Seiring dengan terbukanya akses internet juga berkembangnya berbagai infrastruktur lain, bermain gim kini bukan hanya selingan di waktu luang, namun bisa menjadi salah satu opsi berkarir. “Foto ‘n)tail” milik valve

Skill Esensial Agar Menjadi “Lionel Messi” di Esport

1 Shares
1
0
0
Kita ketahui, atlet profesional sepak bola asal Argentina Lionel Messi bisa memperoleh penghasilan, baik dari gaji maupun sponsor, hingga $ 104 juta. Apa yang membuat Messi memperoleh bayaran setinggi itu? Tentunya skill yang Messi miliki menjadi jawabannya. Kemudian, skill apa yang kita butuhkan agar dapat menjadi seorang “Messi” di bidang esport atau atlet esport profesional?
sapopoé – Seiring dengan meluasnya akses internet, juga canggihnya perangkat, juga anggota ekosistem lainnya, bermain gim, kini, bukan hanya menjadi selingan di waktu luang, namun, juga bisa menjadi jalan karir kita. Kita mengenalnya dengan e-sport. Dengan bermain gim, seseorang dapat memperoleh ketenaran, memiliki followers jutaan, bahkan memperoleh penghasilan yang, bukan hanya jutaan, melainkan milyaran rupiah.
Mengutip dotesports.com, penghasilan tertinggi di dunia dari bermain gim saat ini mencapai $ 6,9 juta atau sekitar Rp 99,6 Miliar. Dialah John “N0tail” Sundstein yang merupakan veteran DOTA 2. N0tail memperolehnya setelah membawa timnya, OG memenangkan pertandingan pada ajang “The International” pada kedua kalinya berturut-turut pada 2019.
Pria asal Denmark kelahiran 1993 in memulai karirnya sebagai atlet gim profesional pada usia 15 tahun. Kala itu ia berjumpa dengan Jascha “NoVa” Markuse dan Tal “Fly” Aizik dalam satu permainan gim. Ketiganya kemudian bergabung dalam sebuah tim yang dikelolah oleh manajer “Fnatic”, Danijel “StreeT” Remus. Ketiganya kemudian bergabung dalam tim utama Fnatic yang beranggotakan Henrik “FreshPro” Hansen dan Kalle “Trixi” Saarinen setelah menunjukkan performanya pada pertandingan gim “Heroes of Newerth“.
Sedangkan Indonesia memiliki Hansel “BnTeT” Ferdinand (25). Player Counter Strike: Global Offensive. Total hadiah yang dia kantongi saat ini sudah mencapai $ 168,758 atau sekitar Rp 2,3 Miliar. Jumlah tersebut ia dapatkan saat ia membela tim Tyloo. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh si kembar Made Bagus “Luxxy” Prabaswara (17) dan Made Bagus “Zuxxy” Pramudita (17) dengan masing-masing pendapatan mencapai $ 83,448 atau Rp 1,18 Miliar dan $ 83,448 atau Rp 1,18 Miliar, sebagaimana esport.skor.id sampaikan.

Sumber penghasilan selain dari turnamen

Selain dari turnamen, sumber pendapatan para atlet juga berasal dari gaji sebagai anggota tim, live streaming, sponsorship, dan sebagai pengembangan karir, salah satunya menjadi panelis atau komentator turnamen gim. 2017 lalu ESPN merilis data rata-rata penghasilan pemain gim di Amerika Utara dan Eropa. Rata-rata penghasilan atlet gim di Amerika memperoleh gaji sampai dengan $ 105 Ribu atau Rp 1,5 Miliar pertahun atau Rp 125 juta perbulannya. Sedangkan atlet di Eropa mencapai $ 81 Ribu atau Rp 1,12 Miliar pertahun atau Rp 93,3 Juta perbulan.
Untuk streaming, kita bisa melihat YouTuber genre Gaming, seperti Jess No Limit, atau bahkan Pewdepie. Mengacu ke social blade, estimasi pendapatan Jess dari YouTube ada di rentang $ 6,2 Ribu – $ 98,6 Ribu perbulan atau atau Rp 89,6 Juta – Rp 1,4 Miliar perbulan.
Genre gaming merupakan genre yang paling banyak penontonnya. Rentang segmennya cukup luas secara usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. YouTube merilis pada akhir tahun lalu, “2020 adalah Tahunnya YouTube Gaming” karena mencapai 100 Milyar jam menonton. “Secara global konten gaming di YouTube ditonton selama 100 Milyar jam,” ungkap pihak YouTube dalam salah satu blognya. “Itu seperti Anda travelling pulang-pergi ke Neptunus sebanyak 475.000 kali.”
Belum lagi jika para gamers ini juga aktif menggunakan Twitch  saat bermain gim secara live. Ada empat keran potensi pemasukan bagi para penggunanya. Mulai dari donasi dari para fans hingga penghasilan dari iklan.
  1. Donasi: uang donasi ini, langsung mengalir ke rekening sang gamer, melainkan hanya dipotong untuk biaya administrasi PayPal atau kartu kredit jika Anda menggunakannya
  2. Langganan berbayar: Bagi mereka yang sudah mencapai jumlah streamer tertentu. Twitch biasanya membagi dua pendapatan yang mereka peroleh. Jika sang gamers memperoleh 10 ribu viwer di setiap streaming, Twitch memberi 30%. Salah satu gamer yang sukses menggunakan Twitch ialah Tyler Blevin alias “Ninja”. Dengan 200.000 subscriber berbayar, ia memperoleh $ 500 Ribu perbulan atau Rp 7,2 Miliar.
  3. Iklan: Mirip dengan di YouTube, gamer bisa mendapatkan penghasilan dari iklan dari pihak ketiga, baik berupa pre-roll ads (Tayang di awal streaming) atau di sela-sela tayangan. Jeremy Wang alias “Disguised Toast” berhasil memperoleh $ 10 Ribu perbulan atau Rp 144,4 Juta.
  4. Sponsorship: Seorang gamer mendapatkan bayaran untuk memainkan gim tertentu. Gamer akan memperoleh bayaran mulai dari satu cent hingga satu dolar perjamnya. Seorang gamer top bahkan bisa memperoleh hingga $ 10.000 atau sekitar Rp 144 Juta perjamnya. Gamer juga dapat memperoleh bayaran dari sponsornya dengan cara sang gamer membuat video bersponsor di YouTube. Bayarannya bisa mencapai $ 5.000 per-30 detik atau sekitar Rp 71,7 Juta.
Untuk sponsorship, atlit gim dapat memperolehnya secara perorangan. Jumlah sponsor dapat kita lihat pada logo yang tertera pada jersey sang pemain gim. Beberapa pemain, bahkan menempatkan logo setelah tulisan nama sang pemain. Dari sponsorship inilah, para atlit mendapatkan gajinya dari menajemen tim. Secara keseluruhan, pemasukan dari sponsorship dan iklan inilah yang mendominasi pemasukan bagi tim. Jumlahnya mencapai 90% dari keseluruhan pemasukan bagi sebuah tim.
Dengan ketenaran yang diperoleh, satu “brand” tim atlet, ikatan emosi pun terjalin dengan para penonton atau para penggemar sang atlet. Kemudian, manajemen tim menyediakan merchandise sebagai tambahan pemasukan bagi tim mereka.

Jalan terjal menjadi atlet e-sport dan skill esensial

Namun, untuk mencapai tahap tersebut, tentu ada jalan yang harus Anda tempuh. Hobi bisa menjadi pintu masuknya, namun, hobi yang menghasilkan ialah hobi yang Anda tekuni. Pada dasarnya, “Setiap pencapaian ada pengorbanan”. Mulai dari orang tua yang tidak mendukung, menahan diri untuk memiliki pasangan.
Sebagaimana yang juga rilis riset yang ESPN lakukan pada 2017 lalu yang mengungkap kehidupan sehari-hari para atlet pro League of Legend. 61% dari 33 atlet anonim mengaku tidak mendapatkan restu orang tua pada awalnya. 67% mereka juga tidak memiliki pasangan. Bagaimana tidak, mereka bisa menghabiskan rata-rata 21 jam, bahkan paling lama hingga 80 jam untuk satu sesi permainan.
Jika kamu memang berniat menjadi atlet e-sport profesional, ada tiga skill esensial yang perlu kamu kuasai menurut penulis buku “The Book of E-Sport” sekaligus C.E.O. Esport, William Collins. Dalam paparannya yang dimuat oleh ted.com . Tiga skill esensial itu ialah, mechanical skill, strategic skill, dan leadership skill.
  1. Mechanical skill: Collins mengistilahkan skill ini sebagai skill mikro. Skill ini akan membantu para atlet dalam menghadapi dunia pexel dengan akurasi yang sempurna. Skill ini mirip dengan yang kita gunakan dalam bermain piano. “Ada aliran musik dan waktu, juga mempredikisi tindakan serta reaksi lawan,” ujar Collins. “Yang terpenting, seperti piano, atlet e-sport profesional harus menekan lusinan tuts sekaligus.”
  2. Strategic skill: Skill makro ini akan membantu para pemain gim mengatur strategi dengan cakupan lebih luas dalam rangka memenangkan pertandingan gim. Skill ini sama seperti skill yang kita gunakan untuk memenangka pertandingan catur. “Anda harus merencanakan serangan dan serangan balik dan memanipulasi “perang” yang Anda lakukan untuk kemenangan Anda,” ujar Collins. “Namun, yang juga perlu kita perhatikan, tidak seperti catur, e-sport terus ber-evolusi secara konstan.”
  3. Leadership skill: Sebagaimana permainan atau pertandingan lainnya, ketika bermain dalam satu tim, kerjasama antar pemain akan sangant menentukan menang atu kalah. Untuk itulah, Headset biasanya menempel pada kepala para pemain gim. “Keterampilan ini sangat diperlukan oleh pemimpin tim sehingga dapat menyatukan anggota timnya, terutama di momen kritis juga menginspirasi mereka melakukan serangan all-in terakhir beresiko di markas lawan.”
“Semua skill itu ada tataran mental, tidak seperti skill yang diperlukan untuk berkarir di olah raga basket yang mempersyaratkan tinggi badan lima kaki,” ujarnya dalam kalimat penutup. “E-sport tidak memandang tinggi badan Anda, gender, usia, bahkan mereka yang memiliki kebutuhan fisik unik pun bisa beradaptasi dengan e-sport.”
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like