Di balik iming-iming hadiah sebagai juara di esport, di sisi lain ada efek samping yang harus diantasipasi; usia karir pendek dan isu kesehatan fisik dan mental. Gambar: unsplash.com/@florianolv

Atlet Esport; Hadiah Miliaran, Tapi Pensiun Dini

0 Shares
2
0
0
“Main gim mulu, emang mau jadi apa?” kata Ayah pada anaknya
“Aku mau jadi atlet e-sport Pah,” jawab sang anak.
“Alah, emang penghasilannya berapa. Orang kerjaannya maen gim doang?” sergah ayah terkesan merendahkan.
“Papah aja belum tahu,” jawab anak (malas menjawab).
.
.
.
sapopoé – Apakah ada yang salah dengan percakapan di atas? Tidak ada.. Namun, ada yang kurang. Bila kamu ditanya oleh ayahmu soal penghasilan, kamu bisa sebut nama “N0Tail”, “BnTet”, “Luxxyy”, “Zuxxyy” yang mampu mengumpulkan uang hingga miliaran rupiah. Soal penghasilan, menjadi atlet esport saat ini tidak lagi bisa diremehkan. Namun, pertanyaan itu mestinya dipertajam, “Memang berapa lama umur atlet esport?”, “Terus, kalau udah pensiun, mau jadi apa?”
Penghasilan “Luxxy” dan “Zuxxy” betul bisa terkumpul hingga Rp 5 Miliar rupiah selama dua tahun. Namun, bagaimana dengan atlet eport lainnya? Namun, sebelum kita membahas soal pendapatan, kita akan mulai dari “menjadi atlet”. Sebagaimana bidang atletik kompetitif lainya, tidak “sembarang” orang dapat masuk ke jajaran atlet. Atlet ialah sekumpulan orang yang memiliki kemampuan spesifik di atas rata-rata orang lain. Karena dipilih, tentu tak sembarang orang bisa mencapainya.
Untuk pendapatan, kami belum mendapatkan data yang menyeluruh. Namun, sebagai atlet yang berada di bawah satu naungan manajemen, seorang atlet bisa memperoleh gaji bulanan dalam rentang US$200 hingga US$6.000 atau Rp4,4 juta hingga Rp88 juta. Sebagaimana yang diungkapkan CEO & Co-Founder Rex Regum Qeon (RRQ), Andrian Pauline dalam  tayangan Listen Up! di akun YouTube One Up.
Di sisi lain, data juga menunjukkan jika rata-rata usia karir atlet esport hanya 5 tahun. Mengutip Nikkei Asia, rata-rata atlet esport pensiun pada usia 25 tahun. Untuk di Indonesia, ada Benny Mozza, mantan anggota tim “Endeavour” yang penisun dari kancah “Point Blank” yang pensiun pada tahun 2020. Ia bergabung dengan RRQ sejak 2017, sebagaimana Kincir merangkumnya. Artinya, dia pensiun pada usia 30 tahun. Kini Benny Moza fokus menjadi content creator tema gaming.
Yang berikutnya, Indonesia juga memiliki “Jess No Limit” yang kini kita kenal sebagai YouTuber. Belakangan, ia juga ikut aktif bermain TikTok. Sejak tahun 2019, ia sudah tak terlihat di bangku pemain tim yang selama 1,5 tahun ia bela, “EVOS”. Terakhir, Jess terlihat pada ajang turnamen “Piala Presiden Esport” pada 2019. Namun, tak lama berselang, tepatnya pada gelaran MPL Season 3 2019, Jess sudah tak terlihat lagi di bangku pemain.
Berikutnya, “veteran” yang juga kerap menjadi buah bibir ialah “Rmitchi” atau biasa orang memnaggilnya Onin. Ia memutuskan pensiun setelah lima tahun berkarir 5 season di MPL. MPL merupakan liga profesional Mobile Legend Indonesia paling bergengsi. Sebelum bergabung dengan Alter Ego, Immanuel Christian Santoso ini juga pernah membela beberapa tim besar lainnya; Rev Indo dan Louvre eSports. Kabar terbaru, “Rmitchi” kembali ke medan pertempuran esport bersama tim “Lord of Heist”. Namun, kali ini sebagai Role Coach, mengutip kotakgame.com.

Penyebab pensiun muda

Ada beberapa penyebab yang akhirnya, membuat seorang atlet esport pensiun muda. Mulai dari alasan kesehatan fisik, ‘kepincut’ pekerjaan lain, hingga kebosanan. Benny “Mozza” dan “Jess No Limit” dua di antara mereka yang berhenti karena ‘kepincut’ menjadi content creator. Tak semua atlet bisa menjadi juara satu tentunya. Karenanya, jalan lain harus mereka tempuh.
Kemudian, siapa bilang atlet esport tidak beresiko mengalami cidera fisik? Salah satunya yang terjadi pada salah satu atlet esport Amerika Serikat. Ia pensiun karena cedera jempol dan pergelangan tangan. Kemudian, ada juga atlet asal negeri “Tirai Bambu”, Jian Zihao. Ia mengatakan dalam akun Weibo-nya, “Keputusan pensiun ini diambil karena saya menghadapi kondisi stres kronis, obesitas, pola makan tidak teratur, begadang, dan alasan lainnya.” Sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Minggu (7/6/2020).
Cidera jempol dan pergelangan tangan memang merupakan dua dari empat keluhan para atlet esport. Fenomena tersebut terungkap dalam salah satu jurnal ilmiah yang meriset keluhan sakit para atlet esport. Riset tersebut mengungkapkan, dari 65 atlet esport dari sembilan Universitas di Amerika Serikat dan Kanada, 56% di antaranya mengaku alami sakit mata. Kemudian, 42% di antara mereka alami sakit punggung, 36% alami sakit pergelangan tangan, dan 32% alami sakit pada tangan.
“Atlet esport, sebagaimana atlet pada bidang olah raga lainnya, sama-sama kerap alami cedera akibat penggunaan (bagian tubuh tertentu) yang berlebihan,” terang penulis pada bagian simpulan. Penelitian tersebut juga mensinyalir, secara teknis, penyebabnya ialah karena porsi latihan yang menuntut para atlet untuk berlatih. Durasi berlatih mencapai 5,5 hingga 10 jam ditambah kurangnya aktifitas fisik.
Penyebab lainnya, ialah lelah mental atau burnout. Curhatan dari Stephen “Snoopeh” Ellis dapat menjadi gambaran. “Snooopeh” merupakan penisunan atlet esport League of Legend kenamaan Inggris yang pensiun pada usia 23 tahun, tahun 2015 silam.
“Orang-orang lelah dalam banyak hal. Anda bermain 12 jam sehari selama enam hari seminggu, selama total empat setengah tahun,” ujar “Snoopeh”. “Anda bangun di lingkungan yang sama dengan tempat Anda bekerja dan makan juga, jadi tidak ada pemutusan hubungan kerja, ini adalah lingkungan yang sangat beracun dan intens, dan dalam jangka waktu yang lama bisa sangat melelahkan.” Kondisi tersebut kemudian kian parah karena berdampak pada menurunnya perfroma permainan. Kekalahan menambah buruk kondisi mental yang “sudah lelah”.

Pasca pensiun

Setelah berhenti dari ajang “pertandingan”, bukan berarti masalah selesai. Banyak cerita, mereka yang berprofesi sebagai atlet, bangkrut ketika pensiun. Apalagi jika tidak ada pemikiran sama sekali soal bersiap pasca pensiun. Kondisi akan kian berat jika gaya hidup semasa menjadi atlet kurang terkontrol. Penghasilan tak ada, sementara diri sudah terlanjur hidup dengan jumlah konsumsi ratusan juta hingga miliaran.
Snoopeh berpesan pada para atlet esport muda, hendaknya mikirkan baik-baik soal gaya hidup dan juga memikirkan masa depan. “Ini soal skala gaya hidup,” komentarnya. “Jika seorang pesepakbola menghasilkan £ 3 juta setahun. Penghasilan mereka habiskan membeli Ferrari dan Lamborghini, mengadakan pesta liar dan liburan… Mereka terbiasa menghasilkan uang itu dan membelanjakan uang.”
Ia menambahkan, hendaknya para atlet memahami nilai mereka dan memikirkan masa depan mereka serta menginvestasikan diri mereka pad saat ini. Mereka juga harus mempertimbangkan hal-hal ini sebelumnya. “Masalahnya, tidak ada orang yang benar-benar siap membiayai gaya hidup Anda,” ungkapnya. “Anda mungkin berpikir bisa mendapatkan (penghasilan melalui) komunitas dan mengandalkan niat baik komunitas, namun itu bertaruh namanya.”
Sumber “pendapatan” pasca pensiun
Sejatinya banyak pilihan jalan pendapatan bagi para pensiunan atlet bermodalkan pengalaman sebagai atlet gaming. Seperti yang “Rmitchi” alami. Ia direkrut menjadi pelatih tim esport sekaligus menjadi streamer dan content creator di saat bersamaan. Kemudian, “Jess No Limit” yang sukses menjadi content creator gaming. Selain itu, masih ada pos lainnya, yakni menjadi manajer tim atau bahkan menjadi event manager.
Menjadi content creator “gaming” nampak memang cukup menjanjikan. Dengan menggunakan aplikasi streaming khusus “gaming”, Twitch, seorang streamer berpotensi bisa memperoleh hingga $ 15.000 perjam. Contoh suksesnya ialah Tyler “Ninja” Belvins. Belakangan, dilaporkan oleh Hollywood Reporter, ia beralih ke aplikasi besutan Microsoft, “Mixer“. Jika sudah menjadi streamer top, Anda bisa mendapatkan basis penggemar. Mereka adalah “pangsa pasar” captive yang bisa menjadi sumber panghasilan dengan menjual marchandise.
Namun, untuk beralih menjadi streamer gim yang top, perlu Anda ketahui, tidak dapat Anda gapai dalam waktu hitungan hari. Perlu proses. Karena itu, alangkah baiknya, jika mempertimbangkannya kala masih aktif menjadi atlet. Untuk keuangan, Anda juga bisa belajar dari “Luxxy” dan “Zuxxy”, selain membeli kendaraan yang mereka sukai, mereka juga mengaggarkan sebagian dari pendapatan mereka untuk investasi.
Juga, cara lainnya adalah, Anda bisa coba mencari peluang beasiswa kuliah. Apalagi jika Anda masih berusia belasan tahun. Sebagaimana kami sampaikan sebelumnya, ada beasiswa khusus atlet esport, terutama di universitas-universitas di Amerika. Siapa tahu, berbekal esport, Anda bisa berkuliah di kampus yang melahirkan orang-orang jenius pencetus merk-merk teknologi global. Dengan bgitu, Anda berpeluang menjadi dveloper gim, bukan hanya memainkannya.
Jangan lupakan faktor kesehatan fisik dan mental
Selanjutnya, ada masalah fisik dan mental yang perlu Anda perhatikan. Untuk itu, Anda harus memastikan, jika menajemen tim memperhatikan faktor tersebut. Lebih baik, jika manajemen menyedikan waktu dan fasilitas gym yang memadai. Dengan begitu, aktifitas fisik yang terkurangi drastis karena duduk berjam-jam dapat terkompensasi dengan aktifitas fisik yang memadai.
Di sisi lain, jika manajemen memperhatikan keseimbangan kesehatan fisik dan mental para atlete, akan memberi keuntungan tersendiri. Selain menangkal kerentanan fisik, olahraga juga menjaga koordinasi dan refleks agar tetap fit. Nicole du Cane, salah satu pembawa acara olahraga / aliran game “Heroes of Fitness”, mengatakan kepada Men’s Health, “Umur pendek adalah masalah besar, jadi meski seorang pemain mencapai usia pertengahan 20-an, mereka sudah mendekati akhir karier mereka. Jadi mereka mencari cara untuk memperpanjang karir mereka agar tetap tajam secara mental, tetapi juga dengan refleks mereka.” Mengutip TNW News.
2 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like