Notif muncul begitu saja, padahal sedang kerja. Namun, bisa jadi notif itu adalah jawaban atas kebosananmu di tengah proses kerja, jadinya kau memilih tuk membukanya. Kredit foto: unsplash.com/@herlifeinpixels

Cara Mengelola Distraksi Digital Agar Lebih Produktif Bekerja

0 Shares
3
0
0

Information is no longer a scarce resource—attention is,” ujar New York Times Magazine’s Clive Thompson

Sapopoé – Sedang mengetik tulisan, tiba-tiba layar ponsel yang tadinya gelap, menyala dan bergetar, menandakan ada pesan masuk. Serta merta, tangan ‘refelks’ mengambil ponsel seraya membuka pesan yang masuk. Sekitar 20 detik waktu berlalu untuk membalas pesan, saat akan menutup dan menaruhnya, terlihat notifikasi instagram ‘mengantri’ di laman pertama layar ponsel. Seolah tak kuasa menahan diri, jari ini begitu ringan men-‘tap’ notifikasi tersebut, terbukalah laman yang tertaur pada notif sebelumnya. Hampir saja tak terasa, sudah 10 menit waktu berlalu.
Sejenak tersadar karena mata sejenak tertuju pada layar laptop. “Waduh, udah sepuluh menit,” sentak saya pada diri sendiri. Saya simpan ponsel dan menguncinya. Tak lama, notifikasi kembali muncul. Namun, saya memutuskan untuk fokus dulu pada pekerjaan yang belum selesai. Ada sedikit rasa bersalah muncul dalam hati, super ego menghukumi diri, seraya menimbulkan rasa kurang nyaman. “Namun, tak apalah, sudah terjadi.”

Memang “sudah terjadi” dan waktu pun tak bisa berulang. Begitu hukum alam yang berlaku. Namun, ide yang tadi sedang mengalir, kini “surut”. Saya membutuhkan upaya lebih untuk “memanggil kembali” kata kunci yang dapat menarik ide yang mengalir tadi. Upaya tersebut tentunya membutuhkan waktu serta energi. Belum tentu juga ide yang tadi datang kembali utuh. Namun, “Apa boleh buat kan?”

Anda tentu memiliki pengalaman sejenis tersendiri. Rasanya ingin bisa fokus dan kita dapat menuntaskan sejumlah pekerjaan sesuai target. Untuk itu, teknologi informasi hadir membantu kita memperoleh informasi, bertukar informasi, maupun berkomunikasi. Kita dapat melakukannya setiap saat berkat terkoneksinya kita dalam dunia digital. Namun, di sisi lain, tak jarang, informasi dengan notifikasinya muncul di saat yang “Tidak perlu-perlu amat” atau “tidak kita butuhkan” dengan notifikasinya. Itulah distraksi.
“Distraksi telah menjadi norma. Kita diberkati dengan super komputer ukuran saku yang menghubungkan kita dengan siapapun dan semua orang, ditambah dengan limpahan informasi,” ujar penulis “Indistractable” sekaligus pengajar Marketing di Universitas Stanford, Nir Eyal. “Namun ada sisi gelapnya; gawai tersebut mengalihkan perhatian kita, dan seringkali pada momen yang paling penting.”
Namun menurutnya, ponsel pintar hadir, tentunya, bukan untuk menganggu, “mereka hanyalah ‘kambing hitam’ yang ada saat ini”. Sebelum kehadirannya, kita juga menyalahkan televisi, telepon, komik, bahkan radio. Sebagian orang tua, menyalahkan konsol gim sebagai penyebab buruknya prestasi akademik anak. Bahkan, menurut Nir Eyal, lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Socrates mengritisi kata-kata tertulis – yang mengakibatkan “lupa dalam proses belajar’.

Daya fokus kita menurun hingga lebih rendah daripada ikan mas

Rata-rata daya fokus ikan mas ialah sembilan detik. Sedangkan kita (manusia) umumnya, hilang fokus dalam delapan detik, sebagaimana hasil study dari tim Microsoft Corp. Riset tersebut menunjukkan, penurunan terjadi akibat gaya hidup digital kita.
Periset di Kanada menyurvei 2.000 responden dan mempelajari aktifitas otak 112 orang lainnya menggunakan electroencephalogra ms (EEGs). Mereka menemukan, sejak awal revolusi ponsel dimulai, yakni tahun 2000-an hingga 2015, rentang perhatian menurun dari sebelumnya  yang mencapai 12 detik. Namun, di sisi lain, riset tersebut juga menemukan fakta ‘positif’; kemampuan kita melakukan multi tasking meningkat.
Pada Agustus 2018, riset dari Pemeritahan Inggris bidang Telekomunikasi, Ofcom, melaporkan jika masyarakat mengecek ponsel mereka setiap 12 menit selama masa beraktfitas, dengan 71% mengatakan mereka tidak pernah mematikan ponselnya, dan 40% mengecek ponsel perlima menit sekali.
Co-Founder of the Digital Wellness Institute, Amy Blankson menilai jika ‘distraksi’ di era digital merupakan epidemik, “merampok fokus kita, menurunkan produktifitas, mengurangi tingkat kepuasan hidup secara keseluruhan”.  Bagi Amy, distraksi bukan saja menggangu produktifitas kita, namun bisa menjadi pembeda sukses atau gagalnya kita.
Amy mendasarkan argumennya pada pernyataan dari seorang kandidat Doktor di George Mason University, Cyrus Foroughi, “satu menit distraksi sudah cukup untuk menghapus memori jangka pendek kita”. Gangguan 2,8 detik (durasi yang biasanya kita habiskan untuk membaca pesan singkat) dapat menigkatkan kesalahan pengurutan sederhana, sedangkan distraksi 4,4 detik dalam meningkatkan hingga tiga kali lipat kesalahan tersebut.
Masalah lain yang muncul akibat distraksi ialah menurunnya IQ atau kecerdasan kognitif. Pada 2005, riset yang dilakukan oleh dr. Glenn Wilson di London Institute of Psychiatry mengungkapkan, interupsi atau distraksi selama kita bekerja, yakni email maupun kontak via ponsel dapat menurunkan IQ hingga 10 poin, dua kali dampak merokok ganja. 50% lebih dari 1.100 partisipan mengatakan mereka selalu merespon email sesegera mungkin, sementara 21% lainnya mengaku, bahkan melakukannya di sela-sela rapat.
Linda Stone, mantan Software executive di Apple dan Microsoft menjelaskan, jika ia dan koleganya begitu sibuk mengawasi segala sesuatu hingga tak fokus pada apapun. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “perhatian parsial yang terus menerus” atau “Continous partial attention (CPA)”. Efek jangka panjang dari perilaku ini dapat memicu hormon stres; adrenalin dan kortisol yang menyalakan peringatan ‘super’ psikologis yang senantiasa “menagih” stimuli, kemudian menimbulkan adiksi atau ketergantungan dengan cara “mengecek dan mengecek” lagi.
Berikut gambaran perilaku sebagian dari kita soal bagaimana “sibuknya’ kita berkegiatan dengan gawai:
  • 67% pemlik ponsel selalu mengecek pesan, pengingat, maupun panggilan pada ponselnya meski tak ada getar atau nada ponsel.
  • 44% pengguna ponsel tidur dengan ponsel di sampingnya dengan maksud memastikan tak ada pesan atau panggilan yang luput, atau sekadar ‘up-date.
  • 55% pekerja mengecek ponsel mereka setelah jam 11 malam (yang notabene bukan jam kerja)

“Kelola distraksi” bukan musuhi

Sebagaimana alat lainnya, manfaat yang dapat kita peroleh bergantung pada cara penggunananya. Sebagaimana pisau, sifatnya bisa melukai diri atau orang lain, namun di sisi lain bisa untuk memotong daging untuk kita jadikan steak atau sate. Begitu juga gawai dengan internetnya, kita ‘amat sangat’ bisa menjadikan gawai untuk membantu kita mencapai kesuksesan yang kita inginkan dengan menjadikannya sebagai ‘budak’ kita, bukan malah menjadikannya sebagai ‘tuan’ bagi kita sebagaimana digambarkan pada film dokumenter “Social Dillema“.
Nir Eyal, dalam salah satu artikelnya di Psyche, mengungkapkan, setelah melakukan lima tahun ‘perjalanan’ untuk memahami distraksi – penyebab dan solusinya-, pangkal masalah distraksi digital itu bukan pada gawai atau pada notifikasi yang muncul. Seringkali distraksi itu justru dimulai dari dalam diri kita sendiri. Pada dasarnya, “Distraksi”, menurut Nir ialah “objek yang ‘menyetir’ kita menjauh dari tujuan kita”. Kebalikannya ialah “traksi”; aksi yang membuat kita semakin dekat dengan tujuan atau target yang jelas.
Ia menjelaskan lebih jauh, jika faktor yang lebih banyak mempengaruhi tindakan kita bersumber dari dalam diri kita sendiri, seperti “saya lapar, maka saya makan”, dibandingkan dengan faktor eksternal, “ponsel saya bergetar dengan sebuah notifikasi yang muncul, maka saya akan membuka dan segera membalas pesan tersebut”. Pada dasarnya distraksi itu selalu ada dalam kehidupan kita dalam berbagai variasi bentuk media dan situasinya. Cara mengatasinya, bukan dengan menghindari apalagi memusuhinya, namun, lebih pas jika kita mengelolanya dengan cara terbaik.
Kita dapat memulainya dengan mengidentifikasi dan mengelola ‘ketidaknyamanan’ yang kita rasakan. Menurut Nir, ‘ketidaknyamanan’ inilah yang nantinya akan menggiring kita pada perilaku “hape melulu”. Perlu kita pahami, kita memenuhi ‘panggilan’ distraksi itu bukan karena kita ingin mendapatkan ‘kepuasan’, melainkan untuk memenuhi hasrat, sebagaimana rasa lapar. Menahan hasrat tersebut dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman, bahkan bisa menimbulkan rasa sakit karena amat menginginkannya.
Namun, objek yang kita ‘butuhkan’ untuk memenuhi rasa tidak nyaman tersebut berpotensi menimbulkan adiksi yang membuat kita kesulitan mengaturnya dalam keseharian kita.
Dalam konteks distraksi digital, Nir mengemukakan ada lima faktor internal yang menimbulkan hasrat pemenuhan ‘distraksi’. Kelima hal itu ialah kebosanan, kesepian, insecure, kelelahan, dan ketidakpastian. Nir mengistilahkannya dengan “internal triggers”. “Sekalinya Anda dapat mengidentifikasi kelima internal triggers tersebut, Anda dapat memilih respon stimuli “distraksi” dengan lebih proporsional,” ujar Nir. “Memang, Anda tak selalu mampu mengontrol  bagaimana perasaan Anda, namun Anda dapat belajar mengontrol bagaimana bereaksi terhadap apa yang Anda rasakan.”
Distraksi, menurut Nir Eyal adalah symptom masalah, bukan masalah itu sendiri. Masalah yang lebih asasi ialah ketidakmampuan kita mengatasi rasa takut, cemas, atau stres. Saat kita menyadari dan mengetahui penyebab utamanya, barulah kita dapat memulai proses ‘pengobatannya’. Nir juga mengatakan jika “ketidaknyamanan” itu paradox. Selain menimbulkan rasa rak enak, di sisi lain juga merupakan cara terbaik untuk kita menjadi manusia versi lebih baik. Nir kemudian mengutip tulisan Psikolog Amerika, Roy Baumeister pada 2001.
“Jika kepuasan dan kesenangan permanen, takkan ada upaya untuk terus mencari keuntungan atau kemajuan atau dalam susunan kalimat lain, ‘Jika kita tidak pernah merasa tak nayaman atau buruk, maka kita tidak akan mencapai kesuksesan.”
.
.
.
“Kelola distraksi, maka kau akan mencapai kesuksesan” – Jouréll
3 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like