Zooming merupakan salah satu cara komunikasi yang baru bagi sebagian besar kita. Banyak dari peragkat komunikasi natural yang tak bisa kita gunakan, akibatnya Zoom Fatigue. Gambar: unsplash.com/@brut

Cara Mudah Mengatasi Zoom Fatigue Menurut Periset Stanford

2 Shares
2
0
0
Sapopoé – Sejak Covid-19 menjadi pandemi global, banyak sisi dari kehidupan kita yang berubah, termasuk cara berkomunikasi. Ruang-ruang fisik berganti menjadi ruang-ruang virtual. Mulai dari kantor, sekolah, bahkan tempat pernikahan. Lawan bicara, setiap beberapa jam berganti, namun, tempat tak berpindah, tetap di ruangan yang sama, dengan posisi duduk yang sama.
Ribuan orang, mungkin Anda termasuk di dalamnya, memang tak mesti berangkat ke kantor untuk kerja. Cukup ‘ngesot’ sedikit ke ruang tamu, nyalakan aplikasi Zoom atau Google Meet, seketika ruang tamu berubah menjadi ruang meeting. Tiba sore hari, di momen Ramadhan, buka puasa bersama dengan kawan semasa kuliah, cukup dengan memesan makan dengan layanan pesan-antar. Tetap berada di rumah masing-masing, nyalakan Zoom, “bukber virtual” tak lagi wacana.
Beberapa riset menunjukkan jika ‘new normal‘ ini akan menetap dalam rutinitas kita. “Kita tak mungkin kembali”. Setidaknya, meski ada beberapa pertemuan tatap muka, namun, beberapa ruang virtual sudah terlanjur menjadi nyaman bagi sebagian pihak. Kita memang sudah terbiasa, namun riset menunjukkan, efek samping negatif gaya komunikasi baru ini juga membuat kita mesti ‘meneruskan proses adaptasi’.
Berjam-jam di depan layar, harapan memperoleh informasi yang memadai, tak kunjung hasil karena tidak sempurnanya proses komunikasi. Komposisi dominan dalam komunikasi, yakni aspek non-verbal, tak kuasa kita sampaikan. Belum lagi, soal materi bahasan serta jumlah peserta yang kadang begitu menuntut perhatian, apalagi bagi sebagian dosen atau pengajar. Kelelahan akibat ‘Zooming’ membuat kita mengeluh, “Mending ngajar langsung di kelas aja deh, rapat di kantor aja deh, belajar di sekolah aja deh“. Kita mengalami “Zoom fatigue”.

Penyebab “Zoom Fatigue” beserta cara mengatasinya

Profesor Komunikasi di Stanford University,  Jeremy Bailenson bersama koleganya di Stanford Virtual Human Interaction Lab, banyak meriset dampak psikologis dari Zooming. Dalam salah satu jurnal yang dipublikasikan oleh Technology, Mind, and Behavior pada 23 Februari 2021, Bailenson meneliti beberapa medium (platform video call/konferensi) dan mengidentifikasi aspek teknis per-medium-nya sebagaimana dipublikasikan dalam Stanford News.
Berdasarkan karakter teknis medium, ia menemukan dan mengungkapkan, ada empat penyebab yang berkontribusi membuat seseorang mengalami “Zoom fatigue”. Dalam artikel-nya ia juga menekankan, tujuan dari riest ini bukanlah untuk membuat kita berhentu menggunakan Zoom. Namun, agar kita dapat terhindar dari dampak negatifnya mencari alternatif antarmuka yang lebih pas. Lebih jauh, ia mencoba merumuskan saran baik bagi pengguna maupun organisasi agar menignkatkan fitur yang dapat mengurangi efek kelelahan akibat penggunaan.
“Konferensi video merupakan solusi komunikasi jarak jauh, namun kita perlu pikirkan tentang medianya – (bukan berarti) hanya karena Anda dapat menggunakan (platform) video tersebut,  tidak berarti Anda harus menggunakannya,” kata Bailenson.
Berikut ialah empat aspek penyebab kita lelah setelah melakukan telekonferensi berdasarkan studi yang Beilenson lakukan. Para pembaca juga terlibat dalam riset yang bertujuan untuk mengembangkan “Skala Kelelahan Zoom”/ Zoom Exhaustion & Fatigue (ZEF) Scale.
  1. Telalu banyak kontak mata dengan intensitas yang amat tinggi
Jumlah kontak mata yang kita lakukan selama telekonferensi/ panggilan video, juga ukuran wajah yang tampil pada layar tidak natural.
Pada pertemuan normal (tatap muka), orang dapat melihat berbagai macam objek sekaligus melakukan berbagai hal, mulai dari melihat wajah pembicara (kontak mata, mimik wajah, isyarat tangan), di saat bersamaan kita mencatat apa yang disampaikan, bahkan melihat pemandangan di luar kelas atau teman sekelas yang cantik/ tampan. Namun, ketika kita menggunakan pertemuan virtual, pandangan saling tertuju pada satu sama lain. Kontak mata seketika meningkat drastis. Rasanya, semua orang sedang menatap kita.
“Cemas ketika berbicara di depan umum merupakan salah satu fobia terbesar di tengah-tengah kita,” kata Bailenson. “Saat Anda berdiri di sana dan semua orang menatap Anda, itu merupakan pengalaman yang membuat stres.”
Penyebab stres selanjutnya ialah aspek teknis, yakni ukuran monitor/ layar. Jika kita menggunakan monitor eksternal yang besar, efeknya stres-nya akan bertambah besar karena wajah yang muncul pada monitor akan terlalu dekat. Jika wajah seseorang teralalu dekat dalam pertemuan nyata, otak kita akan menginterpretasikannya sebagai situasi yang terlalu intense. Biasanya kita melakukannya saat bercumbu atau sedang berkonflik.
“Sebetulnya, saat Anda menggunakan Zoom selama berjam-jam, sejatinya, Anda dalam kondisi terangsang,” kata Bailenson.
Solusinya, Sampai platform mengubah antarmuka mereka, Bailenson merekomendasikan kita memilih “zoom out” opsi layar penuh dan mengurangi ukuran jendela Zoom relatif terhadap monitor untuk meminimalkan ukuran wajah. Lebih baik lagi kita menggunakan papan ketik (keyboard) eksternal untuk memberi jarak pribadi antara diri sendiri dan grid.
  1. Melihat wajah sendiri di saat bersamaan kala telekonferensi itu amat melelahkan
Mayoritas platform video berbentuk persegi dan wajah Anda akan terlihat seolah-olah serperti itu sepanjang teelekonferensi. “Itu tidak natural,” ujar Beilanson. “Di dunia nyata, jika seseorang terus-menerus mengikuti Anda dengan cermin – sehingga ketika Anda berbicara dengan orang, membuat keputusan, memberikan umpan balik, mendapatkan umpan balik – dan Anda melihat diri Anda sendiri di cermin, itu gila! Tidak ada yang akan ada orang yang dapat bertahan dengan kondisi itu, ” tambahnya.
Bailenson mengutip satu studi yang mengungkap jika kita melihat bayangan diri kita, maka kita akan mengkritik diri kita. Banyak dari kita sekarang melihat diri kita dalam video ketika telekonferensi berjam-jam. “Itu membebani kita, membuat kita stres dan banyak penelitian yang menunjukkan, terdapat konsekuensi emosional negatif saat melihat diri sendiri di cermin. “
Solusinya, Bailenson menganjurkan agar platform mengubah tampilan video default untuk diri sendiri dan orang lain, ketika kita sedang berbicara ke orang lain atau ketika sedang menerima pesan dari orang lain. Sebaiknya kita mengaktifkan fitur “sembunyikan tampilan sendiri”. Anda dapat mengaksesnya dengan mengklik kanan foto sendiri.
  1. Telekonferensi/ panggilan video mengurangi aktifitas fisik kita secara drastis
Berbeda dengan ketika kita melakukan telepon yang hanya menggunakan audio, telekonferensi menuntut kita muncul di jendela platform. Smentara ukuran jendela tersebut amat terbatas sehingga menuntut kita untuk diam di tempat. “Sementara itu, kini sedang berkembang riset yang mengungkapkan ketika seseorang bergerak, performa kognitifnya akan lebih baik,” ujar Bailenson.
Solusinya, kita hendaknya mempertimbangkan ruangan yang kita gunakan, di mana letak kamera, dan sebisa mungkin mengatur papan ketik (keyboard) ekternal yang memberikan kita jarak agar lebih fleksibel. Misal, kita dapat menempatkan kamera agak jauh dari layar di depan kita. Tentu kita juga boleh sesekali mematikan layar kita untuk sekadar berisirahat dari “tuntutan kebutuhan isyarat non-verbal”. Tambahan dari kami, Anda juga dapat menggunakan ponsel sehingga dapat berpindah-pindah lokasi.
  1. Aspek kognitif pada diri kita tertuntut bekerja lebih keras saat telekonferensi
Bailenson memberikan catatan, ketika kita melakukan komunikasi tatap muka, secara natural, kita saling bertukar pesan melalui isyarat non-verbal. Karena natural, kita melakukannya dengan reflek. Namun, ketika kita telekonferensi, diri kita tertuntut bekerja lebih keras untuk mengirim dan menerima sinyal (pesan).
Akibatnya, kita tak bisa lagi menggunakan perangkat komunikasi kita yang paling natural. Sebagai gantinya, kita tertuntut lebih banyak berpikir; menggunakan alam sadar kita. “Anda harus memastikan posisi kepala Anda terletak di tengah-tengah dari jendela platform. Jika Anda ingin menunjukkan kepada seseorang jika Anda setuju dengannya, Anda harus mengangguk secara berlebihan atau mengacungkan jempol. Itu menambah beban kognitif dan Anda menggunakan kalori mental untuk berkomunikasi.”
Yang juga perlu kita perhatikan ialah, dalam komunikasi via video, gestur yang biasa kita gunakan berpeluang membuka interpretasi yang berbeda dengan yang kita maksud. Ketika seseorang dalam layar tiba-tiba mengalihkan pandangan pada anaknya yang berada tepat di arah layar, ada kemungkinan diartikan melihat pada seseorang yang ada dalam salah satu jendela (grid).
Solusinya, dalam rentang pertemuan daring, baiknya kita memberikan diri kita istirahat denga menggunakan fitur “audio only“. “Ini bukan hanya Anda mematikan kamera untuk beristirahat dari tuntutan aktif secara nonverbal, tetapi juga menjauhkan tubuh Anda dari layar,” kata Bailenson, “sehingga selama beberapa menit Anda tidak tertuntut gerakan yang realistis secara perseptual namun tak berarti secara sosial.”
2 Shares
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like