Di satu sisi ingin menyelesaikan pekerjaan, di sisi lain, anak juga perlu teman, saatnya menggunakan jasa pengasuhan anak digital. Gambar sebagai ilustrasi: unsplash.com/@itshoobastank

Virtual Babysitting: Pengasuhan Anak Lewat Video Call

0 Shares
1
0
0
Sapopoé – Keharusan bekerja di rumah, membuat sebagian orang tua tak punya pilihan menitipkan anak pada babysitter. Mau menitipkan pada orang dari luar rumah, tentu sama mengkhawatirkannya dengan kita harus berangkat ke kantor. Resiko terpapar menjadi taruhan yang pasti takkan kita pilih.
Namun, bekerja di rumah dengan anak di sektiar kita juga tidak selalu mudah, terutama bagi yang berperan sebagai Ayah maupun Bunda, sama-sama berstatus pekerja atau profesional. Mengatur jadwal pun pada kondisi tertentu tak juga menjadi solusi membuat kita bisa sepenuhnya fokus pada pekerjaan.
Upaya lainnya, yang orang tua lakukan ialah dengan mengalihkan perhatian anak pada mainan, kegiatan menggambar, hingga menggunakan “senjata andalan”, YouTube. Namun, memberikan sepenuhnya “kewenangan” pada YouTube mengasuh anak kita, tentu bukan pilihan.
Bagaimanapun, menonton berlebihan, bisa berdampak buruk pada perkembangan psikologis anak. Apalagi jika tanpa pengawasan orang tua. Bisa jadi, anak malah terpapar “video yang meresahkan”. Ada batas waktu juga ketentuan jenis tontonan yang harus kita perhatikan selaku orang tua ketika berniat menjadikan YouTube sebagai “digital babysitter“.
“Di mana ada masalah, di sana ada pasar atau peluang bisnis”. Di tengah kondisi tersebut, lahirlah ide “Virtual Babysitter“. Itu merupakan jasa pengasuhan anak dengan media fitur panggilan video. Cara kerjanya, mirip dengan kegiatan sekolah daring, di mana orang dewasa berinteraksi dengan anak melalui fitur panggilan video pada gawai.
Sebetulnya, kita selaku orang tua, bisa meminta tolong pada kerabat dekat; nenek-kakek, atau paman-bibi anak kita untuk menemani melalui fitur panggilan video. Namun, adakalanya, kita tak bisa sepenuhnya menyerahkan sepenuhnya pada mereka. Tentu bukan karena tak handal, melainkan momennya yang kadang bertepatan di mana mereka tak bisa karena berbagai alasan.
Di sinilah titik di mana kita memilih opsi menggunakan tenaga profesional “virtual baby sitter“. Mereka adalah para profesional atau anggota komunitas yang peduli pada perkembangan anak-anak. Mereka yang memang kesehariannya, mendedikasikan waktu dan tenaganya, khusus mengasuh anak.
Sampai saat ini, kami belum menemukan jasa sejenis ini di wilayah Indonesia. Namun, di Amerika Serikat, ada sittercity, UrbanSitter, Screen Sitters, dan VeeBee. Bagi teman-teman yang mau membuka operasi jasa ini di Indonesia, bia mempelajarinya di link yang tertaut.

Mulai dari bermain games bersama hingga senam bersama

Tentu, Anda tak bisa berekspektasi babysitter akan mengganti popok anak, menidurkan anak di kasur, atau mengejar anak Anda yang berkeliaran di seputar rumah. Namun, virtual babysitter dapat menghibur anak Anda, menemani anak Anda, sementara Anda dapat menyelesaikan pekerjaan rumah atau bersitirahat sejenak setelah bekerja.
Mengutip northwesternmutual.com , salah satu orang tua di Amerika bernama Roe mengatakan jika pengasuh dapat melakukan berbagai aktivitas bersama anak. Mulai dari menceritakan cerita untuk anak, bermain games bersama, hingga membuat kerajinan tangan bersama. Bahkan, kegiatan menari dan senam pun dapat dilakukan.
“Anak perempuan saya mencoba mengikuti kelas hip-hop daring baru-baru ini dan dia menjadi populer,” ujar Roe. “Untuk anak-anak yang pemalu dan memiliki hambatan dalam berinteraksi secara langsung, kelas virtual ialah pilihan yang tepat untuk memperkenalkan aktivitas baru pada mereka.”
Selain itu, Roe menemukan pelajaran virtual juga bermanfaat bagi anak sulungnya yang mengikuti les matematika dan piano jarak jauh. “Sebagai orang tua, saya merasa putri saya memperoleh lebih banyak pembelajaran melalui bimbingan daring daripada di kelas tatap muka,” terangnya. “Saya berencana melanjutkan format pembelajaran daring ini setelah larangan beraktifitas di luar rumah dicabut.”

Berapa harganya?

Perjam, orang tua di Amerika harus merogoh kocek $ 17,73 (sekitar Rp 256 Ribu )untuk satu orang anak atau $ 20,30 (sekitar Rp 293 Ribu). Namun, banyak juga service sejenis yang menawarkan harga yang lebih rendah. Pada dasarnya, harga akan tergantung variasi jasa yang Anda butuhkan, tentu jika kita membutuhkan jasa pengajaran atau pelatihan, harga bisa jadi lebih tinggi dari rata-rata.

Apakah efektif?

Direktur UrbanSitter, Lynn Perkins, menerangkan pengasuhan daring dapat bekerja secara optimal hanya dalam waktu yang sebentar, biasanya setengah jam hingga satu jam. “Dan orang tua harus berada di sekitar anak, setidaknya dapat mendengar suara anak,” ujarnya. Ia juga mengatakan, waktu terbaik menggunakan pengasuhan jarak jauh ialah pada pagi hari, di mana anak dalam kondisi segar setelah bangun tidur.
Selain itu, memfokuskan kegiatan pada hobi atau kesenangan anak bisa menjadi perekat yang natural pada anak usia yang lebih dewasa. Screen Sitters, Start-up yang berbasis di santa Monica, mempekerjakan virtual babysitter yang memiliki keterampilan yang spesifik, seperti berbicara atau bermain olah fisik. Sang co-founder, Peter Szaboo, terinspirasi dari pengalaman pribadinya, ingin istirahat sejenak dari kedua anak lelakinya yang berusia 3 dan 6 tahun.
Szabi menemukan anak bungsunya dapat duduk diam saat sesi FaceTime dengan kakek dan neneknya, sedangkan anak pertamanya dapat memperhatikan orang asing di layar selama topiknya menarik bag dirinya. Szabi kemudian membuat produk yang fokus pada anak-anak usia 6 hingga 12 tahun dengan pengasuh yang dapat berinteraksi sesuai minat anak selama 30 hingga 60 menit persesi.
Pediatris asal Ohio, yang juga pimpinan American Academy of Pediatrics’ comitee on social family helath, Arthur Lavin, M.D., mengatakan, prinsipnya, pengasuhan virtual akan efektif selama anak dapat berkomunikasi dengan baik dan tertarik dengan personal yang muncul di layar. Menurutnya, beban justru ada pada sang pengasuh, daripada anak.
Pendapat tersebut persis dengan pengalaman yang diungkapkan oleh konsultan yang berbasis di Washington D.C., Erin Upton. Ia mencoba sendiri jasa pengasuhan virtual tersebut, dan dia menemukan beberapa kondisi yang akhirnya membuat pengasuhan virtual menjadi tidak efektif dari sisi pengasuh maupun anak.
“Memang, tidak selalu mudah,” ujarnya. Ia menemukan anaknya yang masih berusia prasekolah dapat teralihkan dari kegiatan pengasuhan virtualnya kala pengasuh menanyakan pada anak soal apa yang ingin ia lakukan. “Pengasuhan juga menjadi tidak efektif manakala anak kurang isirahat atau tidurnya kurang berkualitas.
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like