Apa yang kita perlukan agar tetap eksis di dunia digital? Kini kita temukan jawabannya; Kecerdasan Digital. Gambar: unsplash.com/@rodlong

IQ, EQ, SQ, kemudian Digital Quotient

0 Shares
0
0
0
sapopoé – “Begitu cepatnya perubahan dunia di sekitar kita, sangat sulit bagi kita mengatakan jika revolusi digital masih pada tahap awalnya,” ujar Mc Kinsey dalam salah satu artikelnya yang dipublikasi pada Juni 2015 lalu. Yang dulu kita katakan khayalan, kini sudah ada di depan mata kita. Jam tangan komunikator, layar sentuh, bahkan tayangan interaktif dengan AR, rasanya sudah begitu akrab dengan kehidupan kita.
Teknologi hadir di tengah-tengah kita dengan kecepatan perkembangan yang sulit dibayangkan. Kehadirannya (teknologi), apakah sudah membantu banyak sisi kehidupan kita atau justru kita yang “dimanfaatkan” oleh (pemilik) teknologi? Teknologi hadir pada dasarnya untuk memudahkan kita memahami dan juga mnyelesaikan masalah, namun benarkah posisinya seperti itu?
Dalam dunia kerja, bukan hanya otot yang akan digantikan oleh robot. Anak muda yang dikenal karena tenaganya, kini harus menyimpan kekuatan ototnya dan berkutat dengan laptop di ruang kontrol. Dalam hal pengambilan gambar dari ketinggian, tak perlu lagi helikopter dengan pilot, juga kameraman dengan kamera ratusan jutanya, cukup dengan drone; “pilot dengan kemampuan fotografi atau videografi”.
Sudah ada begitu banyak contoh alih teknologi yang memakan “korban”. Interaksi kita dengan perubahan teknologi membuat kita perlu mendefinisikan ulang jenis kecerdasan yang perlu dimiliki oleh kita. Tak cukup IQ,EQ, dan SQ yang kita perlukan, namun kita juga perlu Digital Quotient atau (standar) kecerdasan digital. ACCA Global menyebut  DQ atau kecerdasan digital sebagai “Killer Skill” atau skill mematikan yang kita perlukan untuk memenangkan persaingan.
“Kemampuan Anda yang secara konstan meningkatkan kemampuan (menggunakan) teknologi -yakni kecerdasan digital- merupakan kompetensi penting yang akan membuat karir dan profesi Anda tetap berada dalam permainan,” ungkap ACCA Global dalam salah satu artikelnya.

Apa itu Digital Quotient (DQ)?

DQ atau Kecerdasan Digital, menurut DQ Institiute, ialah kumpulan dari kemampuan sosial, emosional, dan kognitif yang memnungkikan individu menghadapi tantangan dan beradaptasi dengan tuntutan kehidupan di dunia digital. Jenis kecerdasan ini lahir di tengah interaksi manusia dengan Teknologi Informasi. Hadirnya jenis kecerdasan ini kemungkinan akan memperluas ruang lingkup dunia pendidikan di segala aspek dan skala kehidupan, mulai dari kehdipan pribadi hingga profesional.
Kecerdasan ini, menurut Professor of Educational Leadership, Nan B. Adams mengacu pada jenis kecerdasan baru yang menjelaskan kapasitas manusia menggabungkan pengetahuan, cara mengetahui, dan kemampuan berinteraksi secara efektif dalam ruang lingkup budaya atau komunitas. DQ Institiute membagi KD menjadi tiga level, delapan area, dan 24 kompetensi yang melingkupi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
Tipe-tipe kecerdasan digital. Sumber: dqinstitute.org
KD, menurut DQ Institute, tidak hanya mengacu pada keterampilan yang dibutuhkan agar dapat menggunakan teknologi lebih efektif atau menyadari potensi bahaya bagi anak-anak yang terus-menerus daring (online). DQ Institute menjelaskan KD mencakup semua bidang keidupan digital individu yang melingkupi identitas pribadi dan sosial individu hingga penggunaan teknologi, baik kemampuan praktis, operasional, teknis dalam kehidupan digital sehari-hari. Termasuk di dalamnya potensi bahaya pada keselamatan dan keamanan.
Dengan pendekatan teori multiple intellegence-nya Gardner, KD dapat didekonstruksi lebih lanjut menjadi delapan bidang utama, yakni identitas digital, hak digital, literasi digital, penggunaan digital, komunikasi digital, digital safety, kecerdasan emosional digital, dan digital security. Kedelapan bidang tersebut juga dibangun berdasarkan prinsip moral Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang juga ada delapan; menghormati diri sendiri, menghrmati waktu dan lingkungan, menghormati kehidupan, menghormati properti, menghormati orang lain, menghormati reputasi dan hubungan, serta menghormati pengatahuan dan hak.
Dalam delapan bidang ini, ada tiga tingkat
  • Level 1: Kewarganegaraan Digital: kemampuan menggunakan teknologi digital dengan cara yang aman, bertanggung jawab, dan etis.
  • Level 2: Kreatifitas Digital: Kemampuan menjadi bagian ekosistem digital dan menciptakan pengetahuan, teknologi, dan konten baru; mengubah ide menjadi kenyataan.
  • Level 3: Daya Saing Digital: kemampuan memecahkan tantangan global, dan menciptakan peluang baru dalam ekonomi digital dengan kewirausahaan, membuka lapangan kerja, menumbuhkan, serta memberi dampak.
Lebih jauh, dalam konteks kewarganegaraan digital, terdapat delapan komeptensi kewarganegaraan digital, terutama bagi anak-anak: identitas warga digital, manajemen screentime, manajemen cyberbullying, empati digital, manajemen privasi, berpikir kritis, dan manajemen cyber security. DQ Institute mendorong pelajar muda memiliki komptensi ini yang berakar pada nilai-nilai moral universal sehingga dapat menjadi warga digital yang baik. Selain itu, membantu mereka membuat pilihan berdasarkan informasi dan dapat berselancar di dunia digital dengan aman.

DQ Institute

Kerangka Kecerdasan Digital ini dikembangkan oleh DQ Institute dan disepakati oleh OECD Education 2030 dan IEEE Standards Association sebagai acuan penyelerasan secara global pada September 2018. Namun, sejauh ini, baru tes tingkat kewarganegaraan yang dikenal sebagai DQWorld.net yang sudah dikembangkan.
Kerangka pemikiran DQ/ KD pertama kali dicetuskan pada 2016 oleh Dr. Yuhyun Park. Penyusunannya dilakukan melalui proses akademis yang ketat oleh tim peneliti yang berbasis di berbagai universitas, termasuk Universitas Teknologi Nanyang, Institut Pendidikan Nasjinal Singapura, Universitas Negeri Iowa dan lainnya. Konsep dan strukturnya kemudian diterbitkan oleh World Economic Forum pada 2016. Sejak saat itulah kerangka kerja DG/ KD digunakan oleh banyak organisasi, termasuk industri.
Dr. Yuhyun Park menerangkan, standar global Kecerdasan Digital dibuat dalam rangka memastika setiap orang di seluruh dunia, mulai dari kalangan anak-anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di era digital. IEEE SA menambahkan, standar global ini agar kita dapat menetapkan indikator umum sehingga dapat memahami dengan lebih komprehensif dan kolektif terkait tantangan yang kita hadapi. Dengan begitu, kita tahu ke mana upaya peningkatan keterampilan harus diarahkan.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like