TikTok merupakan fenomena yang menjawab seseorang minder meengkspresikan dirinya lewat Twitter maupun Instagram. Namun, di sisi lain, TikTok juga begitu kuat membuat kita melekat padanya tanpa terasa. Gambar: unsplash.com/@alexbemore

Awas TikTok Bikin ‘Nagih’

0 Shares
0
0
0
Sapopoé – Kapan Anda memutuskan mendownload TikTok? sebagian besar saya yakin menjawab pada saat Covid menyerang dan membuat kita “diam di rumah”. Memang pada momen tersebutlah, TikTok mengalami lompatan jumlah pengguna. Oberlo mencatat, jumlah unduhan platform ‘joget-joget’ tersebut mencapai 315 juta hanya pada quarter pertama 2020. Indonesia menyumbang total 8,5 % pengguna pada Juli 2020, menempatkannya sebagai negara keempat terbesar dengan total jumlah 30,7 Juta.
Terungkap, rata-rata pengguna TikTok di Indonesia dapat menonton hingga 100 video perhari atau sekitar 25 menit – 1,6 jam perhari. Dihitung berdasarkan durasi video tiktok yang hanya 15 detik hingga satu menit. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Head of Public Policy Indonesia, Malaysia, and Philiphines, Donny Eryastha pada momen Social Media Week (SMW) di Jakarta pada 2019 lalu. Jumlah tersebut meningkat menjadi 26 menit perhari pada Januari 2021, berdasarkan laporan Hootsuite dan We Are Social.
Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, rata-rata pengguna TikTok di Amerika mengonsumsinya selama 14 menit perhari pada tahun yang sama di bulan Oktober. Namun, meningkat hingga hampir dua kali lipatnya pada Maret 2020 lalu, tepatnya 28 menit perhari. Sedangkan di Inggris, Bloombergmelaporkan pada September 2020, rata-rata durasi penggunaan TikTok di Inggris Raya dan Prancis ialah 60 menit perhari, sedangkan di Norwegia, 74 menit perhari.
Jumlah durasi tersebut memang masih kalah dari jumlah durasi konsumsi Facebook dan Instagram yang mencapai 34 menit perhari (di Indonesia). Jumlah total durasi penggunaan WhatsApp di Indonesia ialah yang paling lama, yakni 1 jam perhari. Namun, data ini belum mempertimbangkan aspek segmen pengguna TikTok yang 41% penggunanya berada di rentang usia 18-24 tahun. Secara global 50% pengguna berusia di bawah 34 tahun. Mereka ialah generasi Millenial akhir dan Gen Z. Bahkan di Amerika, 62% penggunanya berada di rentang usia 10-29 tahun.

Pertumbuhan jumlah pengguna yang cepat

Saat ini, pengguna TikTok mencapai 2 miliar. Jumlah tersebut tercapai berselang waktu 14 bulan sejak pencapaian milestone pertamanya, 1 Miliar. Oberlo berpendapat, capaian tersebut merupakan “berkah” pandemi. Pada 2019, TikTok tercatat menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan terbanyak di AppStore yang mencapai 33 juta, melampaui Instagram dan YouTube.
“Terlebih lagi, TikTok mencapainya berturut-turut sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di Apple App Store,” ujar Oberlo. “Ini berarti TikTok tidak hanya mampu menjaga basis pengguna saat ini tetap kuat, tetapi juga terus berkembang untuk menarik basis pengguna baru dan berkembang.”
Kini, TikTok juga menawarkan versi ringan (lite) dengan konsumsi ruang memori yang lebih ‘ringan’, yakni hanya 20 mb dan “lebih hemat kuota”. Terpantau TikTok begitu gencar beriklan pada berbagai platform. Kami belum mendapatkan data hasil ekspansi TikTok saat ini. Namun, kita dapat melihat, TikTok sedang berupaya meluaskan pasar penggunanya. Saat ini, kami menemukan TikTok Lite menempati urutan paling atas di PlayStore dengan jumlah unduhan terbanyak saat ini, yakni 2,1 juta. Jika kita tambahkan dengan jumlah unduhan versi ‘asli’-nya, maka jumlahnya mencapai 12 juta unduhan di PlayStore.
Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat orang engage  (terikat) dengan TikTok sehingga durasi konsumsinya cenderung meningkat sebagaimana jumlah unduhannya? Tercatat, pada Ramadhan tahun ini, rata-rata jumlah engagement TikTok meningkat 29%. Sebagaimana Antara mengutip keterangan Head of Business Marketing TikTok Indonesia, Sitaresi Astarini.

Faktor teknis yang membuat TikTok begitu ‘nagih’

Secara teknis, TIkTok merupakan aplikasi untuk membuat dan membagikan video pendek. Video TikTok mengisi penuh tampilan pada layar persegi panjang kita, mirip dengan Snapchat atau Instagram stories. Bedanya, kita menvigasinya dengan gulir ke atas dan ke bawah, seperti feed di Instagram, bukan dengan ‘tap’ atau ‘swipe’ (ke samping).
TikTok menyediakan berbagai keperluan kreator untuk membuat karya mereka. Mulai dari filter yang sangat dinamis, termasuk kita dapat mencari musik latar untuk video. Pengguna juga dapat terlibat untuk ‘engage‘ dengan pengguna lainnya menggunakan fitur response untuk berduet. Kita menemukannya dengan tampilan dua pengguna yang bersebelahan.
Bukan hanya itu, fitur pada TikTok juga memungkinkan kita dapat membuat konten dengan sangat mudah. Kita dapat memilih bahan dari berbagai sumber. Mulai dari berbagai suara, klip lagu populer, dari acara televisi, video YouTube, atau dari video TikTok lainnya. TikTok juga mendorong para kreator membuat konten dengan triger Chalenge atau tantangan, sehingga semua orang dapat berpartisipasi, meski sekadar mengolok-olok konten milik orang lain.
TikTok bahkan memberikan saran soal “Apa yang sebaiknya saya tonton” dengan konten yang membanjir. Pada saat yang sama, TikTok juga menyediakan jawaban soal “Apa yang sebaiknya saya posting?” Hasilnya, “banjir bahan (konten)” yang tiada habisnya, membuat pengguna berpikir dapat membuat konten sementara di Instagram “sulit” atau minder.
TikTok tidak seperti Twitter atau Facebook yang menawarkan konten dari mereka yang kita follow. TikTok, seketika kita membuka aplikasi, langsung menyajikan tontonan yang ‘kita sukai’. Bahkan kita tidak perlu Sign up untuk dapat mengonsumsi video TIkTok. Kita bisa ‘skip’ bagian sign up dan langsung memilih beberapa tema yang kita sukai. Setelah itu, kita langsung mendapatkan suguhan video-video yang kita harapkan.
Aspek teknis
  1. Tayangan video TikTok secara default langsung tayang. Untuk menghentikannya, kita harus melakukannya secara manual. “Ini membuat kita ‘terikat’ (engage) dan menghilangkan jeda,” ujar growth design,
  2. “Betapa imersif tampilan layar penuhnya.” Immersive Experience merupakan salah satu poin utama engeagement TikTok. Antarmuka tanpa distraksi yang dapat meningkatkan engagement dengan para penggunanya dengan sangat kuat.
  3. Default interface layar penuh (Full Screen). Growth Design menemukan jika tampilan default layar penuh (Full Screen) meningkatkan engagement dengan pengguna hingga 280%.
  4. Swipe up for more“. Cukup dengan satu dorongan “swipe up for more” kita kemudian melakukannya teruse menerus. Nampak sepele, namun ‘dorongan’ kecil ini merupakan tindakan menentukan yang TIkTok lakukan sehingga kita terus menggulir tanpa henti, seperti dorongan pada rentetan domino.
  5. Konten terpersonalisasi. TikTok dapat menyajikan konten bukan sekadar yang teman kita sukai, melainkan berdasarkan tempat di mana kita sedang berada. Untuk ini, TikTok menggunakan IP Adress kita dipadukan dengan apa yang orang-orang di sekitar kita sukai.
  6. Sticky content. Video populer memiliki karakter yang mirip satu sama lain, yaitu simpel (sangat pendek dan mendasar), mengejutkan (gap penasaran), kongkrit (relevan dengan momen), emosional (lucu, berbasis musik), story telling.
Growth design kemudian menyimpulkan jika faktor yang menjadikan TikTok begitu “nagih”. Mereka mengistilahkannya variable reward and habit (penghargaan dan kebiasaan). Pertama, durasi yang pendek sehingga memungkinkan feed cepat beradaptasi kemudian sesuai dengan karakter personal kita. Kedua, snapped: Tidak perlu tujuan tertentu, cukup gerakan jari kita, seketika video yang begitu imersif tesaji. Ketiga, faktor kejutan: Kita mungkin belajar, tertawa, atau merasa aneh dengan konten yang tersaji. Namun, dapat dipastikan semua terpersonalisasi.
“Perpaduan antara tugas kognitif yang sangat rendah dan variabilitas yang tinggi menjadikan TikTok sebagai contoh ‘textbook‘ dari ‘desain yang menimbulkan adiksi’.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like