Ponsel jadul yang minim fungsi bagi sebagian gen z merupakan solusi untuk tetap terhubung, namun secukupnya. Katanya lebih sehat bagi mental. Gambar: unsplash.com/@rolcye

Gen Z Kembali ke Ponsel ‘Jadul’

0 Shares
0
0
0
Jika Anda lelah dengan media sosial, Anda bisa mengikuti jejak kawan sebaya Anda yang kembali menggunakan ponsel jadul. Mengembalikan fungsi ponsel ke asalnya, “terhubung” hanya jika kita memerlukannya.
sapopoé – “Generasi Z membuang ponsel pintar dan menggantinya dengan ponsel lipat” begitu tulis New York Post dalam salah satu artikelnya. Generasi Z, generasi native digital meniggalkan “kampung halamannya” terdengar aneh bagi saya. Namun, begitulah faktanya. Artikel tersebut mengemukakan hasil wawancara dengan tiga orang pemuda (gen-z) yang meninggalkan ponsel pintarnya dan beralih menggunakan ponsel jadul. Ketiganya mengaku jenuh dengan media sosial dan terganggu dengan iklan tertargetnya.
Penulis atikel tersebut memang belum menyertakan riset yang mneggambarkan fenomena tersebut pada keseluruhan generasi Z. Setiap negara, bahkan daerah tentu memiliki kondisi dan pengaruh, serta budaya yang berbeda. Semua dapat berpengaruh terhadap pilihan sikap setiap orang, termasuk gen-z. Namun, meski beberapa orang, fenomena ini tetap menarik bagi saya sebagai wacana bagi para periset untuk menelitinya lebih jauh.
New York Post mewawancarai empat orang gen Z yang meninggalkan ponsel pintar mereka dan menggantinya dengan ponsel lipat. Yang pertama ialah Mackenzie Bergin (25) yang berusia 22 tahun pada 2018 lalu. Ia mengaku muak menatap ponsel pintar miliknya. “Instagram mengandung daya tarik yang berbahaya,” ujarnya. “Saya merasa hampa.”
Bergin kemudian mencoba memperbaiki kebiasannya dengan bantuan aplikasi manajemen waktu. Ia juga mengubah tampilan layarnya menjadi hitam-putih sehingga jadi tidak terlalu menarik. Namun, beberapa bulan kemudian ponsel pintarnya rusak. Pada momen itu, ia memutuskan mengambil langkah drastis, yakni kembali menggunakan ponsel jadul keluaran Alcatel, ponsel lipat.
“Teman-teman memanggil saya Flippy Minaj,” ujarnya
Alasan lainnya ialah, sebagaimana kami sampaikan pada paragraf awal, enuh dengan media sosial dan terganggu dengan iklan tertargetnya. Alasan tersebut pula yang mendorong Olive Churchwell mengganti ponsel pintarnya dengan “ponsel bodoh”. Ia mengaku hidupnya terasa lebih simpel ketika hanya menggunakan ponsel lipat keluaran Pantech. Ia dapat mengisitrahatkan mentalnya. Untuk memnuhi gaya hidup mendengarkan musik, ia memilih gunkaan iPod dan menonton menggunakan laptopnya.
Alasan yang sama juga menjadi pendorong Wyatt Joslyn (26 yang saat itu berusia 23) dan Natalie Bell. Namun, di balik keputusannya, tentu ada tantangannya tersendiri. Joslyn mengaku dikomplin oleh pacarnya karena menjadi sulit dihubungi. Mereka juga harus kuat menghadapi “godaan” kawan-kawannya untuk kembali aktif di media sosial.
“Semua kawan saya mendorong saya kembali ke instagram,” aku Bell.
Sebagai pendukung gambaran kondisi, New York Post kemudian mengutip data penjualan ponsel yang anjlok 5,6 persen pada saat itu, yakni pada Februari 2018 lalu terhitung dari setahun sebelumnya. Gartner mengatakan fenomena tersebut baru terjadi pertama kali. Namun, data tersebut tak bisa menjadi acuan karena terlalu banyak variabel yang menentukan jumlah penjualan. Terbukti, tahun 2020 merupakan jumlah anjloknya penjulan ponsel yang lebih tinggi. Namun, kembali meningkat hingga 11 persen pada tahun 2021.

Penyebab ganti

Mengamati fenomena ini, Huckmag juga menerbitkan artikel dengan bahasan yang sama pada bulan Mei 2021. Namun, menggali lebih dalam soal penyebab utama para gen z meninggalkan ponsel pintar. Media penantang budaya mainstream ini juga mengupas lebih dalam kesulitan para “buronan” digital ini. Mulai dari Eden (22) yang mengaku alami perbaikan mood dan memperoleh kebebasan berpikir sejak menggunakan ponsel jadul.
Mirip dengan Bergin, ketika ponsel pintarnya rusak, Eden bukannya membeli ponsel pintar, ia menggantinya dengan Nokia 130. Ia juga mengaku menghapus akun-akun media sosialnya, kecuali Facebook yang ia akses hanya dari laptopnya. “Ini (facebook) masih berguna untuk mengirim pesan pada orang dan untuk mengecek laman yang saya ikuti,” ujarnya. “Namun, saya tidak ketergantungan dan menggulir tanpa tujuan lagi.”
Eden merupakan salah satu dari gen z yang rata-rata menghabiskan 29 jam perpekan untuk screentime. 48 persen di antaranya mengaku merasa sedih, cemas, dan bahkan depresi. Ditambah dengan perilaku doomscrolling yang mereka alami sepanjang masa pandemi. “Tak heran jika anak muda seperti Eden berhenti menggunakan ponsel pintar demi kebaikan,” tulis Huckmag.
Selain Eden, ada Jade, Mateo yang juga mengganti ponsel pintar mereka. Namun, Jade sempat menyimpan ponsel pintarnya untuk ia gunakan hanya ketika mendesak. Namun, ia kemudian menjualnya sejak menggunakan Motorola V3. Sedangkan Mateo masih menyimpan dan menggunakan ponsel pintarnya . Ia menggunakannya sekadar untuk mengakses WhatsApp dan konsumsi berita. Sejak 2019, ponsel utamanya ialah Nokia.

Akan terus berkembang

Eden, Jade, dan Mateo merupakan bagian dari gen z yang 95 persen dari mereka memiliki ponsel pintar. “Namun, kini mereka menjadi bagian dari gerakan yang tumbuh signifikan, yakni ‘less online‘,” ujar huckmag. Pada 2018, penjualan ‘ponsel bodoh meningkat lima persen. Gerakan “burner phone challenge di TikTok berhasil mengundang jutaan views. Itu merupakan gerakan di mana para pengguna ponsel ditantang hidup tanpa media sosial selama sepekan.
Jurnalis Wired, Hussein Kesvani memprediksi jika pada beberapa tahun yang akan datang, kita akan melihat masyarakat akan meninggalkan platform publik tersebut seluruhnya, “Sebagai gantinya, mereka akan terhubung dengan komunitas kecil dan grup pertemanan pada platform privat,” ujar Hussein. Pada artikel tersebut, Hussein mengatakan pada penutupan jika fenomena ini tentu tak lepas dari masalah yang mengikutinya.
“Namun, internet pada akhirnya akan menjadi fasilitas bagi budaya di mana pengguna benar-benar terlibat satu sama lain lagi daripada hasil olah data dan jaringan buatan pihak pengelola media sosial,” ujar Hussein
Mateo mengaku jika sejak ia meninggalkan kehidupan ponsel pintarnya, distraksi dalam kehidupannya berkurang. “Kini, jika saya sedang menunggu seseuatu atau sedang berjalan, saya mendapatkan waktu untuk berpikir dan saya merasa leboh nyaman dengan pemikiran saya sendiri,” ujar Mateo pada Huckamag. Senada dengan Eden yang dapat lebih menikmati momen yang sedang ia hadapi di mana ia tidak mesti melakukan sesuatu dan hanya berpikir, “Tidak lagi mengalami kecemasan mengenai apapun yang terjadi di jagat maya,” pungkasnya.
Apa yang Mateo dan Eden alami sesuai dengan yang para pegiat dan periset kesehatan digital ungkapkan. Profesor dari Nottingham Trent University, Dr. Daria Kuss mengatakan, beralih ke ponsel jadul memang dapat meningkatkan kesehatan mental. “Meninggalkan ponsel memang dapat mengurangi perilaku membandingkan (di media sosial) dan membuat para pengguna terhubung dengan batas waktu, terutama untuk kegiatan dengan tujuan yang jelas, seperti melakuka panggilan telepon atau menulis pesan singkat,” ujarnya.
“Waktu extra tersebut kemudian dapat digunakan bersama keluarga dan teman, terhubung ketika berekreasi yang merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kesehatan mental dan wellbeing,” pungkasnya.

Tantangan yang dihadapi

Beralih ke ponsel dengan fungsi minimalis tentu bukan perkara mudah bagi pengguna yang sudah banyak tergantung dengan ponsel pintar. Eden misalnya, mengaku kesulitan menyesuaikan dirinya yang terbiasa menggunakan aplikasi maps. Namun, sebagai gantinya ia mengaku dirinya kini dapat mengingat arah dengan lebih baik. Terlepas dari berbagai fitur pada ponsel pintar, yang agak sulit untuk diterima ialah kesulitan mengambil foto.
Belum lagi, soal kebiasan kita yang tergantung dengan layanan pesan antar atau ojeg online. Apalagi yang terbiasa bermain gim. “Pada awalnya memang agak menakutkan,” ujar Jade, ” ketika kita menghadapi kehidupan tanpa senantiasa terbuhubung, namun pada akhirnya Anda akan terbiasa juga dan Anda takkan tahu rasanya seperti apa jika tak mencobanya.”
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like