Berita Negatif yang Toxic Tapi Nagih

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – “Bad News is Good News” begitulah kami mendapatkan pelajara kala masih di kelas Jurnalistik saat kuliah beberapa tahun lalu. “Kalau ada anjing yang menggigit manusia, itu bukan berita. Namun, kalau manusia menggigit anjing, itu baru berita”, tambah dosen saat memberikan contoh konsep nilai berita sebelumnya. 

Studi belakangan, konsep tersebut mulai digoyahkan oleh isu kesehatan mental. Konsep kategorisasi berita pun berkembang, ada “Berita Negatif” juga “Berita positif”. Berita negatif ialah berita soal bencana, kecelakaan, perceraian, dan tentu saja pandemi termasuk di dalamnya. Namun, sebelumnya, tak ada embel-embel “negatif”, hanya “berita”.

Konsumsi berita meningkat

Di masa pandemi, konsumsi berita pada kalangan masyarakat umum meningkat secara global. Comscore merilis data, total kunjungan web berita selama pandemi memuncak selama sepekan 13-19 April 2020 dengan total 8,5 miliar kunjungan. Pada pertengahan Mei 2020, total kunjungan digital ke situs berita tetap stabil. 27 Juli-2 Agustus 2020 terdapat 7,4 miliar kunjungan, masih 28% lebih tinggi dari tingkat pra-pandemi.

Grafis peningkatan konsumsi media global. Kredit: Comscore

Hampir setiap saat, terutama di awal tahun 2020, update kondisi terkini soal Covid-19 memenuhi mulai dari televisi nasional, website berita, hingga media sosial kita di Indonesia. Setiap sore, Gugus Tugas Nasional Penanggulangan Covid-19 melakukan konferensi pers. Mereka memulainya dengan menyampaikan jumlah korban, kemudian dengan berbagai perkembangan lainnya.    Kebijakan untuk stay at home pun digulirkan dengan berbagai variasinya.

Komunikasi, khususnya yang berkaitan dengan urusan pekerjaan, kita lakukan secara daring. Kondisi kita yang harus berada di rumah mendorong kita mencari tahu informasi terkini. Fenomena berkembang hingga mengkristal jadi sebuah konsep bernama “Doomscrolling“.   

Konsumsi berita yang menimbulkan kecemasan 

JMIR Publication merilis riset yang menunjukkan, konsumsi berita merupakan salah satu dari dua penyebab meningkatnya angka kecemasan di masyarakat. Penyebab lainnya ialah kehilangan pekerjaan.   

Pada dasarnya, memang berita negatif berdampak buruk pada kesehatan mental, sebagaimana Profesor Universitas Sussex Inggris, Graham C.L. Davey sampaikan dalam salah satu artikelnya pada Psychology Today “Tidak mengherankan jika semakin banyak bukti yang menunjukkan?  berita negatif dapat memengaruhi kesehatan mental kita, terutama dalam bentuk peningkatan kecemasan, depresi, dan reaksi stres akut.”  

Menurut Davey, salah satu faktor yang memperkuat efek berita di era digital ialah visual berupa video atau foto yang merekam peristiwa atau foto saat terjadinya. Imej tersebut membuat satu kejadian terlihat “lebih nyata”. Kehadiran ponsel pintar dengan fitur kameranya memungkinkan siapapun yang kebetulan berada di lokasi kejadian merekamnya secara sengaja atau tidak sengaja.   

Selain imej, faktor lainnya menurut Davey ialah karena reporter gagal menyampaikan berita sesuai sekrenario yang sebenarnya. Alih-alih malah menyampaikan kalimat yang seolah-olah akan terjadi “kiamat”. Dalam hal ini, ia mengutip potongan kalimat dari seorang spesialis bahasa dan antropologi media, Magdalena Hodalska. Magdalena mencuplik salah satu paragraf pada satu reportase yang pernah dipublis oleh BBC saat melaporkan kasus Ebola.  

 “Lihat bagaimana Ebola bisa datang ke sini: setiap hari sekitar 25 orang tiba di Heathrow dari negara-negara di Afrika yang terkena virus.  Kami tahu mereka akan disaring.  Namun, bayangkan seseorang lolos dari jaring.  Salah satunya bisa saja membawa virus dalam darahnya, tanpa ada yang menyadarinya.  Itu pemikiran yang menakutkan.  Bisakah saya atau salah satu dari kita tertular Ebola dari orang asing? ”  

“Spekulasi tersebut telah menanamkan ‘pemikiran yang menakutkan..,” Davey berkomentar.  

Media yang mengikuti selera masyarakat atau masyarakat yang terpengaruh media?

Jawabannya mirip dengan “telur dulu atau ayam dulu?” Kenyataannya, studi menunjukkan jika secara psikologis, manusia di berbagai negara akan lebih terangsang dengan berita negatif ketimbang berita positif. Namun, para peneliti,  Stuart Soroka, Patrick Fournier, dan Lilach Nir memberi catatan: Terutama di lingkungan media yang beragam, produser berita tidak boleh meremehkan audien konten berita positif. Berdasarkan lebih dari 1.000 responden di 17 negara dan 6 benua, menunjukkan rata-rata penyebab ialah karena “Negativity Bias” berdasarkan reaksi psikofisiologis terhadap konten berita video. 

Namun, ada perbedaan besar dalam cara orang bereaksi terhadap konten berita negatif versus positif.    Perbedaan tingkat individu memang tidak bisa dijelaskan oleh karena perbedaan budaya atau negara. Para peneliti mengaku, memang cukup banyak variasi dalam menanggapi konten berita. Di berbagai negara. Fakta ini menunjukkan kemungkinan konten berita alternatif dapat menarik perhatian sebagian warga meski tidak negatif.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like