Aktifitas Zooming memang ‘hanya’ duduk, tapi sesudahnya, “rasanya capek banget”. gamber: unsplash.com/@alex_dream

Bila Anda Merasa Begitu Lelah Setelah Video Telekonferensi Artinya Anda Mengalami “Zoom Fatigue”

2 Shares
2
0
0
Sapopoé –  Usai mengisi materi workshop selama dua jam, Taofik Rifa’i mengucek matanya karena perih. Aktifitas Zooming memaksanya lakukan screen time lebih banyak dari sebelumnya. Selain mata, ia juga merasa kepalanya begitu berat. “Rasanya capek banget, lelah, rasanya pengen minum terus,” ungkapnya. Ia mengaku, secara umum, metode kerja yang baru ini menguras lebih banyak energinya.
Sampai saat ini, selaku Product Lead di Agile Innovation Labs, ia sering diundang mengisi workshop. Dalam sehari, Taofik bisa mengisi hingga tujuh workshop, “Bisa sampai jam 10-11 malam,” terangnya. Ia juga tahu, jika tingkat konsentrasi manusia itu, maksimal hanya dapat bertahan 90 menit, lebih dari itu, konsentrasi akan perlahan menurun, kelelahan pun mendera.
Workshop yang perlu banyak melibatkan peserta, menuntut Taofik harus mampu memberikan perahatian lebih pada keikutsertaan peserta. “Untuk mengatasinya, saya selalu menyediakan minum di meja kerja saya, terus kalau udah lelah banget, gak ada obat lain kecuali tidur,” ternagnya. “Gak ada yang lebih ampuh dari tidur sih kalau udah capek benget.”
Pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia, memaksa para pembuat kebijakan untuk menerapkan Work Form Home (WFH). Selaku warga, kita terpaksa harus beradaptasi dengan metode kerja baru. Kemudian mucul berbagai fenomena baik sosial maupun kesehatan – selain pandemi itu sendiri- menarik perhatian para peneliti.
“Zoom Fatigue” merupakan salah satu fenomena yang muncul ke permukaan. Istilah ini kemudian tersebar cepat melalui media sosial. “Zoom Fatigue” menjadi salah satu kata kunci yang banyak orang cari seketika itu melalui “Google Search”.
Pada dasarnya, baik sebagai pembicara maupun pendengar, keduanya mengalami kelelahan tersendiri. Antarmuka (interface) pada aplikasi hadirin untuk fokus dengan lebih intense untuk menyerap informasi. Di sisi lain, pembicara (apakah itu presenter/ dosen/ guru), harus meningkatkan tingkat empati karena menghadapi sekumpulan hadirin dengan emosi yang mudah sekali berubah, belum lagi kalau kita pertimbangkan.

Apa itu ‘Zoom Fatigue’ dan bagaimana ia membuat kita begitu lelah

‘Zoom Fatigue’ pada dasarnya merupakan kelalahan, kecemasan, dan burnout akibat menggunakan platform komunikasi virtual berlebihan. Istilahnya menggunakan salah satu platform, ‘Zoom’ yang menjadi populer di masa pandemi global, covid-19.
Bukan berarti karena munggunakan istilah “Zoom”, hanya aplikasi “Zoom” yang dapat mengakibatkan kelalahan (fatigue). Baik menggunakan Google Hangouts, Skype, FaceTime, dan berbagai aplikasi panggilan video, kita berpotensi mengalami “Zoom Fatigue”. “Zoom” hanya mewakili terminologi “video conference”, “webinar”, atau “webcast”.
Bagaimana kita dapat memahami jika telekonferensi video ini dapat membahayakan bagi mental dan otak kita? Sejatinya ada banyak riset yang menunjukkan jika kita bekerja keras dengan ini. Begitu ungkap asisten profesor psikologi siber di Virginia’s Norfolk State University, Andrew Franklin pada National Geographic. Ia berpendapat, masyarakat mungkin terkejut betapa beratnya konsekuensi komunikasi menggunakan platform video.
“Mengingat, medianya tampak terbatas pada layar kecil ditambah dengan potensi distraksi yang sesekali muncul,” ungkapnya.
Pada dasarnya, manusia itu senantiasa berkomunikasi, bahkan jika terlihat diam. “We can not not communicate,” begitu ungkapan Paul Watzlawick yang populer di kalangan akademisi bidang studi Komunikasi.
Saat kita berkomunikasi, sementara sebagian otak kita fokus pada kata-kata yang hendak kita ucapkan, sebagian lainnya berupaya memaknai lusinan isyarat non-verbal. Contoh isyarat non-verbal dapat kita lihat misalnya, wajah tertunduk saat Anda bertanya padanya karena gelisah atau menarik napas dengan cepat sesaat sebelum lawan bicara Anda akan menyela.
Isyarat tersebut merupakan gambaran holistik dari pesan yang disampaikan seseorang pada lawan bicaranya. Isyarat tersebut juga menggambarkan respon lawan bicara, apakah sesuai harapan kita atau tidak. Sebagai makhuk sosial, kita memahami isyarat ini secara alamiah. Kita membutuhannya sebagai konteks untuk dapat memahami pesan dan juga sebagai dasar tanda kedekatan emosial seseorang.
Namun, karakter telekonferensi atau panggilan video membuat kita tak bisa saling mengirim isyarat tersebut. Akibatnya, kita harus mengeluarkan energi lebih untuk lebih intens memperhatikan kata-demi kata yang lawan bicara kita sampaikan. Apalagi jika bagian tubuh yang muncul pada layar hanya dari bahu ke atas, kita tidak dapat menangkap pesan yang disampaikan lewat gerakan tangan atau bagian tubuh lainnya.
Belum lagi jika kualitas video (gambar) jelek -karena sinyal atau karena perangkat yang tidak memadai- pesan seharusnya dapat kita tangkap dari ekspresi wajah, sirna sudah. Wabil khusus, kontak mata sebagai isyarat yang paling kuat berperan menyampaikan maksud sebenarnya dari perkataan.
Faktor lainnya ialah faktor Multi-layar (screen) yang memperparah masalah. Tampilan galler – di mana semua partisipan muncul – memaksa pusat fungsi penglihatan pada otak bekerja lebih keras. Kondisi tersebut memaksa fungsi tersebut untuk menangkap (decode) isyarat dari begitu banyak orang dalam satu waktu, sementara, bisa jadi, tak satupun yang bermakna, termasuk sang pembicara.
“Kita terlibat dengan begitu banyak aktifitas, namun pada dasarnya kita tidak dapat membuat diri kita fokus pada apapun yang terpisah-pisah,” terang Franklin. Psikologis mengistilahkannya dengan Continous Partial Attention, dan ini berlaku juga pada lingkungan virtual sebagaimana lingkungan nyata. “Pikirkan, betapa sulitnya kita melakukan aktifitas memasak dan membaca pada saat bersamaan,” ujarnya.
Masalah ini kemudian membuat ruang konferensi tidak interaktif, hanya ada orang yang berbicara, sementara yang lainnya mendengarkan. Secara teknis, memang sulit juga untuk melakukan komunikasi secara interaktif-kolaboratif karena fitur pada platform/ aplikasi mengharuskan kita berbicara secara bergilir.
Bagi beberapa orang, membagi perhatian yang berkepanjangan dapat menguras terlalu banyak energi sementara tak memperoleh apapun. Otak kemudian menjadi kewalahan oleh ekses stimuli yang tidak familiar, yakni menjadi “hyper” fokus mencari isyarat non-verbal yang tak kunjung didapati.
“Karena itulah, panggilan telepon (tradisional) tidak terlalu berat bagi otak,” ujar Franklin. “Itu karena (telepon) hanya menjanjikan satu hal, yakni ‘hanya menyampaikan suara’.”
Pada akhirnya, kita juga tak bisa memungkiri jika Zooming membuat kita dapat berkomunikasi dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Perangkat tersebut membuat kita dapat merawat hubungan jarak jauh (LDR), menghubungkan ruang-ruang kerja, dan dalam ruang sosial lainnnya (pertemanan), kita dapat tetap terkoneksi dan merasakan kebersamaan meski, secara fisik, kita berada di rumah masing-masing.
2 Shares
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like