Selain soal durasi menonton, tontonan pada YouTube juga perlu menjadi perhatian orang tua. Kadang, meski ada embebl-embel “untuk anak”, namun tak jarang kontennya mengganggu dan meresahkan. Kredit gambar: GIPHY

Agar Anak Terhindar dari Dampak Buruk Tontonan ‘Meresahkan’ di YouTube

0 Shares
1
0
0
sapopoé – 2018 lalu CNBC merilis satu artikel yang membahas soal bahaya tontonan YouTube bagi perkembangan mental anak.  CNBC memfokuskan bahasannya pada video-video yang memanipulasi franchise konten anak-anak seperti “One’s Peppa Pig, PAW Patrol dari Nickelodeon, dan Frozen dan Mickey Mouse dari Disney.
Ahli di bidang kesehatan mengungkapkan jika tontonan-tontonan tersebut berefek negatif terhadap perkembangan otak anak. “Anak-anak yang mengalami tekanan atau emosi berupa ketakutan berkali-kali berpotensi mengalami hambatan pertumbuhan pada otak bagian prefrontal cortex dan lobus frontal-nya,” ujar Founder The Center for Resilient Leadership., Donna Volpita, Ed.D “Bagian otak tersebut bertanggung jawab sebagai fungsi eksekutif, seperti membuat keputusan yang membingungkan serta membuat perencanan lanjutan.”
Efek tersebut kemudian diperparah dengan filtering yang YouTube yang memungkinkan konten jenis tersebut masuk ke dalam YouTube Kids. Google meluncurkan aplikasi tersebut pada 2015 dengan total penonton mencapai sebelas juta (pada 2018) dengan tujuan menyajikan konten khusus anak-anak.
Senada dengan Donna, Psikoterapis di Chandler, Arizona, sekaligus Founder AnxiousToddlers.com Natasha Daniels, LCSW menyatakan, “YouTube termasuk salah satu menu yang menjadi konsentrasi dalam praktik terapi kami, artinya ada masalah di dalamnya”. Lebih dari lima tahun dia menemukan peningkatan kasus anak-anak yang mengalami kecemacan akibat video yang mereka tonton di YouTube. Akibatnya, anak-anak itu mengalami kehilangan selera makan, kurang tidur, kemudian mereka kerap menangis karena ketakutan.
Untuk itu, Daniels menyarankan pada para orang tua membaca aturan dalam menggunakan layanan YouTube. “Di sana Anda akan menemukan jika sajian YouTube tidak diperuntukan bagi anak-anak di bawah 13 tahun,” ujarnya. “Saya melihat dampak negatif tontonan YouTube itu berdampak pada anak berusia enam hingga 12 tahun, namun anak-anak yang lebih muda merupakan fokus utama kami.”
Dalam salah satu artikel yang dimuat pada website miliknya, Natasha memaparkan lebih jauh apa saja kasus yang pada akhirnya membuat kita harus membawa anak untuk terapi;
  1. Anak-anak yang menonton video yang explisit secara sexual kemudian mempraktikannya bersama dengan kawannya
Pada kasus ini, ada orang tua yang membawa anak lelakinya yang berusia delapan tahun karena ia menemukan anaknya telanjang dengan teman lelakinya. Serta merta, orang tuanya membawa anaknya ke tempat praktik Natasha. Orang tuanya menceritakan jika anaknya dengan teman lelakinya hendak menyentuh organ ‘vital’ satu sama lain.
Dalam wawancara, sang anak lelaki mengaku jika dirinya mencoth perilaku yang ia temukan pada salah satu tontonan di YouTube. Ia menemukan tontonan tersebut dengan memasukan kata kunci “sex” di “kolom pencarian”. Natasha memaparkan jika kasus sejenis ini bukan satu-satunya.
“Dari bulan ke bulan, lebih bayak anak lelaki yang datang ke tempat praktik saya,” ujar Natasha. “Anak lelaki dengan rasa penasaran terhadap seksualitas, dan mereka memiliki akses pada YouTube.”
  1. Anak-anak yang menumbuhkan ketakutan dalam dirinya  dari apa yang mereka tonton di YouTube
Pada kasus ini, orang tua mengeluhkan anaknya yang takut ke kamar tidur sendirian. Mereka khawatir dengan apa yang mungkin terjadi. selidik-selidik ternyata ketakutan itu akibat tontonan berjudul “Five Nights at Freddy’s”. Selain itu, juga tontonan berjudul “Freaked out by Bloody Mary”, dan “Annabelle“. Anak-anak menganggap, karena mereka menyaksikannya di YouTube, yang mereka saksikan adalah benar adanya.
  1. Anak-anak yang melakukan prank yang tidak bertanggung jawab mengikuti apa yang mereka tonton di YouTube

Upaya menjadikan aplikasi YouTube lebih aman

Seiring dengan merebaknya opini dan juga laporan dari para orang tua, YouTube menghapus lebih dari lima puluh channel dan ribuan video. YouTube juga menggunakan machine-learning untuk mengumpulkan konten-konten yang berbahaya dengan segmen anak-anak.
Mengutip commonsensemedia.org, YouTube juga mengubah aturan mainnya. YouTube mengumumkan, pengguna YouTube dapat melaporkan video yang meresahkan dengan menekan icon berbentuk bendera yang akan kita temukan dengan menekan icon “tiga titik” disamping “simpan” tepat di bawah video sejajar dengan judul dan tombol “like” serta “bagikan”.
YouTube kemudian akan serta merta memblokir video tersebut, juga menghapus insentif yang biasa YouTube berikan pada pemilik channel. Artinya, dalam hal ini, orang tua perlu secara instens mengawasi tontonan anak-anaknya meski di aplikasi YouTube Kids. YouTube juga telah melakukan kerja sama secara ekslusif dengan beberapa penyedia konten anak, seperti PBS dan Kidzbop agar dapat mengurangi resiko.
Meski YouTube kids sudah menyaring konten-konten hanya yang benar-benar aman bagi anak, namun orang tua harus tetap terlibat dalam penggunannya. Untuk itu, orang tua hendaknya memperhatikan perangkat kontrol yang tersedia di dalamnya:
  1. Timer : Dengan mengaktifkan fitur ini, sesi menonton akan berakhir secara otomatis ketika waktu habis.
  2. Sound settings: Fitur ini membantu orang tua mengontrol suara yang ada di video. Fitur ini memberikan opsi pada orang tua me-non-aktifkan musik, efek, hingga Anda tidak terganggu dengan suara-suara yang tidak perlu
  3. Search setting: Anda dapat me-non aktifkan fitur search sehingga yang anak-anak Anda tonton tak lebih dari yang muncul pada laman Home
  4. Product feedback: Anda dapat memberikan kritik dan saran pada setiap tontonan sehingga YouTube dapat menindaklanjutinya dengan memantau, bahkan, jika perlu menghapus konten bersangkutan

Nonton bareng anak

YouTube memang sudah berupaya mengurangi resiko anak-anak terpapar konten-konten yang “meresahkan”. Namun, nyatanya, tidak sepenuhnya menghindarkan anak-anak dari tontonan tersebut.
Untuk itu, para ahli menyarankan agar para orang tua hendaknya tidak membiarkan anak berusia di bawah delapan belas bulan menggunakan media berbasis layar, kecuali “panggilan video”. Hendaknya, anak pada usia tersebut menyaksikan hanya tontonan berkualitas tinggi. Itupun dengan orang tua yang membersamai.
Sedangkan untuk pada anak usia dua hingga lima tahun hanya boleh menonton tontonan dengan kualitas yang baik pilihan orang tuanya. Itupun orang tua batasi hanya satu jam. Selanjutnya, anak usia enam dan seterusnya, hendaknya orang tua “tega” membatasi dengan jumlah waktu yang konsisten. Orang tua hendaknya memperhatikan aktifitas anak sehingga anak-anak tidur cukup dan lebih banyak beraktifitas fisik daripada mengonsumsi media.
“Amannya sih mending gak usah dikasi YouTube sama sekali aja deh,” mungkin sebagian dari Anda selaku orang tua ada yang berpikiran seperti itu. Tidak salah juga karena beberapa orang berpengaruh seperti pemilik Microsoft Bill Gates, mendiang tokoh iconic Apple Steve Jobs juga melakukannya. Termasuk mantan salah satu eksekutif Facebook, Chamath Palihapitiya. Ia mengatakan dalam salah satu wawancara di CNBC, “Tidak ada screen time sama sekali buat anak saya.”
Namun, ada pilihan lainnya, yakni orang tua menjadikan YouTube sebagai alat bantu pendidikan. Tentu maknanya berbeda dengan menjadikan YouTube sebagai pengganti keberadaan orang tua. Untuk itu, orang tua harus aktif mengikuti perkembangan teknologi. Sebagaimana yang Natasha katakan dalam artikelnya, “Dunia terus berkembang dan kita harus ikut di dalamnya (berkembang),” ujarnya. “Seiring dengan kemajuan teknologi, kita harus maju bersamnaya, mendidik anak-anak kiga dan melindungi mereka menggunakan teknologi serupa.”
Selain itu, secara teknis, orang tua juga sebenarnya mempunyai pilihan lain selain YouTube kok. YouTube bukan satu-satunya penyedia konten video bagi anak. Selanjutnya, kami akan coba menyajikan dalam bentuk “list” rekomendasi sajian, channel, aplikasi, bahkan akun media sosial yang bisa membantu dalam kehidupan kita sehari-hari.
1 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like