Memilih alarm berbunyi keras agar mudah bangun terdengar masuk akal. Memang bangun seketika, tapi dapat merusak mood kita seharian. Gambar: unsplash.com/@cathughes6

Alarm Keras Membuat Lemas, Alarm Melodi Membuat Semangat

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Kala Wargi terpaksa begadang, sedangkan besok harus berangkat kerja pagi hari, mungkin Wargi berpikir menyetel alarm sekeras mungkin. Alasannya masuk akal, agar lebih mudah terbangun. Ketika alarm berbunyi, Wargi bangun seketika. Bangun sih, namun Wargi merasa pusing dan jengkel. Bisa jadi, Wargi mengalami “sleep inertia“.
Mengutip hellosehat, sleep inertia sebetulnya kondisi normal kala kita baru bangun tidur. istilah yang mengacu pada keadaan transisi antara tidur dan bangun. Ini ditandai dengan pusing yang Wargi rasakan kala Wargi sudah bangun. Namun, dapat dikatakan saat itu, wargi belum benar-benar bangun. Pada saat itu, tubuh belum bisa sepenuhnya bekerja, kewaspadaan masih rendah, dan berkeinginan untuk tidur lagi.
Namun, kelompok peneliti dari Australia menilai bila kondisi turunnya tingkat kewaspadaan manusia yang terjadi 0–4 jam setelah bangun pada sleep intertia tersebut berpotensi bahaya. Untuk itu, mereka mencari cara untuk meredamnya dan menemukan, jika musik melodi yang disetel sebagai alarm memberikan energi lebih pada Wargi dan mengurangi “grogginess” yang merupakan simtom “sleep inertia“.

Jangan Asal Pasang Alarm; Pilih Genre Melodi

Penelitian dilakukan dengan metode kuesioner daring anonim yang melibatkan 50 partisipan. Mereka melaporkan alarm yang mereka sukai, perasaan mereka terhadap suara alarm, dan sleep inertia yang dirasakan setelah bangun. Setelah data diolah, tim peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology tersebut menemukan jika suara alarm tertentu dapat mengurangi pening kala bangun, sehingga mereka bangun lebih cepat dan merasa lebih waspada.
Mereka melaporkan, peserta penelitian yang terbangun dengan lagu melodi, tingkat “grogginess“-nya lebih rendah daripada mereka yang memilih suara “bip”. “Lagu-lagu dengan melodi tampaknya berefek ‘energizing, meningkatkan gairah, (menyalakan fungsi) kognisi dan perhatian,” tulis para peneliti.
Para peneliti berhipotesis, kombinasi nada yang naik dan turun dalam melodi lagu “Meningkatkan gairah dalam sistem tubuh yang kemudian berdampak pada meningkatnya kewaspadaan,” sebagaimana penulis utama studi, Stuart McFarlane, katakan pada CNBC Make It melalui email.

Bunyi ‘Bip’ Mengejutkan dan Mebingungkan Otak

“Di sisi lain, alarm mengejutkan yang berbunyi ‘bip’, tampaknya membingungkan aktivitas otak kita saat bangun tidur,” kata Adrian Dyer, rekan penulis, dalam rilisnya.
Dalam jurnalnya, para peneliti mengakui sebenarnya belum menemukan faktor elemental musik yang berkorelasi dengan berkurangnya sleep inertia. Di sisi lain, saya menemukan di sleepstation.org.uk, bahwa sleep inertia berkaitan dengan sedalam apa kita tidur. “Semakin dalam tahap tidur yang terganggu, semakin buruk sleep inertia“.
“Kita tidak tahu pada tahap tidur apa kita berada kala jam alarm tradisional berbunyi (nyaring) dan seberapa parah sleep inertia (yang kita alami) saat bangun tergantung pada tahap tidur saat kita bangun,” terang sleepstation.co.uk.
Alarm keras, Iya sih, buat mudah terbangun. Namun, alih-alih segar, bisa jadi ‘nyawa’ kita tertinggal sebagian. Kata McFarlane (penulis utama riset), ketika kita bangun seketika, ibarat atlet tidak pemanasan. “Bayangkan skenario di mana seorang atlet akan tampil lebih baik saat mereka melakukan pemanasan,” kata Stuart McFarlane. “Melody mungkin ‘menghangatkan otak kita’ lebih efektif untuk aktivitas hari itu daripada (bangun seketika) karena terkejut.”

Contoh Lagu Untuk Alarm

Dalam studi, penulis juga menyertakan rekomendasi dua lagu yang mereka yakini akan menjadi lagu bangun tidur yang baik: “Good Vibrations” dari The Beach Boys dan “Close to Me” oleh The Cure. “Lagu yang saya coba saat ini adalah ‘Borderline’ oleh Madonna,” kata McFarlane. Ia menambahkan, faktor lain, termasuk selera musik pribadi orang, juga dapat memengaruhi seberapa efektif lagu alarm.
“Jika kita memahami lebih dalam korelasi suara dan keadaan terjaga, ada potensi untuk diaplikasikan dalam banyak bidang, terutama berkaitan dengan teknologi tidur dan kecerdasan buatan,” kata Associate Professor Adrian Dyer yang berbasis di School of Media and Communication and Digital Ethnography Research Centre.

Alarm Alami (Tambahan)

Prinsipnya, mengutip verywellhealth, kebutuhan tidur tiap orang berbeda. Kalau butuhnya 8 jam, ya dia akan tertidur delapan jam secara otomatis (bila sirkadiannya berfungsi dengan baik). Artinya, kalau kurang dari itu, tubuh akan menagih sisanya. Namun, kalau sudah cukup, akan bangun secara otomatis
Namun, di sisi lain, memang juga punya tuntutan aktifitas yang berbeda beda. Ada kalanya harus bergadang, akhirnya, tidur terlambat. Misal kebutuhan tidur kita 8 jam, tapi tidur jam 12 malam. Sedangkan, jam 9 pagi, harus sudah di kantor. Pada tahap inilah, kita membutuhkan alarm.
Namun, ada kabar gembira, ‘alarm alami’ itu bisa diperbaiki. Caranya, Wargi harus membangun kebiasaan (habbit) tidur Wargi. Tidur di waktu yang sama. Kemudian, dapat dibantu dengan berjemur di pagi hari.


Artikel ini telah direview oleh dr. M. Ifham Hanif

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like