Informasi yang salah bisa menyesatkan. Namun, tidak semua informasi salah itu hoax. Dengan media sosial, “siapapun” bia menjadi apapun dan siapapun dengan berlindung di balik layar. Gambar: unsplash.com/@dslr_newb

Tak Semua “Informasi Salah” Hoax

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Di tengah masa merebaknya virus covid-19, merebak pula misinformasi di tangah-tengah masyarakat dunia. Efek dari misinformasi yang dianggap turut membahayakan masyarakat ini kemudian melahirkan terminologi baru, infodemic. Istilah tersebut kemudian dapat kita kenal berkat twit dari Sekjen PBB pada 28 Maret 2020.
Persebaran informasi yang begitu membanjir dan deras, terdukung dengan kemudahan akses, membuat kita terjebak pada pusaran informasi yang tak putus-putus. Ditambah dengan kehadiran media sosial, di mana kita bukan saja dapat memperoleh informasi, melainkan juga dapat menyebarkannya sekaligus. Derasnya pusaran membuat kita kini sulit membedakan mana informasi yang berkualitas dan tak layak. Jangankan masyarakat awam, para ahli saja kadang bisa terkecoh.
Di sisi lain, pusaran tersebut juga melahirkan fenomena sosial digital seputar informasi dan melahirkan berbagai terminologi baru. Di antaranya, misinformasi, disinformasi, dan hoax. Memang seluruh dunia memperhatikan fenomena ini karena dampaknya yang tidak sederhana. Salah satu yang cukup menjadi perhatian ialah, terjadinya polarisasi yang tajam di tengah-tengah masyarakat.

Perbedaan Misinformasi, Disinformasi, dan Hoax

Misinformasi, menurut Dictionary.com, ialah “Informasi salah yang menyebar, meski tak ada maksud menyesatkan”. “Misinformasi bisa jadi merupakan terminologi paling tidak bersalah dari terminologi lainnya,” mengutip salah satu artikel The Conversation yang ditulis oleh Vice President for Academic Affairs and Provost, Texas A&M-San Antonio, Michael J. O’brien dan Associate Professor of Computing and Cybersecurity, Texas A&M-San Antonio, Izzat Alsmadi. Contohnya ialah rumor jika bawang dapat mengobati covid-19 padahal belum ada penelitiannya.
Sedangkan Disinformasi ialah informasi salah atau dimanipulasi yang memang sengaja dibuat untuk membuat target (masyarakat) bingung. Sebagaimana Dictionary.com mendefenisikannya, “Informasi yang meyesatkan atau sengaja dibuat bias baik berupa narasi atau fakta yang dimanipulasi”.
Contohnya ialah dalam kampanye pemilu Amerika Serikat. Diduga agen rahasia Rusia terlibat dengan cara menyebarkan berbagai informasi yang dimanipulasi sedemikian rupa dalam rangka menjatuhkan citra salah satu kandidat.
Sedangkan Hoax ialah informasi yang sengaja dibuaat dengan tujuan tertentu, biasanya sensasional, bersifat membangkitkan emosi. Mengutip kamus daring Merriam-Webster , Hoax dibuat memang untuk menipu agar orang percaya, dan sering kali tidak masuk akal. Contohnya di Indonesia ialah berita viral soal vaksin yang mengandung magnet di dalamnya.
Jika Anda mengira, ketiga fenomena ini lahir di era digital, nyatanya kita dapat menemukannya sejak zaman dulu.The Conversation menyebutkan jika masalah ini dapat kita temukan pada era Romawi Kuno. Sekitar 31 B.C., Octavian, Militer Romawi, melancarkan kampanye kotor dalam rangka mengalahkan lawan politiknya, Mark Antony.
Octavian membuat slogan yang singkat juga tajam ditulis pada koin. Intinya, Octavian mengatakan jika Mark seorang prajurit yang banyak salahnya: seorang yang suka main perempuan dan pemabuk, tidak cocok memegang jabatan. Upaya tersebut berhasil menghantarkan Octavian menjadi Raja Romawi kuno, yang kemudian kita kenal dengan Augustus Caesar.

Tipe-tipe “informasi salah”

Mengutip website eavi.eu, ada 10 tipe misinformasi yang digolongkan berdasrkan motivasi dan dampaknya. Menurut website soal literasi media ini, motivasi di balik konten (informasi) ada banyak variasi, namun uang ialah yang utama. Namun, idelogi juga bisa menjadi motivais, salah satunya “pseudoscience” soal perubahan iklim yang didasari ideologi atau agenda politik.
Setiap tipe “informasi salah” ini juga mengandung dampak yang berbeda-beda. Bagi sebagian masyarakat, mungkin teori konspirasi nampak menyenangkan dan dapat mlengkapai penjelasan di balik peristiwa. Namun, siapa sangka, teori konspirasi dapat menggiring menjadi kejadian yang sebenarnya, salah satu contohnya: “Pizzagate“.
Berikut selengkapnya 10 tipe “Informasi salah/palsu”
  1. Propoganda
Tipe ini biasa digunakan oleh pihak pemerintah, corporate, atau lembaga non profit untuk mengatur perilaku (tindakan), nilai, dan pengetahuan. Tujuannya ialah untuk menarik sisi emosi. Propoganda bisa menguntungkan namun juga bisa berbahaya. Dampak yang ditimbulkan cenderung netral
  1. Clickbait
Sifatnya menarik penglihatan, bentuk lainnya ialah headllines sensasional. Clickbait didesain untuk mendistraksi audien-nya. Seringkali clickbait menggiring pada misinformasi dan headline atau judul tidak mencerminkan isi sebenarnya. Motivasi clickbait ialah keuntungan dari iklan. Praktik clickbait dapat kita temukan dalam berita-berita daring.
  1. Konten Berbayar
Informasi berbayar berbentuk editorial dari pihak swasta maupun pemerintahan. Karena sifatnya pesanan, editorial berpotensi conflict of interest pada pihak organisasi/lembaga media. Audien bisa jadi tak menyadari konten tersebut ialah iklan jika tak dilabeli dengan jelas. Motivasi utama konten ini ialah pemasukan (uang) bagi pihak media.
  1. Satir
Mengomentari fenomena sosial dan humor. Variasi kualitasnya sangat luas dan tujuannya pun tak nampak jelas. Konten satir cenderung membuat orang bingung dengan pesan apa yang sebenarnya disampaikan.
  1. Error
Ada kalanya perusahana media salah menyampaikan data atau informasi mengenai satu pihak, apakah perorangan maupun lembaga. Efeknya, merugikan bagi pihak yang diberitakan karena dapat merusak nama baik.
  1. Partisan
Konten berupa interpretasi berdasarkan ideologi mengenai satu fakta. Namun, potensi bahayanya ialah karena kalim sepihak. Tipe inilah yang cenderung menimbulkan polarisasi yang tajam di masyarakat. Konten partisan cenderung membangkitkan sisi emosi dengan bahasa yang menggebu-gebu.
  1. Teori Konspirasi
Teori ini biasanya dapat mengisi kekosongan penjelasan mengenai satu fenomena. Biasanya terpicu oleh rasa takut atau ketidakpastian. Teori ini cenderung menolak apa yang dikatakan oleh para ahli juga pihak berwenang.
  1. Pseudoscience
Obat ajaib, anti vaksinasi, atau penyangkalan perubahan iklim global. Infomrasi tipe ini akan terlihat atau terkesan ilmiah, namun dengan kalim yang salah. Biasanya klaim yang dikeluarkan bertentangan dengan apa yang dikeluarkan oleh ahli di bidangnya.
  1. Misinformasi
Bisa berbentuk “gado-gado” fakta yang sebagiannya atau keseluruhannya salah. Tujuannya untuk menyebarkan informasi, namun si pembuat konten tidak sadar jika informasinya ternyata mengandung kesalahan.
  1. Bogus
Ialah tipe informasi yang paling berbahaya karena seacara keseluruhan informasi merupakan hasil fabrikasi dengan tujuan untuk menyesatkan. Salah satu contohnya ialah pembunuhan karakter lawan politik lewat sebaran opini yang jelas fitnah (tidak ada faktanya sama sekali). Tujuannya tentu kekuasaan dan uang.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like