Mentang-mentang tidak kenal, mentang-mentang lewat media, peniat perundungan merasa aman, padahal sama saja, bisa sama-sama menyakitkan. Gambar: unsplash.com/@mpbasham

Mengenal Perundungan Siber (Cyberbullying)

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Men-tag-ing seseorang, menyebarkan rumor yang belum jelas tentang seseorang, mengirimkan foto yang tidak dikehendaki, ialah beberapa bentuk dari perundungan siber atau cyberbullying. Akibatnya, korban bisa depresi, timbul perasaan rendah diri, dan kehilangan privasi. Lebih mengejutkan karena pelakunya bisa mulai dari anak usia SD.
Cyberbullying merupakan salah satu bentuk konsekuensi dari ketimpangan derasnya pertumbuhan teknologi dengan literasi digital. Seorang pelaku bisa jadi justru objek perundungan di dunia nyata, namun karena ia bersembunyi di balik layar ponsel, ia merasa aman dan menularkan perilaku tak etis pada (akun) seseorang di media sosial.
Hasil riset Pewresearch menunjukkan jika 59% remaja di Amerika Serikat pernah mengalami perundungan atau penghinaan siber (cyberbulyying). Sementara texting (chatting) merupakan sarana utama untuk mmembina hubungan (relationship), namun, di sisi lain, juga malah menjadi sarana pertukaran pesan yang tak diinginkan. seperempat remaja di Amerika mengaku pernah mendapatkan kiriman gambar yang tak mereka inginkan, seperti gambar tak senonoh.
Riset menunjukkan, laki-laki maupun perempuan sama-sama berpotensi mengalami perundungan siber. Namun, perempuan lebih banyak mengalami digosipkan dan mendapatkan gambar-gambar yang tak mereka inginkan. Pada tahun lalu, di Indonesia santer tersebar perundungan terhadap selebriti, pertama anak angkat Ruben Onsu, Betrand Peto, kemudian Aurel Hermansyah. Yang (mungkin) mengejutkan pelaku masih anak-anak.

Apa itu perundungan siber (cyberbullying)

Mengutip Merriam-Webster, cyberbullying (perundungan siber) merupakan postingan elektronik berupa pesan dengan maksud menghina seseorang yang seringkali dilakukan secara anonim. Istilah ini pertama kali muncul pada 1998. Lebih spesifik, mengutip digitalcitizenship.id, “Perundungan daring” merupakan aksi perundungan yang dilakukan individu maupun kelompk (mobbing) melalui saluran teknologi digital, seperti media sosial, aplikasi pesan instan atau ruang obrolan, bahkan game online.
Mengutip cambridge.org, ilmuan mengidentifikasi lima karakter perundungan daring;
  1. Intention
Pelaku perundungan umumnya, memang memiliki niat membahayakan orang lain ketika mereka terlibat dalam perundungan. Namun, perundungan juga bisa etap bisa terjadi tanpa niat jika korban merasa tindakannya merugikan.
  1. Repetition (berulang)
Berulang adalah ciri khas dari perundungan daring. Pemikiran ini mengacu pada tindakan berulang dari pelaku intimidasi. Di sisi lain, kita dapat menemukan fakta, materi yang dibagikan di Internet bisa bertahan lebih lama daripada intimidasi pada dunia nyata, bahkan bisa tersebar. Hal ini terutama berlaku dalam kasus membagikan informasi pribadi atau foto sebagai bentuk perundungan daring.
  1. Power Imbalance
Salah satu ciri khas lain dari perundungan daring ialah, korban biasanya lebih lemah dibandingkan pelaku, terutama jika intimidasi terjadi di forum publik.
  1. Anonim
Pelaku perundungan biasanya menggunakan anonimitas, bersembunyi di balik layar komputer ketika terlibat perundungan. Dalam hal ini, tidak perlu ketidakseimbangan kekuatan dalam hubungan antara pelaku dan korban.
  1. Publicity
Terakhir, melibatkanpublisitas, terutama bagi pelaku yang bertujuan mempermalukan seseorang di depan umum sebagai bentuk intimidasi.

Bentuk perundungan siber

Verywellmind mengidentifikasi ada tujuh bentuk perundungan daring:
  1. Flaming: Penggunaan bahasa yang menghasut mengenai seseorang atau menyiarkan pesan ofensif tentang mereka dengan harapan mendapatkan dukungan publik. Misalnya pemberian julukan pada seseorang, “si tukang makan”, “si tukang ngomel”, dst.
  2. Outing: Membagikan informasi pribadi atau informasi memalukan tentang seseorang di Internet. Jenis perundungan daring ini biasanya dilakukan dalam skala yang lebih besar daripada satu lawan satu atau dalam kelompok yang lebih kecil.
  3. Trolling: Memposting konten atau komentar dengan tujuan membuat orang bereaksi dengan tindakan atau komentar yang mempermalukan dirinya alias “ngomporin”. Dengan kata lain, dapat mengatakan sesuatu yang menghina atau menyinggung tentang seseorang atau kelompok, dengan tujuan untuk membuat orang gusar. Perundung siber jenis ini bertujuan menciptakan kekacauan dan kemudian si pelaku duduk dan menonton apa yang terjadi.
  4. Name calling: Pemanggilan nama melibatkan penggunaan bahasa yang menyinggung untuk merujuk pada seseorang.
  5. False rumor: Alias fitnah. Pelaku mengarang cerita tentang individu dan kemudian menyebarkan kebenaran palsu ini secara daring.
  6. Gamber eksplisit: Contohnya mengirimkan foto tidak senonoh, prinsipnya, tidak disukai oleh pihak yang mendapatkan kiriman dan dikirimkan tanpa persetujuan si penerima.
  7. Stalking: Bermula dari lihat-lihat foto di laman profil, lama-lama mengganggu lewat kolom komentar, DM, bahkan hingga ancaman yang sifatnya fisik.

Penyebab orang melakukan perundungan siber

Mengutip digitalcitizenship.id, setidaknya ada tiga faktor pendorong orang melakukan perundungan siber:
  1. Kurangnya perhatian dari orang-orang sekitar
    Pelaku merasa perlu mencari perhatian dari luar yang tidak didapatkannya dari orang-orang di sekitar. Oleh karena itu, dorongan melakukan aksi perundungan muncul. Perundungan siber dianggap lebih mudah dilakukan dibandingkan verbal atau perundungan di dunia nyata karena pelaku tidak perlu berhubungan secara langsung dengan korban dan dapat dilakukan secara anonim.
  2. Keinginan untuk menjadi superior
    Pelaku berusaha mendapatkan kesenangan dari aksi perundungan karena dirinya menilai mampu bertindak semena-mena terhadap orang lain. Menurut mereka, menjadi superior dan melihat orang lain menderita adalah hal yang menyenangkan.
  3. Dorongan untuk membalas dendam.
    Sebagian pelaku perundungan uga merupakan korban, baik dari kekerasan saudara, korban perundungan teman, pola asuh keluarga yang otoriter, maupun korban pikiran mereka sendiri. Salah satu data dari hasil survei menunjukkan bahwa 14,2% anak yang terlibat perundungan terindikasi memiliki masalah dengan saudaranya. Dengan kata lain, mereka ingin orang lain juga merasakan apa yang ia rasakan dengan cara membalas dendam. Oleh karena itu, pelaku berusaha mencari orang lain yang rentan atau bahkan dapat menargetkan pelaku lainnya.
0 Shares
2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like