Gambar ilustrasi orang sedang chatting secara online. Kredit: unsplash.com/@utsmanmedia

Catfishing; Kala “Foto Postingannya Dengan yang Aslinya Berbeda”

0 Shares
0
0
0
Wadaw
Foto postingannya dengan yang aslinya berbeda (aa-aa)
Memang dunia maya tak seindah realitanya
Aa-aa-aa
Namun hati ini sudah terlanjur jatuh cinta (aa-aa)
Cinta memang tak bisa diukur oleh rupa (aa-aa)
Sapopoé – Lagu berjudul “Ekspektasi” ini viral karena banyak kreator video TikTok yang menggunakannya sebagai musik latar karya-karyanya. Lagu ciptaan Siagian dan suami Rachel Venya, Okin ini merupakan salah satu lagu yang menangkap realita di dunia digital, Online Alter Ego (OAE).

Apa itu Online Alter Ego (OAE)?

Dua tahun lalu, tepatnya 7 Agustus 2019, Tribunjogja.com merilis cerita gagalnya pernikahan karena paras calon pasangannya berbeda dengan yang selama ini menyapanya di media sosial. Artikel tersebut berjudul “Viral Pernikahan Dibatalkan Lantaran Foto Profil Tak Sesuai Kenyataan, Pemilik Foto Asli Buka Suara”.
Yusuf, sang pria, seorang TKI yang bekerja di Korea, menjalin LDR dengan seorang wanita dengan profesi yang sama dengannya. Sebagai pria yang taat beribadah, Yusuf pun ingin bersegera menikahi sang perempuan. Rasa yang selama dua tahun terbangun melalui saluran telepon, akhirnya dapat berlabuh.
Singkat cerita, Yusuf pun bertemu dengan sang “kekasih”. Namun niat tak jadi terwujud karena kecewanya ia karena harapnya tak menemui kenyataan. Paras wajah sang kekasih ternyata berbeda dengan foto yang ia terima sebelumnya. Uang  Rp 10 juta pun melayang menjadi tebusan.
Nyatanya, foto yang Yusuf dapatkan milik perempuan lain dengan nama akun Facebook Intan Permata Rias Pengantin.  Yusuf yang sudah terbang ke Taiwan, terpaksa pulang tanpa menggandeng kekasih kembali Korea.
Itulah gambaran fenomena Online Alter Ego (OAE). Mengutip, urbandictionary, Online Alter Ego ialah fenomena ketika kita mengganti atau mengubah identitas kita sepeti jenis kelamin, usia, penampilan, atau nama dan berpura-pura menjadi orang baru secara daring (online) untuk alasan apapun.
Alter Ego sendiri merupakan salah satu istilah yang berkembang dalam kajian Ilmu Psikologi. Kamus Oxford mengartikannya sebagai kepribadian kedua atau kepribadian alternatif seseorang. Merriam-Webster  menambahkan, versi lain dari seseorang. Contohnya, Superman ialah alter ego-nya Clark Kent.

Sebetulnya, kasus serupa banyak terjadi di manapun. Bahkan, MTV menjadikan fenomena tersebut menjadi sebuah reality show berjudul “Catfish“. Acara ini merupakan sebuah karya dokumenter yang mengatur pertemuan orang-orang yang mempunyai hubungan atau relationship secara daring. Saat pasangan bertemu, tak jarang salah satu di antaranya tidak persis sebagaimana tampilannya secara daring.

Mengacu ke washingtonpost.com, pembawa acara “catfish“, yakni Nav Schulman pada awalnya merupakan korban “catfishing“. Kisahnya kemudian ia gubah menjadi sebuah film dokumenter dengan judul yang sama, “catfish”. Film ini rilis tahun 2010 melalui Universal Studio. Judul film ini lebih jauh berkembang menjadi istilah yang kemudian menjadi sebuah konsep hubungan pada era digital. A Dictionary of Social Media” mendeskripsikan “Catfish” sebagai aktivitas menipu di mana seseorang membuat persona atau profil palsu di layanan jejearing media sosial, yang biasanya menargetkan korban tertentu.
Sepemahaman saya (penulis), catfish menjadi salah satu bentuk fenomena Online Alter Ego, namun secara spesifik, mempunyai maksud untuk mendapatkan pasangan. Mengutip phys.org, pelaku “catfish” akan mengubah informasi mengenai dirinya, umumnya mencuri foto orang lin atau mengedit fotonya. Kemudian ia menggunakan informasi tersebut untuk membuat versi dirinya yang lebih menggoda, kemudian berlanjut pada interaksi dengan orang lain yang tidak menyadari atau tidak mengenali dirinya.

Digital menstimuli orang menampilkan “sosok lain” dirinya

“Semua Orang dan Apapun di Sosial Media itu Palsu,” ujar Antropologist Kognitif dan Founder ‘Brain-Sells’, Bob Deutsch dalam artikelnya di Entrepreneur.com. Pada kalimat pembuka, ia juga menulis “Sosial media -media massa yang pertama kali memungkinkan orang membagikan pikiran, perasaan, dan kehidupannya pada orang lain – tidak otentik.
Menurut Bob, yang menjadikan sosial media serba palsu ialah karena memang karakter dasarnya, “The very nature of it causes all of us to be fake” yang berarti “Sifat dasarnya yang menyebabkan kita semua menjadi palsu”.
Lebih jauh, Psikiatri di New York-Presbyterian/ Well Cornell Medical Center, dr. Gail Saltz menjelaskan pada cbsnews.com, karena orang dapat ‘bersembunyi’ di balik komputer, maka memungkinkan mereka berpura-pura hidup pada kehidupan ideal mereka. Faktor ini pula lah yang mendorong terjadinya perundungan meningkat, karena pelakunya tersembunyi. Kepribadian yang berbeda dapat mendekati orang yang mereka anggap spesial tanpa penolakan atau ejekan, yang mereka khawatirkan terjadi jika di dunia nyata.
“Pada taraf tertentu, cara fantasi ini dapat menyenangkan, namun jelas kamu tak menikmati idenya karena kamu tak benar-benar melakukannya,” Saltz menjelaskan.
Saltz juga menerangkan, orang-orang yang menjadi korban “catfish” tidak keburu menyadari detail profil seseorang yang mereka baru saja kenal secara online. Itu karena mereka keburu silau dengan daya tariknya. Emosi dapat menutupi inkonsistensi cerita orang yang sedang berhubungan dengannya. Korban mendapatkan semacam kepuasan emosional meski mereka tak mengenalnya secara fisik.
Pada sisi pelaku “catfishing”, Profesor Psikologi Media dan Komunukasi di CSU Domininguez Hills, Dr. Nancy Ann Cheever, menjelaskan pada CBSNews.com, para pelaku “catfishing” melakukannya karena mereka kehilangan sesuatu dalam hidup mereka. Sebagiannya, mempunyai percaya diri atau penghargaan pada diri yang rendah sehingga mereka terdorong untuk menjadi sosok yang berbeda.
“Kebanyakan mereka tidak sadar atau tidak memikirkannya karena malah membuat mereka tidak nyaman,” terangnya. “Ketika kamu memiliki keingintahuan atau dorongan yang kuat untuk memperoleh seseuatu, kamu mungkin akan memerankannya secara daring (online).”
Cheever menjelaskan, tingkatan pelaku bisa bertingkat. Mulai dari karena malu, akhinrnya mereka menampilkan gambaran yang sangat menarik tentang diri mereka. Kemudian, tahap mengerikan, yakni orang yang mempunyai niat melukai atau menyakiti orang lain.
“Karena sang korban tidak mengenal secara fisik, mereka berbincang melalui komputer, tumbuhlah empati pada dirinya dan tumbuh kesadaran kalau yang sedang berhubungan dengannya ialah sosok sebenarnya,” terang Saltz.
Deutsch menemukan ada tiga jenis tipe hubungan yang dapat kita temukan pada sosial media;
  • Having : Memperoleh kesenangan sesaat dengan memperoleh hiburan atau benda
  • Doing : Berharap memperoleh respon dengan melakukan sesuatu, seperti kelebihan pada diri ada keahlian. Ukuran kefektifan pada kasus ini adalah “seberapa berguna/ manfaat”.
  • Becoming : Seseorang menarik perhatian orang lain dengan berbagi pengalaman; penilaian “layak” atau “pantas” tidak relevan, dan tidak mempertimbangkan positif atau negatifnya.
‘Having’ dan ‘doing’ itu simpel, linear, dan langsung,” ujar Deutsch. “Namun, ‘becoming’ itu kacau dan tidak lengkap.”
Agar kita tak menjadi korban “catfishing”, Cheever menyarankan agar kita tak mudah terbawa oleh perasaan kala berinteraksi secara daring (online). Deutsch menambahkan, agar kita, dalam bermedia sosial, hendaknya dapat berdamai dengan ironi, zigzag, kontradiksi, dan ketidaklengkapan dalam hidup .
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like