Jarvis merupakan salah satu gambaran AI atau kecerdasan buatan. Gambar: wallpapersafari.com

Apa Itu Artificial Intelligence?

0 Shares
0
0
0

sapopoé – Feed yang Wargi lihat di timeline Instagram atau Facebook, berikut notifikasi yang muncul di tengah kebosanan kerja, iklan yang ‘mengganggu’ di tengah aktifitas membaca berita, rekomendasi lagu saat untuk menemani perjalanan pulang kerja, keyboard yang ‘kelewatan’ pinter sehingga sering ‘typo’. Di balik itu semua ada peran Artificial Intellegence (A.I.) atau “kecerdasan buatan”.

Teknologi AI memungkinkan kita dapat berkomunikasi dengan satu aplikasi layaknya dengan sosok manusia. Dalam film fiksi ilmiah, kita dapat menemukannya dalam sosok bernama Jarvis. Pada akhirnya, ia menjadi bagian dari satu karakter utuh salah satu pahlawan rekaan Marvel bernama VIsion. Namun, bila kita putar kembali film Iron Man seri pertama, Jarvis merupakan sosok nirwujud yang senantiasa membantu Tony Stark dalam membuat berbagai keputusan.

Dalam dunia nyata, kita dapat menemukan sosok Jarvis ini dengan nama Google Assistant, Siri, atau Alexa. Kita dapat meminta tolong pada mereka untuk menemukan objek yang kita inginkan dalam dunia digital. Seperti memeutarkan lagu di aplikasi Spotify, membuat panggilan pada sahabat kita, bahkn ‘membuatkan’ kopi di waktu menjelang siang.

Bila Wargi mengira AI ‘lahir’ di era Millenial, berarti wargi harus melanjutkan membaca artikel ini.

Bermula dari Sebuah Pertanyaan

AI, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah “kecerdasan buatan”. Definisinya, “program komputer dalam meniru kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya.

Istilah Artificial Intellegence (AI) lahir dari pemikiran seorang ilmuan komputer dan ilmuan kognitif, John McCarthy. Ia memperkenalkan pada publik dalam momen Konferensi di Universitas Dortmouth musim panas 1956. Untuk membuat AI, McCarthy membuat bahasa pemrograman LISP yang masih digunakan hingga saat ini. Di kemudian hari, ia dikenal sebagai “Bapak AI”.

McCarthy sendiri memperkenalkan AI sebagai ilmu dan teknik membuat mesin cerdas, terutama program komputer cerdas. “Ini terkait dengan tugas serupa menggunakan komputer untuk memahami kecerdasan manusia, tetapi AI tidak harus membatasi dirinya pada metode yang dapat diamati secara biologis.”

Namun, menurut IBM, proses persemaiannya dimulai pertanyaan dari seorang Alan Turing, “Dapatkah mesin berpikir?”. Alan Turing, yang didapuk sebagai Bapak Ilmu Komputer, kemudian membuat karya ilmiah berjudul “Computing Machinery and Intellegence” yang dipublikasi pada 1950. Dari karya tersebut, kemudian ia mengembangkan sebuah tes yang kemudian kita dapat temukan sebagai “Turing Test”.

“Sementara (banyak penelitian) dilakukan pada tes ini sejak diterbitkan, namun (tes tersebut tak dapat dipungkiri) merupakan bagian penting dari sejarah AI serta konsep yang sedang berlangsung dalam filsafat karena memanfaatkan ide-ide seputar linguistik,” pungkas IBM dalam artikelnya.

IBM lebih lanjut kemudian menyimpulkan jika AI merupakan satu bidang kajian yang menggabungkan ilmu komputer dan pengolahan data dan menghasilkan pemecahan masalah.

Cara Kerja AI dan Bentuk Aplikasinya

Umumnya, menurut Search Enterprise AI, AI dapat berfungsi lewat proses “berlatih”. Secara teknis, prosesnya dimulai dengan mnyuntikkan sejumlah data (untuk ‘berlatih’). Proses berlanjut dengan proses analisa korelasi antar data dan mencari pola. Pola tersebut kemudian digunakan untuk membuat prediksi.

Dengan cara ini, chatbot yang diberi contoh obrolan teks dapat belajar membuat percakapan yang nyata dengan orang-orang. Atau peranti pengenalan gambar (computer vision) dapat belajar mengidentifikasi dan mendeskripsikan objek dalam gambar dengan meninjau jutaan contoh.

Pada dasarnya, pengaplikasian AI kian hari kian berkembang. Namun, mengutip IBMSelain chatbot dan pengenalan gambar, ada tiga jenis pengalikasian lainnya yang dapat kita temukan. Pertama, pengenalan bahasa yang menggunakan NLP (Natural Language Processing) yang berfungsi memproses ucapan manusia menjadi tulisan. Wujud produknya ialah asisten digital atau fitur voice to text pada Microsoft Word.

Kemudian, ada mesin perekomendasi (Recomendation Engines) yang wujudnya dapat kita temukan dalam rekomendasi film di Netflix, video di YouTube, dan postingan di media sosial. Basisnya ialah algoritma yang mengolah data kebiasaan kita atau tren. Terakhir, ialah Automated stock trading. Dari namanya, kita dapat mengetahui pemanfaatannya, yakni untuk membatu platform trading melakukan ribuan bahkan jutaan trading perhari secara otomatis.

0 Shares
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like