Ilustrasi karya seni yang kini dapat seharga Miliaran dengan menggunakan teknologi NFT. Gambar: unsplash.com/@flyd2069

Berbentuk NFT, “Screenshoot” Sebuah Tweet Kok Bisa Laku 41 Miliar?

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Maret 2021 lalu media massa ramai-ramai mempublikasikan terjualnya Tweet pertama founder Twitter Jack Dorsey yang laku Rp 41 Miliar. Pembelinya CEO Brdige Oracle, Sina Estavi. Estavi beralasan, memiliki tweet tersebut sama dengan memiliki lukisan Monalisa. Namun, yang menarik, meski “screenshoot” itu kini milik Estavi, namun, kita dapat menemukan “screenshoot” tersebut dengan mudah di jagad internet. Berbagai keterangan menyebutkan, Dorsey menjualnya dalam bentuk NFT.
Sebenarnya, apa itu NFT? Mengapa NFT bisa terjual seharga 7 Lamborghini Aventador? Apa istimewanya?
Sebelum kita membahasnya, ada jumlah pendapatan yang lebih besar daripada yang diperoleh Dorsey dari satu tweetnya. Ialah Beeple – seorang seniman- yang berhasil mengumpulkan $69 Juta (sekitar Rp 1 Triliun) dengan menjual karya seninya dalam bentuk NFT. Karena pencapaiannya tersebut, BBC.com menginformasikan jika Rumah lelang Inggris Christie’s, menempatkan Beeple sebagai satu “di antara tiga seniman paling berharga yang masih hidup.”
Tentu masih ada kisah kesuksesan lainnya. Namun, saya akan membahasnya di artikel lain. Apakah ada orang Indonesia? Tentu ada. Sekarang, mari kita mulai bahasannya.

Apa itu NFT dan Bagaimana Cara Kerjanya?

NFT, singkatnya (berdasarkan apa yang saya pahami) ialah semacam sertifikat kepemilikan atau tanda tangan pembuat benda-benda digital. Bisa berupa foto, video, musik, dan yang populer ialah karya seni. NFT secara teknis merupakan seperangkat kode unik. Setiap (seperangkat) kode NFT tersebut tersimpan di jejaring ribuan hingga jutaan komputer di berbagai belahan dunia; Blockchain. Jutaan komputer tersebut melegitimasi kepemilikan seseorang atas satu NFT.
Penulis The Verge – dalam artikel yang juga membahas NFT – mengartikan “Non-Fungible” sebagai “Unik dan tidak bisa digantikan oleh sesuatu lainnya”. Mirip dengan sidik jari, yang umunya diketahui, satu-sama lainnya tidak ada yang sama. Namun, secara bahasa, “Non-Fungible” sendiri artinya tidak sepadan. Secara teknis, pendefinisian ini menjelaskan perbedaan “kedudukan” NFT dengan Cryptocurrrency yang sama-sama mendapatkan legitimasinya dari Blockchain. Singkatnya, Crypto itu mata uang, sedangkan NFT ialah asetnya.
Mengutip The Atlantic, “NFT” diciptakan oleh seorang seniman yang jago coding Kevin McCoy pada Mei 2014. McCoy dan istrinya, Jennifer memang kerap berkolaborasi membuat karya seni digital. Karya-karya McCoy sering kali ditemukan di-reblog oleh para pengguna Tumblr. Dari fenomena tersebut, Kevin mendapatkan insight soal potensi blockchain untuk melindungi karya seni para seniman.
McCoy dan penulis artikel Anil Dash (CEO of Glitch) kemudian coba mewujudkanya. Namun, dengan nama yang “ironik”; “Monetized Graphics“. McCoy menggunakan blockchain Namecoin untuk meregistrasikan video clip karya Jennifer dan kemudian dibeli oleh Dash seharga $4. Sayangnya, ide dasar NFT tersebut tidak mereka patenkan. McCoy sendiri sempat berupaya mempopulerkannya, namun menghasilkan hanya kesuksesan kecil.
Berkaca dari sejarah, tak heran jika NFT lebih banyak digunakan untuk meregistrasikan karya-karya seni. Dengan NFT, karya-karya indah hasil memeras otak para seniman dapat seberharga “Lukisan Monalisa” karena terbatas dan langka.
Yang Tersebar itu Hanya COPY, Bukan Yang Asli

Kalau memang langka, kok kita masih bisa mendapati “screenshoot” tweet pertama Dorsey? Pertanyaan ini juga yang membuat saya pusing 🤑. Kita masih bisa mendapati dan mendapatkan karya-karya seni digital, termasuk karya seni Beeple yang beredar menjadi gambar ilustrasi pada berbagai artikel soal NFT.

Prinsipnya, ketika gambar tersebut sudah tersertifikasi NFT, bisa dipastikan, semua yang Wargi temukan di berbagai media itu COPY-nya saja. Yang asli, tetap milik pemegang NFT. Artinya, dengan NFT, tidak ada seorangpun yang dapat mengklaim tweet pertama Dorsey miliknya, kecuali Estavi.

NFT, mengutip The Verge, didesain untuk memberi kita sesuatu yang tidak bisa di-copy: hak kepemilikannya (meski sang artis tetap memiliki COPYRIGHT untuk me-reproduksinya sebagaimana karya seni lukis). Sebagai perbandingan, kita bisa saja memiliki atau membeli kaos dengan gambar Monalisa, namun, tetap hanya pemerintah Prancis.

Kok Bisa Miliaran?

Tentu tak semua karya harganya MIliaran. Namun, jika dijual dalam mata uang Crypto Ethereum, tentu minimal harganya bisa belasan hingga puluhan juta karena satu Ethereum setara dengan ribuan Dollar Amerika saat ini. Pertanyaannya, kok bisa? ada dua teori yang saya temukan untuk menjelaskannya, plus rumusan ilmiahnya. Pertama, bahwa NFT sebagai fenomena ‘Buble’. Kedua, NFT hanya untuk kalangan terbatas.
Faktor “Buble”
Sebagaimana yang co-Founder Coinbase (platform penukaran uang-dengan cryptocurrency), Fred Ehrsam katakan, 90 persen NFT tidak akan memiliki nilai pada 3-5 tahun mendatang. Sebagaimana yang terungkap dalam wawancara dengan Bloomberg TV, ia mengatakan jika tidak ada bedanya antara NFTs dengan proyek crypto yang lahir dari “hype overnight”.
“Orang-orang mencoba segala macam hal. Akan ada jutaan dan jutaan mata uang kripto dan aset kripto, sama seperti ada jutaan dan jutaan situs web. Kebanyakan dari mereka tidak akan berhasil,”
– Erhsam.
Dari teori ini, kita dapat penjelasan jika harga NFT bisa bermiliar-miliar karena faktor tren atau HYPE. Mirip dengan batu akik atau tanaman hias janda bolong. Harganya mahal ketika ramai-ramai orang membincangkannya dalam berbagai forum. Kemudian, seketika “kembali” ke harga sebenarnya, saat sepi orang membicarakannya.
Segmen Kecil
Kemudian, yang kedua, sebagaimana yang ditulis dalam salahs atu artikel Trustwallet, “NFT tidak menyasar kebutuhan masyarakat umum, melainkan mereka yang tergabung dalam komunitas kecil yang passionate“. Contohnya, Fans NBA, komunitas Etherium – dapat terlihat dari CryptoKitties atau CryptoPunks.
Selanjutnya, para pembeli NFT ini membeli dengan niatan untuk menjualnya pada waktu yang akan datang (sebagai investasi), namun sebagian juga menjadikannya sebagai koleksi -sebagai kebanggaan. Estavi ialah tipe pertama yang mengatakan, “Ini merupakan bagian dari sejarah manusia dalam bentuk aset digital,” sebagaimana dikutip BBC. “Siapa yang tahu harga dari tweet pertama dalam sejarah (ini) dalam kurun waktu 50 tahun dari sekarang.”
Rumusan Ilmiah
Tentu bukan berarti “mentang-mentang sedang musim”, tweet pertama saya akan laku terjual seharga Rp 41 Miliar. Berkaca dari cerita Benyamin Ahmed (12 tahun) yang berhasil menjual koleksi ikon NFT-nya yang berjudul “Weird Whales”. Ada faktor langka dan unik di 1.205 koleksa karya tersebut. Kemudian, Ahmad tidak sendiri. Ia dibantu oleh beberapa jaringan cerdas dan tim Boring Bananas (Proyek NFT sejenis) hingga Weird Whales viral.

Menurut Hugo Chang (Kandidat MBA di Columbia Business School), dalam salah satu artikelnya, rumusan nilai NFT dapat dijelaskan dengan rumusan

Value of an NFT = Utility + Ownership History + Future Value + Liquidity Premium

Ia kemudian merunut satu persatu variabel penentu nilai NFT tersebut.

Utility
yang tergantung dari potensi penggunaan NFT. Misal, menggunakan NFT pada aplikasi lain. Ia memberi contoh, kapal perang Crypto Space Commander yang langka dan kuat dijual seharga $45.250 pada tahun 2019, dan nilai tiket NFT adalah harga tiket acara.
“History kepemilikan”

atau cerita di balik satu karya ber-NFT. Misalnya, Tweet pertama Jack Dorsey. Ada dua nilai yang bisa kita dapati di sana, pertama tweet pertama dari miliaran Tweet sekarang. Kedua, tweet tersebut milik dari Founder yang juga merupakan salah satu orang berpengaruh di dunia teknologi.

Future Value

Variabel ini tergantung pada perubahan valuasi dan cashflow di masa depan. Nilai valuasi dipengaruhi oleh spekulasi dan nilai valuasi ini juga akan berpengaruh pada apresiasi harga. Studi kasusnya harga CryptoKitty #18 yang melonjak dari 9ETH menjadi 253ETH hanya dalam tiga hari di bulan Desember 2017. Beberapa orang mungkin berpendapat, pergerakan harga didorong oleh penilaian negatif terhadap NFT, tetapi spekulasi adalah sifat manusia dan merupakan bagian yang tidak sepele dari sistem keuangan saat ini. Jika keseimbangan yang tepat dibuat, pengembang dapat meningkatkan nilai NFT dan menarik pengguna baru.

Liquidity Premium

NFT standar ERC dapat diperdagangkan dengan mudah tanpa gesekan di pasar sekunder dengan siapa pun yang memegang ETH, yang kemudian meningkatkan jumlah pembeli potensial. Investor lebih memilih untuk berinvestasi dalam kategori NFT yang memiliki volume perdagangan tinggi karena likuiditas menurunkan risiko memegang NFT.

Berikut contoh analisa nilai satu NFT dengan framework “NFT value”

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like