Di tengah peluang yang kian terbukan, aspek pembeda diri kita dengan orang lain menjadi penting. Caranya dengan menerapkan personal branding. Gambar ilustrasi: unsplash.com/@shaonpr

Pentingnya Digital Personal Branding Bagi Karyawan

0 Shares
1
0
0
sapopoé – Kala orang mengetikan namamu di mesin pencari Google, apa yang Google ‘ katakan’ tentang diri Anda? Yang Google katakan tentang Anda, itulah kemungkinan impresi pertama menurut orang lain di dunia digital. Apa yang Anda sampaikan di LinkedIn, Facebook, Instagram, Twitter, atau mungkin blog pribadi Anda akan menjadi bangunan “siapa Anda”.
Pertanyaanya kemudian, apakah Anda akan membiarkan Google mendeskripsikan Anda begitu saja? Di tengah perekonomian dan berbagai konteks persaingan saat ini, ada baiknya kita mempertimbangkan digital personal branding. Bagaimanapun, dunia digital mendemokratisasi peluang bagi semua orang -selama dapat mengakses internet. Persaingan kian terbuka, temasuk bagi Anda.

Apa itu personal brand?

“Anda adalah apa yang Anda katakan”, “Anda adalah apa yang Anda pakai”, “Anda adalah apa yang Anda lakukan”, begitu kata salah satu dosen ilmu manajemen menjelaskan soal apa itu Personal Brand. Atau mungkin Anda lebih familiar dengan quotes dari founder Amazon, Jeff Bezos.
“Brand Anda ialah apa yang orang lain katakan tentang Anda ketika Anda sedang tidak ada di ruangan.”
Dalam konteks dunia digita, dapat kita katakan, “Brand Anda ialah apa yang Google katakan mengenai diri Anda”. Semua jejak digital Anda yang menentukannya.
Istilah branding identik dengan aktifitas bisnis. Namun, di tengah berkembangnya media sosial dan perkonomian digital, personal branding, menurut forbes, menjadi fundamental. Personal brand merupakan kombinasi yang unik dari skill dan pengalaman yang menjadikan “siapa diri kita”. Personal branding merupakan cara Anda memperkenalkan diri Anda kepada dunia.
“Personal branding yang efektif akan memuculkan sisi “beda” Anda dalam kompetisi dan dapat menumbuhkan kepercayaan pada calon klien atau calon pimpinan Anda di perusahaan,” terang Forbes.

Mengapa penting?

Pernahkah Anda bertanya, mengapa perusahaan mengharuskan pelamar kerja mencantumkan nama akun media sosial? Apakah untuk iseng stalking? Tak salah, tapi tak sepenuhnya benar juga. Media sosial kita merupakan salah satu cerminan dari sisi kehidupan kita. Bagi seorang HRD, sisi itu dapat menjadi salah satu poin penilaian.
Berdasarkan 2018 CareerBuilder Survey“, 70% perusahaan menggunakan media sosial untuk menilai dan menyaring kandidat pelamar, dan 43% perusahaan menggunakan media sosial untuk mengecek ‘status’ pegawainya.
Di sisi lain, personal branding ini juga dapat memberi keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Ketika salah satu pegawai berbicara pada suatu event konferensi atas nama perusahaan, menawarkan gagasan-gagasan, bukankah mereka juga sedang meningkatkan nilai perusahaan? Karena itu, alangkah baiknya jika perusahaan dapat mendorong karyawannya lakukan personal branding.
Belum lagi jika melihat tren perilaku perusahaan dalam kaitan kontrak kerja. Riset menunjukkan, seseorang berpindah kerja setiap 2 hingga 3 tahun. Di Amerika, pada 2020 freelancer dan pekerja kontrak mengisi 43% lowongan kerja.
Karena itu, karyawan atau calon karyawan mesti mampu mengomunikasikan siapa mereka. Kemduian, dapat memberi kontribusi apa pada perusahaan atau apa kemampuan spesial mereka yang kiranya dapat membuat kondisi perusahaan lebih baik. “Jika Anda tak memenej reputasi digital Anda, kemungkinan Anda akan kehilangan peluang kerja.” pungkas Forbes.

Para master digital personal branding

Membangun personal brand bukan sekadar tindakan memilih kostum, memilih tema warna pada design, namun soal konsistensi dalam mengomunikasikan tujuan, nilai, atau misi pada followers dengan cara yang autentik.
Kita perlu belajar dari para master dalam bidang ini. Saya sendiri menemukan contoh yang menonjol pada Gary Vaynerchuk dan Marie Forleo.
Gary Vaynerchuck atau dikenal juga dengan Gary Vee, mulai hadir di dunia digital sebagai Host dalam vlog YouTube pada kanal “Wine Library TV”. Ia sangat aktif berbicara soal perpektifnya yang ‘tajam’ pada berbagai sisi kehidupan melalui platform media sosial. Ia kini merupakan salah satu marketer paling sukses di dunia dengan followers yang loyal.
“Personal brand Anda ialah reputasi Anda, dan reputasi Anda merupakan pondasi laten dalam membangun karir Anda,” ujar Gary Vee.
Marie Forleo menulis dalam bio instagramnya sebagai seseorang yang disebut Oprah Winfrey sebagai “Thougt leader for the next generation“. Ia seorang penulis, pengusaha, sekaligus filantropis. Ia menguasai kemampuan membagi konten-konten yang impactful dengan pendekatan humor dan amat menarik.
Tulisan-tulisan pada blog pribadinya mencerminkan dirinya sebagai ahli/ expert persnonal branding. Di dalamnya, ia menonjolkan sisi autentik dan passion dalam menyelesaikan persoalan yang orang lain sedang hadapi.
Tambahan dari penulis, untuk di Indonesia dan kontekstual dengan judul tulisan, saya menemukan sosok lebih pas. Ia seorang karyawan yang mampu menampilakan dirinya sebagai expert pada consumer behavior. Ia membagi pandangannya dari perpektif bidang keahliannya lewat podcast yang ia publikasikan secara berkala dan konsisten.
Dengan latar belakang pendidikan di bidang yang ia sampaikan, Consumer Psychology and Behavior Science di Leiden University, Belanda, Irfan Agia juga bekerja pada bidang yang sama. Ia kini menjabat sebagai Consumer Insight Lead di Link Aja. Menurut saya, personal brand yang ia bangun begitu kuat karena bersatunya berbagai dimensi aktifitas pada bidang yang sama.
Baginya, personal branding ialah sarana untuk membuka peluang.
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like