Ibarat Bad Boy, Berita Negatif Memang Lebih Menarik

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – “Kita putus ya, kamu terlalu baik soalnya,” kata seorang perempuan pada pasangannya saat meminta putus hubungan.

Percakapan yang sering dijadikan parodi atau meme yang menggambarkan salah satu sisi percintaan muda-mudi. Adegan kemudian dilanjutkan dengan sang perempuan yang berbalik meninggalkan si-cowok dan si cowok tampak kesal, namun hanya diam karena tak punya jawaban.  

“Lah, apa kaitannya dengan informasi?” Kaitannya, sama-sama dalam ruang lingkup kecenderungan manusia yang lebih suka dan lebih percaya pada perkara negatif, termasuk di dalamnya berita atau informasi negatif.   

Pernahkah kamu bertanya, “Kenapa sih, media lebih banyak menyajikan berita atau informasi negatif?” Berita pembunuhan, kecelakaan, pandemi, bencana, dan masih banyak peristiwa mengerikan lainnya.   

Penulis buku Abundans – The Future Ia Better Than You Think, Peter H. Diamandis mengatakan jika penyebabnya ialah karena sifat dasar manusia itu sendiri. Ia menjelaskan dalam salah satu artikelnya di Big Think , bagian otak yang bernama Amigdala, yang dulu berguna untuk medeteksi pemangsa, kini berevolusi menjadi detektor yang mendorong kita tertarik pada berbagai objek negatif.  

“Amigdala benar-benar memicu perhatian kita ke semua cerita negatif dan jika kamu melihat seribu cerita, kamu akan fokus pada yang negatif,” terang Diamandis pada salah satu artikelnya di Big Think, “Media memanfaatkan celah ini dan kamu tahu pepatah lama,  ‘makin berdarah-darah, semakin kita di depan’.  Karena itulah 90% berita di koran maupun televisi negatif; kita memberi perhatian padanya.”  

Fenomena yang Diamandis jelaskan, Ilmu Psikologi mengistilahkannya dengan Negativity Bias. Bias negatif, mengutip Verywellmind,  ialah kecenderungan kita, yang bukan hanya untuk merespon stimuli negatif lebih mudah, tetapi juga memikirkannya. Bahasan ini juga dikenal sebagai asimetri positif-negatif, yang menjelaskan mengapa teguran cenderung lebih membekas  daripada pujian.

Lebih jauh, sebagai manusia, kita cenderung:  

  • Mengingat pengalaman traumatis lebih baik daripada yang positif,
  • mengingat hinaan lebih baik daripada pujian,
  • bereaksi lebih kuat terhadap stimuli negatif,
  • memikirkan hal-hal negatif lebih sering daripada yang positif,
  • dan menanggapi peristiwa negatif lebih kuat daripada yang sama-sama positif. 

“Bias terhadap hal negatif ini membuatmu lebih memperhatikan peristiwa buruk yang terjadi, dan membuatnya tampak jauh lebih penting daripada yang sebenarnya.” 

Dalam konteks berita atau informasi, penelitian menunjukkan kita cenderung menilai berita negatif  benar.  Karena informasi negatif menarik lebih banyak perhatian sehingga kita juga melihatnya punha validitas yang lebih tinggi.

Sampai sini, saya yakin kamu sudah paham korelasi bad boy dengan berita negatif. Intinya, manusia, memang sudah dari sananya, cenderung lebih tertarik pada yang negatif dan yang bad karena fenomena Negativity Bias dalam diri kita

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like