Cara Keluar dari “Lingkaran Setan” Doomscrolling

0 Shares
0
0
0

 

Sapopoé – Sebagai seorang yang berprofesi sebagai penulis informasi, hampir tak mungkin untuk tak melakukan scrolling di media sosial atau surfing dengan browser. Mulai dari mencari tema hingga mencari bahan, saya lakukan melalui jaringan internet. 

Iya, buruk tapi butuh

Sebetulnya, internet dengan berbagai bentuk sajian serta tampilan antar muka-nya sangat membantu kami, setidaknya untuk riset awal atau mencari isu. Namun, seringkali, terjebak pula pada Doomscrolling. Apalagi beberapa waktu belakangan, di mana-mana informasi berbagai bencana begitu deras. 

Saya merasa sampai-sampai seolah-olah semua yang di Indonesia saat ini semuanya buruk, semua bencana. Namun, semua seolah tak bisa dihindari. Saya dapat memaklumi sebenarnya karena dari perspektif ilmu Jurnalistik pun, memang berita negatif itu lebih bernilai. Di kelas, kami mendapatkan ajaran satu slogan “Bad news ia good news“.

Namun, belakangan, kajian soal dampak berita negatif pada kesehatan mental berkembang. Doomscrolling ialah salah satunya. Namun, perilaku ini melanda bukan hanya pada kami yang berprofesi sebagai penulis berita atau Jurnalis. Belakangan, kebijakan PSBB atau Lockdown memaksa kita sebisa mungkin beraktifitas hanya di dalam rumah. 

Ketidakpastian kondisi membuat banyak orang, termasuk saya sulit terhindar dari informasi negatif. Terlalu banyak terpapar berita atau informasi negatif, sebagaimana disampaikan oleh Psikolog Klinis, Amelia Aldao akan berdampak buruk pada kesehatan mental. 

Aldao mengatakan konten “suram” itu mengaktifasi “filter gelap ” saat kamu melihat dunia. “Sekarang kamu melihat sekeliling dirimu, dan semuanya terasa suram, semuanya membuatmu cemas. Jadi kamu kembali untuk mencari informasi lebih lanjut.” Terus menjadi siklus. 

Mengapa Kita melakukan Doomscroll?

Psikoterapis berbasis di Francisco, Amerika Serikat, Tess Brigham menyampaikan pada Verywellmind perilaku Doomscroll bermula dari perasaan, “Jika aku tahu apa yang sedang terjadi saat ini, maka aku bisa mempersiapkan diri lebih baik”. Kita ketakutan akan kejadian yang mungkin terjadi tanpa kita duga. Saat itu, kita akan melakukan Scrolling atau Surfing.

“Kita diprogram bertahan hidup dan mengantisipasi fenomena yang berpotensi membahayakan,” lebih lanjut Brigham menjelaskan. “Itu ada dalam DNA kita sebagaimana nenek moyang kita membutuhkannya agar mampu bertahan hidup. Meski dunia kita sudah jauh berubah, kita masih memiliki dorongan untuk berjaga-jaga agar diri aman, dan kita melakukannya dengan membaca berita negatif. “

Solusinya

Lantas, bagaimana agar kita bisa terlepas dari “Lingkaran Setan” Doomscrolling? Berikut kami sampaikan sebagaimana dikutip oleh NPR. Mulai dari menyalakan timer, nyalakan kesadaran, dan kompensasi dengan kegiatan yang menyenangkan. Namun saya tertarik dengan istilah yang verywellmind gunakan, yaitu “bagaimana agar scrolling lebih positif”. 

“Cara untuk membuat scrolling menjadi positif ialah dengan mengunjungi hanya situs yang kamu percayai, mereka yang menyampaikan kejadian dengan cara yang adil,” kata Brigham.

Sudah lazim kita ketahui, internet membuka peluang bagi siapapun menjadi “media massa”. Demi bersaing dengan brand-brand media yang sudah mapan, tulisan sensaional pun menjadi “menu andalan”. Terkadang, karena demi dapat bersaing memperoleh traffic dari para unique visitors, judul dan isi tidak senada. Judul ke Barat- tulisannya ke arah Utara alias tidak nyambung. 

Kembali ke solusi. Secara teknis, kamu bisa melakukan beberapa langkah yang disampaikan oleh Amelia Aldao

1.Nyalakan Kesadaran

Tess Brigham mengatakan, Doomscrolling terjadi saat kita tiba-tiba membuka story tanpa kita tahu bagaimana kita bisa tiba di sana. 

“Kamu tak ingat mengapa kamu membuka ponsel, tetapi sekarang, kami sudah membaca ratusan komentar atau retweet seseorang yang bahkan kamutidak ikuti,” ungkapnya pada Verywellmind

Untuk menyalakannya, kamu bisa memulainya dengan menetapkan tujuan “Untuk apa aku log-in Twitter atau Instagram?” Kemudian, selama pencarian, rutin-rutinlah bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah temukan apa yang aku butuhkan?”. Kalau sudah dapatkan, saatnya log-out.

2.Nyalakan Timer

Kita tidak mungkin sama sekali tidak update berita atau informasi karena informasi adalah “makanan” kita, apalagi jika kamu berprofesi sebagai penulis atau jurnalis. Di sisi lain, kita juga perlu untuk terkoneksi dengan berbagai kalangan di media sosial untuk menemukan berbagai alternatif perspektif. 

Karena itu, yang bisa kita lakukan ialah pembatasan waktu. Lebih tegas, Amelia Aldao menyampaikan “Jangan online, kecuali kamu sudah menetapkan batasannya”. Sedangkan Tess lebih spesifik membatasi waktu “cukup dua puluh menit” melakukan Doomscroll.

3. Berikan Kompensasi dengan Melakukan Aktivitas Positif

Misalnya makan es-krim, makan cokelat, sop buntut, ngobrol dengan kawan atau pasangan. Pokoknya kegiatan yang bisa membuatmu mendapatkan perasaan yang positif. Mencari konten-konten yang menghibur juga bisa menjadi alternatif, asal jangan keasyikan juga.

Tess Brigham juga menambahkan agar kita hendaknya Bersyukur. Bersyukurlah karena kamu masih diberikan kesehatan dan keselamatan, sedangkan saudara kita mesti mengalami musibah. Juga, penting menurutku agar kita mendo’akan mereka.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like