunjukkan data jika streaming meningkatkan kuantitas konsumsi musik. Dari 17.8 jam perpekan menjadi 18 jam perpekan. Terhitung sejak 2018 hingga 2019. Data tersebut mengacu pada 19.000 responden dari 18 negara dan 64% responden mengaku mendengarkan musik dengan cara streaming. Data juga menunjukkan jika streaming musik bukan hanya domain generasi muda. Data justru menunjukkan, tingkat pertumbuhan streaming-musik justru terjadi pada responden berusia 35-64 tahun yang mencapai 8 persen, menjadi 54 persen responden.

IFPI juga merilis, jika momen yang paling banyak untuk mendengarkan musik ialah saat berkendara. 66 persen responden yang mengakuinya. Momen lainnya ialah saat rileks di rumah (63 persen), saat di perjalanan berkendaraan umum menuju tempat kerja atau kuliah atau sekolah (54 persen), memasak dan bersih-bersih (54 persen), saat bekerja atau belajar (40 persen), saat nge-gym (36 persen), pada saat konser atau festival (36 persen), dan saat hendak tidur (19 persen).

Efek Musik Pada Diri Kita

Karena berbasis audio, mendengarkan musik dapat kita lakukan sembari kita melakukan kegiatan lainnya. Terutama, untuk kegiatan-kegiatan yang rutin, yang dapat kita lakukan secara refleks. Bahkan, selain menjadi pengiring, banyak penelitian yang mengungkap jika musik-musik tertentu dapat menjaga atau bahkan meningkatkan mood positif.

Dalam salah satu artikelnya pada Psychology Today, Emeritus Profesor Asosiat spesialis Ekonomis Sehat di Universitas Illinonis, Shahram Hesmat memaparkan jika kegiatan menikmati musik melibatkan pusat kenikmatan pada bagian otak yang sama dengan makan, sex, dan obat-obatan terlarang. Ia juga menunjukkan satu bukti, stimulan estetik seperti musik dapat secara alami menyasar sistem dopamin pada otak. Khususnya, pada bagian yang terlibat dalam memaksa perilaku dan adiktif.

Dalam studi tersebut, partisipan diminta mendengarkan musik favorit setelah mengonsumsi naltrexone. Naltrexone dikenal sebagai obat untuk menangani masalah adiksi. Para peneliti mengungkapkan, subjek yang mengonsumsi naltrexone melaporkan jika lagu favorit mereka tak lagi dapat mereka nikmati. Namun, Hesmat mengungkapkan jika tidak semua orang mengalami respon emosional yang intens terhadap musik. Sekitar 5 persen populasi (manusia) tidak dapat mengalami chills saat mendengarkan musik. Ketidakmampuan ini disebut anhedonia.

Kemudian, Hesmat mengungkapkan jika musik juga berpengaruh pada kecenderungan aksi. katanya, musik seringkali menstimuli tubuh untuk bergerak dalam kordinasi musik (misalnya menari dan gerak-gerak kaki). Ritme detak jantung kita dapat meningkat atau menurun seiring dengan musik.

Musik juga mempengaruhi kebiasaan konsumsi kita (misal belanja). Satu studi mengekspos perilaku pelanggan di bagian minuman supermarket dengan latar musik Prancis dan Jerman. Hasil penelitian menunjukkan, minuman Prancis terjual lebih banyak daripada anggur Jerman saat musik Prancis dimainkan, sedangkan minuman Jerman terjual lebih banyak daripada minuman Prancis saat musik Jerman dimainkan.

Lantas, bagaimana pengaruh musik pada perilaku kita saat menyetir? Sedangkan distraksi pada saat menyetir merupakan faktor utama resiko kecelakaan lalu lintas.

Pengaruh Musik Pada Saat Mengemudi

Satu studi menunjukkan, jika genre musik tertentu dapat mempengaruhi kecepatan mengemudi dan juga memengaruhi kemampuan pengemudi dalam memindai lingkungan. Kecepatan rata-rata tertinggi (sekitar 60km/jam) tercatat saat para partisipan mendengarkan musik folk dan metal Balkan, sementara genre musik lainnya memengaruhi kecepatan mengemudi dalam kondisi serupa “tidak ada musik”, peserta melaju dengan kecepatan rata-rata 50km/jam.

Yang perlu Wargi waspadai ialah musik agresif dengan tempo cepat. Studi ini menujukkan jika musik dengan warna tersebut dapat meningkatkan kesalahan atau eror saat mengemudi.

Studi ini bertujuan untuk mengukur pengaruh beberapa genre musik tertentu (yang berbeda) pada perilaku menyetir usia muda dan kemampuan memindai lingkungan dengan setting urban (perkotaan). Genre yang para peneliti pialah ialah pop Kroasia, pop asing, musik klasik, metal, dan musik folk Balkan, dan tanpa musik di satu ruas jalan. Partisipan terdiri dari 61 peserta (44 laki-laki dan 17 perempuan) dengan usia rata-rata 24,5 tahun dan pengalaman mengemudi rata-rata 5,25 tahun.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like