Personal brand tidak sesederhana “mempercantik” feed instagram, ia merupakan perpaduan kerja-kerja hebat dan baik pada orang lain. Gambar ilustrasi: unsplash.com/@magnetme

3 Prinsip Personal Branding Digital Bagi Karyawan

0 Shares
0
0
0
Sapopoé – Pandemi global merupakan pendorong yang kuat perubahan tren digital saat ini. Berbagai aktivitas terdorong untuk kita lakukan dalam jaringan (secara digital). Rapat, sekolah, kuliah, termasuk dalam hal ini Job Fair. Pameran yang sangat dinantikan oleh banyak orang, sementara banyak orang yang kehilangan pekerjaan saat ini.
Job fair daring (online) menjadi salah satu opsi bagi perusahaan untuk menjaring calon karyawannya. Karena daring, bahan-bahan untuk penilaian pun tergantung dari informasi yang tersedia secara daring. Curriculum Vitae (C.V.) dalam bentuk PDF betul merupakan syarat awal administratif, namun, apakah itu cukup membuat perusahaan mempertimbangkan Anda sebagai kandidat karyawannya?
Sementara itu, memangnya sebanyak apa informasi yang dapat kita masukan dalam beberapa lembar C.V.? yang kiranya dapat memberikan informasi yang cukup soal kapasitas kita. Pada tahap ini, kita akan menemukan alasan mengapa mencantumkan nama akun media sosial kita menjadi penting. Setidaknya, perusahaan dapat memperoleh informasi tambahan mengenai personal kita dari sana.
Namun, apa yang perusahaan dapat dari media sosial atau hasil search Google dengan mengetikan nama kita? Tentu bukan sekadar foto “cantik” yang akan menjadi pertimbangan.
“Digital personal branding” merupakan jawaban sehingga kita dapat lebih meyakinkan bagi perusahaan. “Kehadiran kita secara daring” dengan personal branding di masa ini bukan saja ‘barang’ bagi para politisi, selebritis, atau atlit, melainkan bagi para calon karyawan atau karyawan alias bagi perintis karir atau bagi mereka yang ingin ‘naik jabatan’.

Data menunjukkan “digital personal brand” powerful

22 statistik yang disusun oleh Brand Strategist di BrandYourself, Ryan Erskire nampaknya cukup kuat menunjukkan betapa personal brand begitu berpengaruh bagi perusahaan. Tiga di antaranya, ketika karyawan men-share pesan satu brand (milik perusahaan) di media sosial pribadinya, brand memperoleh 561% reach lebih tinggi dibandingkan ketika pesan yang sama dibagikan oleh akun atau kanal official brand itu sendiri.
Kemudian, pesan yang dibagikan oleh karyawan akan dibagikan (re-share) 24 kali lebih banyak ketimbang yang dibagikan oleh akun official brand. Kemudian, enggagement dari konten tersebut juga meningkat 8 kali lipat dibandingkan yang dibagikan oleh akun official brand.
Prinsipnya, perusahaan akan memperoleh benefit lebih ketika mempekerjakan karyawan dengan personal brand yang baik secara daring. Artinya, di masa serba digital ini, calon karyawan/ karyawan akan memperoleh peluang karir yang lebih baik ketika digital personal brand-nya dinilai bagus oleh perusahaan.
Selanjutnya, bagaimana membangun digital personal brand? Berikut ialah prinsip-prinsip yang perlu kita perhatikan ketika membangun personal brand.

3 prinsip membangun digital personal brand

Ada banyak cara yang dibagikan oleh para ahli di bidangnya soal membangun personal brand. Namun, prinsip-prinsip berikut cukup merangkum semuanya dan dapat menjadi pegangan bagi kita.
Kontributor Entrepreneur Leadership Network, sekaligus direktur Samuel & Co. Trading, Samuel Leach merumuskannya dalam salah satu artikelnya. Ia mengaatakan, personal brand ialah sumber “kredit” kita yang paling utama (ultimate). Yang ia maksud dengan “kredit” ialah “kepercayaan”, berasal dari bahasa Latin, “credere“. “Nilai (kredit) diri kita baik secara finansial maupun interpersonal (sosial) itu tergantung dari seberapa Anda dipercay,” jelasnya.
Berikut ialah tiga kunci utama agar kita sukses membangun personal brand bagi diri Anda maupun untuk bisnis Anda:
  1. Identifikasi brand Anda (diri Anda)
Expert Personal Brand, Gary Vaynerchuck mengatakan jika “menjadi diri kita yang 100% autentik, benar-benar diri kita sendiri” itu amat penting. Bagaimanapun, ini langkah awal kita, yakni mengidentifikasi siapa diri kita. “Siapa saya?”
Kemudian, buatlah akun media sosial profesional kita minimal di dua platform, misal Instagram dan LinkedIn. Isi bio dengan data diri yang sejujur-jujurnya dengan bahasa yang berorientasi pada calon klien atau perusahaan. Masukan filosofi kerja/bisnis Anda di dalamnya yang menunjukkan ke-autentik-an Anda.
Pastikan konten secara keseluruhan, nampak seprofesional mungkin. Termasuk foto, sosial media lainnya yang tertaut, serta grafis pada lama profil Anda. Setelah itu, bagikan nilai tersebut melalui konten-konten media sosial, kuatkan dengan website personal dan kehadiran Anda secara nyata.
  1. Sampaikan pada target audien yang sesuai (appropriate)
“Kyle Jenner bisa jadi bukan sosok favorit Anda, namun ia adalah sosok entrepreneur yang layak Anda ikuti,” ujar Leach.
Dia (Kyle Jenner), Leach menyampaikan, menyasar target audien yang jelas sesuai dengan hasil riset. Riset market dengan tema “Keeping up wit the Kadarshian” mengungkapkan, Tim Kadarshian fokus menyasar kelompok perempuan berusia 18-38 tahun dan mereka memenuhi berbagai media yang dikonsumsi kelompok tersebut.
“Identifikasi audien Anda, kemudian susun rencana dan eksekusi strategi marketing Anda,” pungkas Leach.
  1. Pastikan Anda memperlakukan personal brand Anda sebagai investasi jangka panjang
Kesabaran ialah kunci. Sering kali, hal besar atau terobosan besar bisnis Anda baru datang setelah sekian lama Anda melakukan kerja keras, mempromosikan merek pribadi, dan membangun relasi. “Hasil terbaik datang bagi mereka yang (sabar) menunggu,” ujar Leach.
Leach mengatakan, pembangunan personal brand yang komprehensif dan kredibel akan membuat Anda terllibat dan berinteraksi dengan audien Anda. Hasilnya, Anda akan memperoleh hasil yang berkesinambungan dan berkelanjutan.
Selanjutnya, sebagai bonus, kita perlu perhatikan apa yang disampaikan penulis 7 buku, termasuk “Think Staright“, Darious Foroux yang katanya “tidak seorangpun memberi tahu Anda soal personal brand”. Ia mengatakan dalam salah satu tulisannya, reputasi bukan hanya soal siapa kita menurut kita, melainkan “persepsi orang lain mengenai diri kita dan itu berarti tidak sepenuhnya dapat kita kontrol,” ujar Foroux.
Menurutnya, membangun personal brand itu soal membangun reputasi. Cara untuk menggapainya, tak hanya soal memperbagus feed media sosial, melainkan perpaduan dua hal, “Melakukan pekerjaan yang (dengan) hebat dan memperlakukan orang lain dengan baik”.
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like