Chatting memang praktis, mudah, dan murah, namin di sisi lain dapat menimbulkan masalah baru dalam berkomunikasi, miskomunikasi. Gambar: unsplash.com/@jeshoots

“Chatting” Rentan Mis-komunikasi

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Pagi ini, seorang mahasiswa menggebu ingin segera menyelesaikan skripsinya, lantas ia men-chatting dosen pembimbingnya. Namun, sayang, semangat itu sedikit tertahan karena dosen pembimbing bukannya menjawab dengan semangat pula, malah menjawab dengan ketus. Katanya, kalimat yang mahasiswa tingkat akhir ini sampaikan, “tidak sopan”.
Platform komunikasi semacam WhatsApp, Telegram, Messanger, E-Mail, atau bahkan fitur SMS, satu sisi merupakan solusi. Praktis, mudah, dan murah. Kita dapat coba menghubungi siapapun – selama kita punya nomor ponsel atau nama akunnya – kapanpun. Kontak istri yang sedang me time, kontak suami yang sedang selasaikan proposal jelang tenggat waktu, kontak anak yang sedang “diserang oleh musuhnya”, kontak direktur utama yang sedang meeting dengan jajaran komisaris, dan tentunya, dosen.
Namun, di sisi lain, responnya kadang membingungkan; tak sesuai ekspektasi, bahkan mengecewakan. Satu sisi, membuka peluang mengeratkan hubungan meski di lokasi yang jauh, namun di satu sisi bisa juga malah bisa memutuskan hubungan. Satu penelitian, menunjukkan jika komunikasi digital via teks akan efektif ketika kita lakukan dengan orang asing, bahkan lebih efektif daripada pertemuan tatap muka.
Respon tak sesuai ekspektasi, yang mengecewakan, bahkan menyakitkan itu merupakan salahs atu fenomena miskomunikasi. Singkatnya, miskomunikasi itu ialah gagal berkomunikasi secara memadai atau secara jelas.

Bagaimana bisa terjadi miskomunikasi?

Ketiadaan expresi wajah, intonasi suara, juga gesture dalam komunikasi via teks ialah persoalannya. Begitulah Psycology Today menjalaskannya. Di kelas komunikasi, kita mengenalnya dengan aspek komunikasi non-verbal. Ilmuan komunikasi mengatakan, aspek tersebut berkontribusi pada keefektifan komunikasi 60 hingga 80 persen.
“Tanpa isyarat penguat tersebut, sering kali kita akan mengisi ‘kekosongan’ tersebut dengan kekhwatiran – yang kita buat sendiri- dan asumsi”, terang artikel yang dibuat oleh The Contemporary Psychoanalysis Group.
Jika kita sedang “fakir” perhatian, bisa-bisa sekadar chat menanyakan progres tugas dari teman sekelompok Anda anggap sebagai sebentuk perhatian. Mentang-mentang dia salah satu cogan atau cewek manis di kelas kuliah Anda. Atau bisa juga, tanggapan chat yang hanya “iya” dan “tidak” Anda anggap kawan Anda sedang marah pada Anda karena perasaan Anda sedang tak menentu. Padahal memang teman Anda terbiasa membalas chat seperti itu pada siapapun.
Penulis pada Psychology Today mengungkapkan jika pasien yang datang pada mereka membawa serta teks chatting atau email seraya membacakannya sebagai bukti buruknya tulisan lawan bicara mereka. Mereka membaca pesan dengan intonasi suara yang mendramatisasi. Tentunya berdasarkan intreptasi mereka sebagai intonasi yang lawan bicara (komunikasi) mereka.
Intrepretasi mereka, kata penulis, seringkali akurat. Namun, yang dapat tertangkap oleh penulis ialah “asumsi” dan perasaan pasiennya. Penulis tidak tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan pengirim pesan (pada pasien). “Kata-lata dapat dibaca serta dipahami dengan cara yang hampir tak terbatas,” pungkas penulis.
Saya sendiri pernah introspeksi diri saya sendiri. Saya ingat-ingat, saya sering mengirimkan emoji saat chat yang sebenarnya tidak menggambarkan perasaan saya saat itu. Misalnya, mengirimkan emoji “smile” padahal wajah saya datar. Namun, di belakang itu, saya terdorong melakukannya karena sadar ingin mendukung apa yang kawan saya lakukan. Apakah Anda pernah melakukannya?

Berikut cara menghindarinya

  1. Berpikir ulang sebelum mengontak mengirim/ membalas pesan
Satu hal yang menguntungkan pada teks ialah kita bisa berpikir berulang kali saat menyampaikan pesan menggunakan teks. Baik ketika membuka percakapan maupun meresponnya. Karena lawan bicara tak bisa menangkap sinyal pada wajah kita, gestur kita, atau pun arah pandangan kita di saat tersebut, menjadikan kita dapat “bersembunyi” di balik media.
Kita bisa menata kata dan kalimat yang berdasarkan pengalaman kita sebelumnya atau selama ini berinteraksi dengannya atau mereka. Jika yang kita hadapi ialah dosen, terutama dosen senior, hendaknya perhatikan sopan santun. Kalimat pembuka berupa salam atau bertanya soal kondisi sebelum mengunkapkan maksud sebenarnya dapat menjadi pertimbangan.
Agar lebih aman, Anda dapat menggunakan tata bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah EYD. Jangan coba-coba menggunakan kata ganti berbentuk singkatan, seperti “u” untuk “kamu” atau “sy” untuk “saya”. Kalau dosen menjawabnya dengan singkatan, amannya, Anda tetap menggunakan kata lengkap. Kecuali, Anda sudah dekat secara emosional atau personal, tentu menjadi pertimbangan lainnya.
  1. Perhatikan urgensi topik obrolan
JIka obrolan atau pesan yang hendak Anda sampaikan mendesak, ada baiknya Anda menggunakan fitur telepon (call) ketimbang teks. Mengirim pesan dengan teks kala darurat, hanya akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan kecemasan. Sedangkan via ponsel, setidaknya kita bisa menyampaikan tingkat kedaruratan lewat intonasi.
Kemudian, jika Anda hendak mengajak atau mengundang seseorang sedangkan seseorang tersebut kemungkinan bearnya menolak, lebih baik Anda mengajaknya menggunakan media atau cara lain ketimbang teks. Kesungguhan Anda akan sulit terbaca jika hanya menggunakan teks. Ada baiknya Anda mengajak via pertemuan langsung atau setidaknya lewat teman.

Tatap muka tetap paling efektif

Terakhir, Anda harus benar-benar memperhatikan efek komunikasi via teks (chatting) ini. Pertimbangkan kalimat juga perhatikan akibat jangka panjang jika Anda terlalu sering menggunakan teks yang mudah menimbulkan miskomunikasi, terutama dalam konteks hubungan profesional, ruang kelas (dosen dan mahasiswa). Jika terlalu sering terjadi miskomunikasi dengan dosen atau atasan di tempat kerja, bisa jadi malah menimbulkan hubungan yang kurang baik.
Di sisi lain, dalam konteks hubungan yang bersifat emosional, bisa jadi komunikasi teks (chatting), dapat menjadi sarana untuk menjaga keterhubungan. Misal dengan kawan dekat yang sudah sering bertemu di “dunia nyata” atau dengan pasangan suami-istri. Dalam konteks hubungan suami-istri, chatting dalam bentuk (sekadara) menanyakan kabar atau mengungkapkan rasa, bisa jadi dipersepsi sebagai bentuk perhatian satu sama lain.
Betul, emoji dapat mewakili beberapa bentuk ekspresi emosi kita. Namun, tak semua emoji yang kita sampaikan atau baca di chatting mewakili perasaan yang sebenarnya. Di sisi lain, riset pada cyberpsychology menyimpulkan jika tidak ada yang dapat menggantikan kefektifan komunikasi (langsung) tatap muka. Para responden yang terdiri dari para mahasiswa megatakan jika merasa lebih dekat dengan teman secara langusng daripada berkumunikasi via teks.
Juga, di tengah teknologi yang kian berkembang, jika Anda hendak melakukan komunikasi jarak jauh, alangkah baiknya jika Anda memilih gunakan fitur telepon (call), lebih baik lagi fitur panggilan video (video call). Hambatannya, memang teknis sih, sinyal jelek atau kuota habis. Namun, terlepas dari itu, riset menunjukkan video call  yang mendekati tatap muka dalam aspek emosional atau keefektifan tersampaikannya pesan.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like