Facebook sedang dalam proses pembuatan Instagram for Kids. Namun, rencanan ini mnegundang pro-kontra di masyarakat. Kredit gambar: unsplash.com/@alexbemore

Menyoal Rencana Facebook Membuat Instagram Versi “Kids”

1 Shares
1
0
0
“Saya dengan senang hati mengumumkan, kami tengah menentukan proyek (dengan target) anak muda sebagai prioritas di Instagram, bahkan kami memasukannya pada daftar prioritas H1 kami,”
– Wakil Presiden Produk Instagram, Vishal Shah di papan pesan karyawan pada hari Kamis (18/3/2021). BuzzFeed News.
Sapopoé – Vishal Shah mengungkapkan jika, saat ini, pihaknya tengah berupaya meningkatkan integritas mereka dan persoalan privacy untuk memastikan penggunaan yang paling aman bagi para pengguna muda. Juga mereka akan memastikan membangun instagram dengan versi yang aman untuk digunakan pertama kali.
Pimpinan Eksekutif Instagram, Adam Mosseri, pun mengonfirmasi jika apa informasi tersebut benar adanya. “Namun, belum ada recana secara mendetail,” ujarnya. Ia juga menyampaikan dalam tweet-nya, jika permasalahan yang mereka hadapi ialah bagaimana membuat instagram dengan fitur, di mana orang tua dapat mengontrolnya. “Inilah satu hal yang sedang kami cari tahu.”

Mengacu pada postingan Vishal Shah, proyek ini akan diawasi langsung oleh Mosseri. Sedangkan Pavni Diwanji akan bertugas sebagai pimpinan proyeknya. Pavni baru saja bergabung dengan Facebook Desember 2020. Sebelumnya Diwanji bekerja di Google dengan konsentrasi pada produk dengan sasaran anak-anak, salah satunya YouTube Kids.
Dua hari sebelumnya, Instagram memublikasi blog yang mengungkapkan jika mereka perlu melakukan upaya protektif pada para pengguna mudanya. Sebelumnya, Instagram tersandung oleh isu publik, jika aplikasi Instagram rentan menjadi “portal of pain” para pengguna mudanya, yakni penyalahgunaan dan juga perundungan. Sebagaimana dipublikasikan oleh The Atlantic.
Postingan tersebut tidak menyebutkan secara eksplisit jika mereka akan membuat produk untuk anak usia 13 tahun ke bawah. Namun, mereka menyatakan, “tertera dalam aturan penggunaan, sebetulnya kami memberlakukan larangan bagi anak berusia 13 tahun ke bawah.”
Dalam artikelnya, pihak Instagram juga mengutip pernyataan Psikologis Klinik dari Child Mind Institute, dr. Dave Anderson yang menyatakan jika ia dan pihak Instagram telah membuat “Panduan Orang tua baru yang telah mereka kerjakan telah berfungsi dengan baik dalam menyaring apa yang perlu orang tua ketahui dan cara mendukung anak remaja mereka saat bermedia sosial”.
“Instagram dapat memberikan kesempatan pada kaum muda untuk memperkuat koneksi, melatih keterampilan sosial, dan menemukan komunitas yang mendukung,” ujarnya. “(Untuk itu), orang tua dan anak harus dibekali dengan informasi cara mengelola waktu mereka saat menggunakan platform dengan bijaksana, aman, dan intensional.”

Pro-Kontra

Reporter senior BuzzFeed News, Ryan Mac, memberikan tanggapan dengan nada kritis pada tweet Mosseri. Ia mengatakan, jika Instagram belum selesai dengan masalah perundungan, juga pelecehan pada platform utamanya (Instagram saat ini ed.). “Mengingat itu, masyarakat khawatir dengan kemungkinan yang dilakukan oleh platform baru nantinya pada pengguna yang lebih muda.

Pendapat lainnya datang dari akun twitter @tradeogram, yang mengatakan, “Berhenti menggunakan platform bukanlah masalah, namun jika Anda memberikan kontrol soal siapa berteman dengan anak kita di Instagram, tidak masalah.”

Sebuah akun lembaga non profit Sleeping Giant melancarkan nada kritik yang lebih pedas pada Mosseri, dengan mengatakan, jika pihak Facebook saja tidak mampu mengontrol platformnya, “Bagaimana Anda bisa berkespektasi orang tua akan melakukannya?” ujarnya. “Man, ini adalah masalah yang paripurna. Belum cukupkah Facebook membuat kerusakan?”

Menargetkan produk online pada anak-anak, bukan saja memunculkan isu menyoal privacy dan perundungan, namun juga akan berkaitan dengan hukum. Sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya pada Google yang harus membayar denda hingga $ 170 Juta atau sekitar Rp 2,4 Triliun karena mencoba menelusuri jejak tontonan anak-anak dengan tujuan menjadi sasaran iklan.
Federal Trade Commission Amerika menjatuhkan hukuman tersebut pada 2019 karena melanggar hukum COPPA (the Children’s Online Privacy Protection Act). TikTok juga mengalami hal yang sama dengan delik yang sama dan harus membayar denda $ 5,7 Juta atau sekitar Rp 83,1 Miliar.
Facebok juga sebelumnya pernah membuat platform Messenger untuk anak-anak usia 6- 12 tahun pada 2017. Namun, Advokat Kesehatan mengritisinya karena menurut penilaiannya berbahaya bagi anak. Sang Advokat juga kemudian mendorong C.E.O. Mark Zuckenberg menghentikannya.
Kemudian, pada 2019 sebuah Bug di Messenger Kids ditemukan membiarkan anak bergabung dalam satu grup orang asing, membiarkan anak berbincang dengan akun-akun yang tidak jelas asal-usulnya. Facebook kemudian menutup semua ruang chat tersebut dan mengatakan berimbas pada berkurangnya sebagian pengguna platform tersebut.
Kandidat PhD di University of Maryland, Priya Kumar mengatakan pada BuzzFeed News, jika Instagram untuk anak-anak pada akhirnya adalah sebentuk upaya Facebook untuk memancing anak-anak, “Hubungan sosial ada (pada akhirnya) untuk dimonetasi”. Priya Kumar meneliti soal efek media sosial pada keluarga .”
“Dari perspektif privacy, pihak Facebook sedang berupaya meligitimasi interaksi yang anak-anak lakukan untuk dimonetasi sebagaimana berlaku pada pengguna dewasa,” ujarnya.
Pada akhirnya, sebagaimana yang terjadi pada YouTube Kids, anak-anak akan bermigrasi juga ke platform utama yang merupakan harapan bagi Google dan pada akhirnya, membetot perhatian orang tua.
“Hanya karena Facebook menyediakan platform khusus anak-anak, bukan berarti anak-anak akan terus menggunakannya,” pungkasnya.
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like