Ospek pada siswa baru meski daring, nyatanya tetap berpotensi menjadi ajang perundungan, perundungan siber/ cyberbullying. Gambar: unsplash.com/@kellysikkema

Perlunya Orang Tua Siswa Memahami Perundungan Siber

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Kemendikbud, berdasarkan data 2019, menemukan jika 41 persen peserta didik melaporkan alami perundungan dalam berbabgai jenis. Terlebih di masa pandemi covid-19, di mana belajar dilakukan secara jarak jauh. Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek Sri Wahyuningsih mengatakan, potensi perundungan terjadi dalam bentuk lain yang tidak dapat langsung dikontrol oleh guru.
“Interaksi antarpeserta didik dilakukan secara daring dan kemudahan akses terhadap sosial media yang tidak mudah dikontrol, sangat berpotensi meningkatkan perundungan (cyber bullying),” urai Direktur Sekolah Dasar seperti dikutip dari Direktorat Pendidikan Sekolah Dasar Kemendikbud, pada 5 Mei 2021.
Hal tersebut sesuai dengan UNICEF yang mengatakan jika resiko perundungan siber semakin besar di masa pandemi covid -19. Interaksi digital yang lebih intens ialah pintu masuknya. Belajar daring, satu sisi solusi, namun jika kita tidak waspadai, ada potensi efek negatif dalam interaksi daring jika bapak-ibu tidak awasi.
“Risikonya (perundungan daring) menjadi semakin besar. Walaupun kita juga bisa melihat ada kesempatan-kesempatan yang bisa kita raih dan kita capai, termasuk untuk melindungi anak dari perundungan online,” kata Ali dalam diskusi daring bertajuk “Ancaman Cyber Bullying”, pada Novermber tahun 2020.
Ali mengidentifikasi ada beberapa bentuk perundungan siber yang mungkin dialami oleh anak, antara lain menyebarkan foto dan menjelek-jelekannya di media sosial. Juga, menyerang atau stalking akun media sosial milik anak Anda. Apabila berulang, baik oleh seseorang atau berkelompok, inilah perundungan siber.

Perundungan siber lebih disukai

Bagi bapak-ibu yang membiarkan anaknya memiliki akun sosial media, alangkah baiknya jika Anda menanyakan apa saja yang Anak Anda sudah alami selama memiliki akun. Jika Anak Anda memiliki akun Instagram, Anda harus lebih waspada karena Instagram, menurut Ditch The Label, merupakan media sosial yang memicu perundungan siber.
Dari 10.020 asal Inggris, dengan rentang usia 12-20 tahun 42 persennya mengaku pernah menjadi korban perundundungan siber di Instagram. Kemudian ada Facebook dan Snapchat dengan 37 persen dan 31 persen. Sementara WhatsApp 12 persen, YouTube 10 persen, kemudian twitter 9 persen.
Lewat media digital, bahkan orang lebih cenderung melakukannya karena beberapa karakter yang dimilikinya. Mengutip salahs atu blog norton.com, setidaknya ada lima karakter yang membuat orang lebih ‘termotivasi’ melakukan perundungan daring.
Pertama, anonim; peniat (pelaku) perundungan merasa lebih aman karena dapat bersembunyi di balik identitas daringnya. Kedua, efeknya tidak terlalu jelas; pelaku perundungan merasa aman karena mereka tidak mendapatkan reaksi atau respon secara langsung yang membuat mereka berpikir, resikonya tidak terlalu berat.
Ketiga, susah ketemu; tidak seperti perundungan yang dilakukan di sekolah, di mana guru dapat menindaknya secara langsung atau orang tua yang dapat melihatnya secara langsung atau seketika, “bukti” perundungan siber bisa saja tidak langsung terlihat. Apalagi jika korban tidak mau melaporkannya.
Keempat, konsep balas dendam; karena ketida faktor di atas, bisa saja yang melakukan perundungan ialah korban perundungan di dunia nyata. Ia menyalurkan “hasrat terpendamnya” melalui media sosial. Terakhir, merasa didukung banyak orang; karena lucu, kemudian di-like temannya, diapresiasi lewat kolom komentar, membuat pelaku perundungan memiliki kekuatan hingga terdorong terus melakukannya.

Dampak perundungan siber pada korban

Mengutip verywellfamily, tipe perundungan dapat berefek pada fisik maupun psikologis pada diri anak. Kecemasan, ketakutan, depresi, rendah diri, perilaku negatif, hingga permasalahan akademik hanyalah beberapa di antaranya. Berbeda dengan perundungan offline (di dunia nyata), perundungan daring dapat terjadi kapan saja dan dapat dilakukan secara anonim, belum lagi jika viral.
“(Karakter ini) Membuat perundungan siber lebih susah dihentikan, lebih sering, dan lebih kejam,” ungkap penulis.
Penelitian menunjukkan jika gambar yang tersebar secara daring dapat lebih merusak daripada penghinaan dengan text atau panggilan ponsel. Belum lagi, yang juga perlu diperhatikan ialah ketika korban menyembunyikan perundungan yang ia alami. Dapat terjadi manakala pesan perundungan disampaikan melalui pesan pribadi, misal chat Direct Message.
Lebih jauh, verywellfamily merangkum dampak negatif perundungan siber pada beberapa aspek psikologis dan fisik anak; emosional, mental, behavioral, dan fisik. Secara emosional, anak korban perundungan akan merasa malu, sakit hati, merasa tidak berdaya, dan bahkan merasa terancam atau ketakutan.
Pada aspek mental, akan timbul depresi dan kecemasan. Paling jauh, dapat mendorong korban berpikir mengakhiri hidupnya. Kemudian, pada aspek perilaku, ayah-ibu mungkin ingat kisah anak di Amerika yang membunuh teman-temannya dengan senjata api serbu. Penyebabnya, perundungan.
Efek-efek psikologis ini juga bisa mendorong sakit lebih lanjut dalam bentuk fisik. Mulai dari gangguan penceranaan, gangguan ketika makan; tidak berselera, tertutama mereka yang menjadi objek karena bentuk tubuhnya. Terakhir gangguan tidur seperti insomnia, “tidur melulu”, atau mimpi buruk.

Pesan bagi orang tua dari kami

Banyak penelitian menunjukkan, jika dorongan melakukan perundungan muncul dari lingkungan keluarga, diri sendiri, maupun lingkungan. Di sisi lain, juga aspek lingkungan digital yang diatur oleh pemilik platform, kemudian perlindungan sosial, juga diri sendiri.
Bagi orang tua yang anaknya masih berusia di bawah 13 tahun, sesuai aturan di komunitas media sosial, hendaknya tidak mengizinkan anak memiliki akun. Pihak penyelenggara media sosial juga sebenarnya, memiliki aturan, namun penegakkan aturan itu diserahkan pada kita selaku anggota komunitas. Untuk itu, patut ayah-ibu perhatikan dan lebih baik jika turut aktif dalam menjaga.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like