Berita negatif terlihat lebih banyak di mana-mana. Efeknya juga negatif pada mental kita. Kredit foto: Jon Tyson untuk Unsplash

Agar Berita Negatif Gak Bikin Sakit

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – Di era serba scrolling, serba terhubung, sajian berita jadi semakin sulit kita kendalikan. Apalagi di masa pandemi, terutama di masa-masa awal merebak, informasi berseliweran begitu deras, entah benar atau salah, semua muncul di hadapan kita. Negatif atau positif, setidaknya yang negatif terlihat lebih banyak.

Di saat kondisi menuntut kita mencari penjelasan soal fenomena yang sedang terjadi, para pembuat konten pun mendapat insight membuatkan penjelasan. Meski “kenyataan” begitu perih dan tak mengenakkan, kita tetap tak berhenti scrolling. Itulah fenomena doomscrolling. Berita negatif, bikin sakit, tapi nagih. 
Satu sisi, kita butuh berita atau up-date informasi, namun di sisi lain, riset membuktikan jika berita negatif berdampak buruk pada kesehatan mental kita. Berikut kami kutipkan langkah-langkah praktis yang dapat mengurangi atau mereduksi dampak berita negatif.
Merespon merebaknya isu dampak berita negatif pada kesehatan, berbagai institusi pun berupaya memberikan solusi. Salah satu hasilnya ialah “berita positif”. Ever Widening Circle ialah salah satunya. Mereka mempunyai misi mengubah dialog negatif yang ada di waktu-waktu kita. 
Gelombang ini pun sampai pula ke Indonesia. Salah satunya yang sudah berkembang, Good News From Indonesia. Sesuai namanya, GNFI hanya menyajikan berita-berita positif bagi pembacanya. Selain itu, brand-brand media yang besar pun berupaya melakukan langkah yang sama, dengan label “berita positif”. 

4 Langkah Praktis

Mengutip dari Psychology Today,  Psikiater lulusan Harvard dan Yale Marlynn Wei memberikan kita petunjuk agar berita negatif tak berdampak negatif pada diri kita. Mulai dari melakukan gerakan relaksasi, mengatur kembali feed media sosial kita, dan dua langkah lainnya.
1.Cobalah Latihan Relaksasi Progresif selama 15 menit
Jika kamu stres setelah menonton atau membaca berita / media digital, cobalah latihan relaksasi progresif singkat selama 15 menit sebagai detoksifikasi. Aktifitas ini dapat kamu lakukan dengan duduk atau bersandar.
Mulai dari mencari tempat yang tenang untuk duduk. Kemudian pejamkan matamu dan tarik napas dalam lima kali. Tarik napas melalui lubang hidung dan keluarkan perlahan dari mulut.  Perhatikan perbedaan antara ketegangan dan otot yang rileks. Gerakan akan berpindah dari satu kelompok otot ke kelompok lain, mulai dari dahi hingga kaki.
Kamu seharusnya tidak akan merasa sakit saat melakukan latihan ini dan jangan teruskan jika terasa sakit pada sekelompok otot.
Saat kamu menarik napas, regangkan otot dahimu selama 5 detik dengan mengangkat alis Anda dan kemudian lepaskan otot dengan pernafasan. Tunggu selama 10-15 detik, tarik napas dalam-dalam melalui lubang hidung dan embuskan melalui mulut. Ulangi untuk kelompok otot berikutnya, menghirup dengan ketegangan dan menghembuskan.
Berikut urutan dan gerakannya:
  • Bagian Dahi: Angkat alis dan lepaskan
  • Mata: tutup mata dengan erat dan lepaskan
  •  Mulut terbuka lebar dan lepaskan
  •  Leher dan Bahu: Angkat bahu ke telingamu dan lepaskan
  • Dada (satukan tulang belikatmu untuk membuka area dada dan melepaskannya) 
  • Lengan Kanan dan Kiri (terpisah): Kencangkan bisep dengan mengangkat lengan ke arah bahu dan lepaskan
  • Tangan Kanan dan Kiri (terpisah): Kepalkan tangan dan lepaskan
  • Abdominals:Kencangkan perutmu
  • Pantat: encangkan dengan mengepalkan dan melepaskan
  • Paha Kanan dan Kiri (terpisah): Remas otot paha dan lepaskan
  • Betis Kanan dan Kiri (terpisah): Tarik jari-jari kaki ke arahmu dan lepaskan
  • Kaki kanan dan kiri (terpisah): Tekuk jari ke bawah dan lepaskan
2. Cobalah atur kembali feed media sosialmu sesuai dengan kebutuhan
Sebagai permulaan, cek feed Twittee atau Facebookmu: dari setiap 10-20 kiriman oleh pengguna lain, berapa banyak di antaranya yang berisi peristiwa atau informasi negatif? Jika kamu menemukan banyak berita negatif, pertimbangkan manfaatnya, “Apakah aku membutuhkannya?”
Misalnya, jika kamu berprofesi sebagai jurnalis politik, kamu mau tak mau harus berlangganan beberapa sumber berita, meski berisiko cenderung terpapar negatif karena kamu harus selalu up-to-date untuk kepentingan pekerjaan. Namun, jika kamu hanya senang scrolling media sosial dengan motif sosial dan hiburan, maka kamu dapat mengurangi akun sumber berita negatif dan menggantinya dengan sumber berita positif.
3. Singkirkan energi negatif yang tak kamu butuhkan
Apakah kamu memiliki teman yang cenderung melakukan debat publik atau berkomentar negatif pada postingan orang lain atau di  postingan mereka sendiri? Kamu boleh kok unfollow mereka atau menonaktifkan konten mereka. Sebagai gantinya, kamu follow dan nyalakan notifikasi teman atau akun yang menyebarkan energi positif.

4. Cobalah memulai dan mengakhiri harimu dengan meditasi selama 10-15 menit alih-alih langsung membuka berita atau memeriksa feed media sosialmu

Akhir harimu ialah waktu krusial yang akan mempengaruhi suasana hari atau tidurmu. Cobalah bermeditasi selama 10-15 menit daripada memeriksa berita saat Anda bangun dan sebelum tidur. Jika kamu memulai hari dengan suasana hati yang nyaman, kemungkinan besar pikiranmu akan cenderung memperhatikan informasi positif sepanjang hari.
Kita memang tidak dapat mengubah berita peristiwa bencana dan sejenisnnya. Namun, dengan kita memperbanyak sumber energi dan informasi positif dalam hidup kita, setidaknya ada penyeimbang dalam menus “konsumsi” berita atau informasi kita. 
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like