TikTok bekerja pada diri kita seperti mesin judi yang bikin penasaran. Gambar: unsplash.com/@riverse

TikTok Persis Mesin Judi; ‘Adiktif’

0 Shares
0
0
0
sapopoé – Ketika kami mencari tahu menggunakan mesin pencari Google soal TikTok, sebagaimana media sosial lainnya, ada dua isu yang terkait. Pertama isu security yang berkelindan dengan data pribadi (privacy). Kedua, isu “adiktif”. Isu kemanan ini pula-lah yang dapat kita temukan ketika membaca larangan TikTok di Amerika beberapa waktu lalu.
Bicara soal isu privacy, kita juga dapat menemukan Facebook menghadapi persoalan yang sama. Kita mungkin ingat isu Cambridge Analityca yang mengungkap ‘penjualan’ data secara sepihak oleh Facebook demi kepentingan pemenangan politik salah satu kandidat presiden di negara kelahirannya, Amerika Serikat.
Namun, TikTok merupakan platform media sosial dengan pertumbuhan yang signifikan pada momen, di mana sebagian orang sedang bergelut dengan pandemi covid-19. Di masa covid merebak ke seluruh dunia, “virus TikTok” ikut merebak. Pertumbuhan jumlah penggunanya, melambung mencapai 370 ribu pada kuartal pertama tahun 2020. TikTok yang salah satu artisnya di Indonesia pernah di-bully kini menjadi primadona para pesohor (selebritis) mempertahankan ketenarannya.
Datareportal mencatat, perbulannya, 732 juta orang di seluruh dunia menggunakan TikTok, 22,2 juta di antaranya, dari Indonesia. Mungkin kita salah satu di antaranya. Orang Indonesia bisa menghabiskan hingga 1,5 jam perhari menonton video TikTok. Dengan durasi tersebut, kita dapat menonton sekitar 100 konten. Sementara, rata-rata waktu yang orang habiskan untuk bermedia sosial di seluruh dunia ialah 2,2 jam. Jumlah tersebut mengundang pertanyaan, apa penyebab TikTok ‘adiktif’.

Apa itu adiktif?

Mengutip psychiatry.org, adiksi atau substance use disorder (SUD) ialah kondisi di mana seseorang kehilangan kontrol dalam menggunakan/mengonsumsi sesuatu sementara di dalamnya terkandung konsekuensi/zat yang berbahaya.
Seseorang yang terkena adiksi akan mengalami distorsi berpikir dan perilaku. Perubahan pada struktur dan fungsi di otaknya menjadi penyebab seseorang mengalami kecanduan, perubahan kepribadian, melakukan pergerakan abnormal, dan berbagai perilaku lainnya.
Studi menunjukkan terdapat perubahan pada area otak yang berkorelasi dengan aktivitas menilai (judgment), membuat keputusan, belajar, mengingat, dan kontrol perilaku. Stimulus yang berulang dapat menyebabkan perubahan fungsi otak.
Perubahan tersebut dapat menetap dalam waktu yang lama jika efek dari zat (stimulan) habis atau setelah periode intoksinasi. Intoksinasi ialah kenikmatan yang intens, euporia, ketenangan, peningkatan persepsi dan sensasi, dan berbagai perasaan yang timbul akibat kandungan dalam zat (stimulan) tadi.
Jika seseorang sudah mengalami adiksi, biasanya mereka dapat toleran terhadap zat (stimulan) tersebut, bahkan tertuntut menggunakannya/mengonsumsi jumlah yang lebih banyak demi mendapatkan efek yang sama yang pernah mereka rasakan.
Kemudian, orang yang mengalami adiksi biasanya sadar dengan apa yang terjadi dengan dirinya, namun sulit melepaskan diri meski sudah mencobanya. Efeknya, seseorang akan mengalami masalah psikologis  maupun fisik. Efek berikutnya, timbul masalah dengan lingkungan sosialnya.
Terdapat empat kategori ciri-ciri atau simptom yang dapat terlihat dari orang yang mengalmai adiksi:
  1. Gangguan kontrol: Dorongan yang kuat penggunaan stimulan; Ia sulit berhenti mengontrol atau menggunakan stimulan.
  2. Masalah sosial: Penggunaan stimulan dapat mengakibatkan seseorang yang mengalami adiksi akan kesulitan menyelesaikan pekerjaan, tugas sekolah/ kuliah, bahkan waktu luang yang ada dihabiskan untuk mengonsumsi atau menggunakan stimulan.
  3. Penggunaan beresiko: Penggunaan atau konsumsi stimulan tetap dlakukan hingga tahap menimbulkan resiko meski tahu mengetahui masalahnya.
  4. Efek obat-obatan: Tertuntut menggunakan/ mengonsumsi dalam jumlah yang makin banyak agar memperoleh efek yang sama.
Dalam kasus TikTok, kami belum menemukan studi yang spesifik membahas apakah TikTok masuk kategori adiktif atau tidak. Namun, dengan ciri-ciri di atas, Anda dapat coba mengidentifikasi perilaku penggunaan TikTok yang Anda lakukan atau Anda dapat berkondultasi lebih lanjut dengan dokter psikiatri atau psikolog. Kami yakin tingkat konsumsi atau penggunaan TikTok setiap orang berbeda-beda.

Studi kasus di Pakistan; Efek Adiksi TikTok

Studi berjudul “TikTok Addictions and Its Disorders among Youth of Pakistan” menunjukkan jika TikTok befek negatif pada kalangan muda Pakistan. Studi  tersebut menggukan survei yang melibatkan mahasiswa dari 190 universitas dengan landasan teori positifisime. Dalam simpulan, studi tersebut menunjukkan jika TikTok mendorong kevulgaran, masalah sosial, dan gangguan kepribadian. “Demi memperoleh kebahagiaan dan kesenangan, para mahasiswa menyia-nyiakan waktu mereka menggunakan aplikasi media sosial,” ujar para peneliti dalam artikel tersebut.
Para peneliti juga menilai jika TikTok berdampak negatif karena menimbulkan kebencian terkait kecantikan dan kepribadian. “TikTok dari hari ke hari dan kevulgaran dan nudity,” ujar mereka. “Akibatnya, timbul rasa superioritas pada sebagian dan keminderan pada sebagian lainnya di kalangan muda Pakistan.”
Para periset mendasarkan studi ini pada kasus yang terjadi pada Januari, Februari, April 2019. Yang pertama ialah kasus kecelakaan yang menimpa seorang pemuda kala hendak membuat video TikTok. Video tersebut berhasil merekam bagaimana seorang petani mencoba menaiki traktor yang terpasang alat tanam. Kaki pria tersebut terpeleset, alih-alih menaiki traktor pria tersebut malah berakhir di bawah ban traktor dan akhirnya meninggal di bawah mesin tanam.
Kasus kedua ialah meninggalnya tiga mahasiswa asal daerah bernama Tamil Nudu karena scoter yang mereka kendarai menabrak bus. Ketika mereka sedang berkendara, salah satu di antaranya membuat video TikTok. Video tersebut juga sekaligus menunjukkan jika mereka kehilangan keseimbangan, kemudian menabrak bus yang berujung kematian.
Kasus berikutnya ialah salah seorang pemuda berusia 19 tahun yang menembak kawannya di leher kala hendak membuat video TikTok. Tembakan tersebut mengakibatkan kematian, sementara dia kawan lainya ditahan polisi karena kejadian tersebut (India Today).
Studi menunjukkan, jika TikTok menimbulkan efek narcissism yang merupakan salah satu kelainan dalam studi psikologi. “Ada banyak riset yang menunjukkan hubungan antara adiksi dan narcissism,” ujar periset.
Studi tersebut menggambarkan bagaimana efek adiksi TikTok pada kreator. Namun, di sisi lain, para kreator ‘hidup’ berdasarkan efek interaksi para penontonnya. Respon yang para penonton berikan merupakan ‘bayaran’ atas upaya yang para kretor atau artis TikTok lakukan. Pihak TikTok mempunyai peran dengan ‘meramu’ algoritma sehingga para penonton ‘ketagihan’ nonton video TikTok hingga berjam-jam.
Mirip mesin judi
Profesor University of Southern California, Sosiolog Digital, dan penulis buku “Left To Their Own Devices Julie Albright menjelaskan jika “Digital Crack Cocaine” merupakan unsur penyebab adiktifnya TikTok. Dia menjelaskan pada Forbes, pada dasarnya, dengan menggunakan TikTok, “Kita sedang ‘meracuni’ diri kita sendiri.”
“Anda akan berada dalam pengaruh dopamin yang menyenangkan, terbawa suasana. Ini hampir menghipnotis, Anda akan terus menonton dan menonton,” ujar Albright
Lebih jauh, Albright menjelaskan, dopamin yang muncul dalam otak kita terstimulus oleh karena tayangan berupa foto maupun video yang menyenangkan kita. Foto menyenangkan inilah yang menjadi stimulan pertama yang mendorong kita menggulir (scrolling) “sekali lagi”. Kita terus menggulir karena kegiatan yang terus menerus, kita sesekali kita mendapatkan tayangan yang menyenangkan, sesekali tidak. “Diferensiasi -yang mirip dengan mesin slot di tempat judi – ialah kuncinya,” terang Albright.
Ia menjelaskan, platform media sosial seperti TikTok, termasuk Instagram, Snapchat, dan Facebook mengadopsi prinsip yang sama sebagaimana judi yang juga menimbulkan adiksi. Dalam psikologi, istilahnya random reinforcement. “Kadang Anda menang, kadang Anda menang, dan begitulah bagaimana platform dibuat, persis seperti mesin judi” ujar Albright. Ia menerangkan, pada dasarnya kita sudah tahu jika judi itu adiktif, namun kita jarang membicarakan jika platform media sosial itu sama adiktifnya dengan judi.
“Yang perlu menjadi perhatian utama ialah apa yang platform ini lakukan pada otak manusia, terutama anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan,”
Namun, kata Albright, persoalan digital ini tidak melulu suram. Selalu ada sisi baik di balik apa yang revolusi digital bawa pada kita. Dunia kita kian mengecil dan masyarakat muda pada satu sisi saling terkoneksi satu sama lain di seluruh planet. “Millenials nampaknya merupakan kalangan yang menganggap diri mereka sebagai anggota masyarakat dunia, itu positif karena dapat mengurangi potensi konflik di masa depan,” ujar Albright.
Albright mengaku dirinya terdorong untuk melihat anaknya -berusia 16 tahun- yang tentu hadir di TikTok dan platform lainnya, namun anaknya dapat menaruh ponselnya jauh-jauh saat waktu belajar, menulis esay untuk sekolahnya, menganggarkan waktu dan fokus untuk mengerjakannya.
“Itulah yang lebih kita butuhkan,” ujar Albright.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like