Cerita horor itu menakutkan namun bagi sebagian orang menyenangkan. Gambar: unsplash.com/@vogelina

Mengapa Orang Suka Cerita Horor?

1 Shares
0
0
1
sapopoé – Sundel Bolong, Balas Dendam Nyi Blorong, Misteri Buaya Putih, Pocong vs Kuntil Anak, KKN di Desa Penari ialah jajaran film horor yang menurut saya, nampaknya Wargi kenal. Seiring berkembangnya teknologi digital, kini kita dapat lebih mudah menemukan cerita-cerita horor. Wargi mungkin familiar dengan “Do You See What I See”, “Podcast Bagi Horror”, dan “Malam Kliwon”, tiga jagoan cerita streaming horror asal Indonesia yang direkrut Spotify sebagai mitra konten ekslusif.
Apapun medianya, cerita horor selalu menemukan penggemarnya. Ceritanya membuat penasaran, kejutannya membuat pemirsanya berdekapan. Horor, menurut KBBI sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Dalam konteks karya, horor merupakan salah satu genre yang biasanya menampikan sosok mengerikan. Di Indonesia, identik dengan hantu atau makhluk tak kasat mata.
Namun, ketika Wargi melihat cerita horor dari Barat, Wargi dapat menemukan genre horor yang lebih beragam. Menurut penulis cerita horor kenamaan, Stephen King setidaknya ada 3 jenis cerita menakutkan: “The Gross-out: pemandangan kepala yang terpenggal jatuh dari tangga, saat lampu padam dan sesuatu yang hijau dan berlendir memercik ke lengan Anda.
The Horror“: yang tidak wajar, laba-laba seukuran beruang, orang mati bangun dan berjalan-jalan, saat itulah lampu padam dan sesuatu dengan cakar meraih lengan Anda. Yang terakhir dan yang lebih buruk: “Teror“, ketika Anda pulang dan melihat semua yang Anda miliki telah diambil dan diganti dengan pengganti yang tepat. Saat lampu padam dan Anda merasakan sesuatu di belakang Anda, Anda mendengarnya, Anda merasakan napasnya di telinga Anda, tetapi ketika Anda berbalik, tidak ada apa-apa di sana…”
Saya sendiri bukan penggemar film horor. Namun, saya tertarik dengan fakta bahwa cerita horor itu menakutkan, namun sebagian orang begitu menggemarinya. Mengapa cerita horor bisa menyenangkan? Mari kita coba mengupasnya dari perspektif ilmu pengetahuan.

Faktor Psikologis

Ketakutan Merupakan “High Arrousal
“Ketakutan itu negatif, namun sama-sama berada pada kategori ‘high arrousal‘ (sebagaimana excitement atau gembira),” kata Jurnalis Sains, Jeff Wise dalam bukunya, “Extreme Fear: The Science of Your Mind in Danger“. Ia mengistilahkan respons ini sebagai “the biological equivalent of opening the throttle.” Satu sisi ketakutan itu negatif, namun ketakutan juga bisa berarti ‘gairah yang tinggi’, dan itu baik.  Sebagaimana yang dirangkum oleh Washington Post.
Sumber: quora.com
“Arrousal” – secara bahasa berarti gairah -menggambarkan tingkat kegembiraan yang ditimbulkan oleh berbagai emosi. Kemarahan dan kegembiraan cenderung merupakan tingkat gairah yang tinggi, sedangkan kesedihan dan refleksi memiliki tingkat gairah yang rendah. Faktor lainnya, ada “Domminance” yang berkaitan dengan perasaan di dalam atau di luar kendali. Rasa takut memiliki dominasi yang rendah, sedangkan kemarahan dianggap memiliki dominasi yang tinggi. Kombinasi dua faktor ini jugalah yang dapat menjelaskan mengapa konten negatif mudah viral.
Kembali ke cerita horor. Faktor berikutnya yang membuat cerita menyenangkan.
Tempat Yang Aman
Kemudian, meski cerita horor membuat kita ketakutan, biasanya kita mendengarkan atau menyaksikan cerita horor di tempat yang nyaman, sendiri atau bersama-sama. “Ketika kita berada di tempat yang aman, kita dapat menafsirkan respons ancaman itu sebagaimana kita melakukan high arrousal yang sepadan, seperti kegembiraan atau kebahagiaan,” kata Margee Kerr, sosiolog dan penulis spesialis soal ketakutan.
Margee melanjutkan, respon tersebut terpicu oleh faktor kejutan. Sebagaimana kita ketahui, cerita horor penuh dengan plot kejutan. Kerap kali kita menemukan dalam uraian pencerita menggunakan kata “tiba-tiba …”, kemudian diiringi dengan munculnya sosok hantu. Namun, ketika itu kita sadar, kita berada di tempat yang aman. Kita hanya perlu kurang dari satu detik untuk menyadari, kita sebenarnya aman-aman saja. “Boongan kok..“. Seketika itu, kita beralih ke menikmatinya.
“Ini semacam euforia,” terang Margee. “Itu sebabnya Anda melihat orang-orang berubah dari teriakan menjadi tawa.”
Pengalih Perhatian
Kerr juga berpendapat jika kita juga ‘menikmati’ ketakutan sebagai pengalih perhatian. Memanggil respons “fight-or-flight” kita, menyalakan pemikiran sadar kita. “Kami tidak khawatir tentang bahan makanan atau hal-hal abstrak, tetapi sebaliknya merasa sangat membumi dan mendasar,” katanya.
“Sense of Achievment
Kemudian, menurut Kerr, pengalaman menonton film sensasinya seperti menaklukan tantangan atau “sense of achievment“. “Seperti tantangan pribadi, berlari 5K atau memanjat pohon, kita mendorong [diri kita sendiri] untuk menaklukannya,” kata Kerr.
Meningkatkan “Social Bonding
Kemudian yang terakhir, Kerr menilai, menonton film horor  dapat meningkatkan kualitas Ikatan sosial. “Ketika sekelompok orang merasa takut, gairah yang tinggi memicu pembentukan memori yang sangat kuat,” terang Kerr. “Intensitas bersama juga dapat menimbulkan kesan seolah-olah Anda semua telah menyelesaikan sesuatu sebagai satu kelompok — bahkan jika semua yang telah Anda capai adalah ialah dengan membayar 20 dolar untuk dikejar-kejar di labirin jagung (atau menonton film yang menakutkan).”
Faktor terakhir ini juga dapat menjelaskan, mengapa pasangan Wargi senang dengan film horor. Ternyata modus yang ilmiah. Dengan menonton film horor bersama, pasangan Wargi ketakutan, kemudian memegang erat tangan, bahkan memeluknya. Meski kita tahu kenyatannya, sang laki-laki penuh kekurangan, namun, ketika harus ‘muncul hantu’ menakutkan, ia nampak menjadi pelindung terhebat bagi sang perempuan. Ironisnya, kata lie Ruby (penulis The Language of Trees) – dalam kolomnya kepada CNN-, cerita hantu membawa kita pada perjalanan teror yang pada akhirnya membuat kita merasa lebih aman dan tidak terlalu kesepian daripada yang pernah kita rasakan sebelumnya.

Tidak Semua Senang

Nyatanya tidak semua orang suka dengan horor. Penelitian baru dari David Zald menunjukkan, respons kimiawi orang berbeda-beda terhadap situasi yang mendebarkan. Salah satu hormon utama yang dilepaskan selama aktivitas menakutkan dan mendebarkan adalah dopamin.
Namun, beberapa orang justru “terpukul” oleh respon dopamin ini. Pada dasarnya, otak beberapa orang kekurangan, apa yang Zald isitlahkan sebagai “rem” pada pelepasan dan pengambilan kembali dopamin di otak. Ini berarti beberapa orang akan benar-benar menikmati situasi yang mendebarkan, menakutkan, dan berisiko sementara yang lain, tidak.

“Tak Ada Suara, Cerita Horor Kehilangan 90% Powernya”

Saya juga berpikir, barangkali ada sejumlah efek yang berbeda berdasarkan media yang kita gunakan untuk memperoleh cerita horor. Ada dua pendapat yang saya temukan, ada yang mengatakan jika efek dari media berpengaruh. Sementara, ilmuan lainnya mengatakan, jika efek cerita horor dari media apapun, tidak ada perbedaan tingkat ketakutan yang signifikan.
Yang pertama, menurut profesor Universitas Harvard dan penulis “The Zombie Autopsies: Secret Notebooks from the Apocalypse”, Dr. Steven Schlozman yang mengatakan berbeda.  Efek berbeda itu didasarkan pada perbedaan pada level neurologis. Beberapa orang tidak tahan melihat gambar mendalam dan ketakutan melompat dalam film atau video game, sementara yang lain lebih suka pengalaman mengarang “film” di kepala mereka saat mereka membaca buku.
Sementara Andrew Tudor (Profesor emeritus di University of York, dan penulis “Monsters and Mad Scientists: A Cultural History of the Horror Movie”), memberi tahu Bustle, tidak ada perbedaan efek takut yang signifikan, meski “ada perbedaan materi antara membaca dan menonton”. Terutama dalam kasus membaca novel dan melihat adaptasi novel itu.”Yang berbeda adalah apa yang ditawarkan fiksi horor — sebagai genre yang mencakup film, televisi, dan karya cetak — kepada orang-orang yang menikmatinya.”
Kemudian, yang tak boleh ketinggalan ialah cerita horor dalam bentuk podcast. Mirip dengan radio yang hanya mengandalkan audio, kini juga mendapatkan perhatian tersendiri, terutama bagi generasi millenial dan Z. Saya belum menemukan penelitian yang membandingkan efek cerita dalam bentuk podcast dengan film atau novel. Namun, podcaster cerita horor “We’re Alive” Kc Wayland mengatakan pada Wicked jika pengaaruh audio pada pengalaman audien mendengarkan cerita hantu signifikan.
“Jika Anda menonton film horor dan Anda mengecilkan suaranya, (film) itu akan kehilangan 90 persen kekuatannya,” katanya. “Karena apa yang kamu lihat itu tidak menakutkan, justru yang tidak kamu lihatlah yang menakutkan.”
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like