Apa itu Doomscrolling?

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – Informasi yang belum lengkap menimbulkan fenomena ketidakpastian. Meresahkan itu yang kita rasa kala mendapati ketidakpastian. “Darimana Covid-19 sebenarnya berasal”, “Kapan berakhirnya pandemi”, dua di antara berbagai pertanyaan yang belum kita temukan jawabannya hingga kini. 

Kian meresahkan dengan mis-informasi yang merebak begitu cepat karena tanpa pertimbangan dampak tersebarnya. Lebih parah jika seseorang sampai pada kondisi panik. Apapun yang “melintas” akan diraihnya. “Entah benar atau salah, orang mau tenggelam, apapun akan diraihnya,” begitu orang bilang. 

Kemunculan Doomscrolling

Di tengah masa yang penuh ketidakpastian, kita terus mencari informasi atau berita terupdate. Entah apa yang mendorong kita melakukannya, tapi tangan ini rasanya sulit untuk tak menambil ponsel kita, membuka Instagram atau Twitter, dan scrooll dan kita pun “terpapar” oleh berbagai informasi. 

Padahal, sebagian dari kita mungkin tahu jika sebagian besar, beritanya negatif. Banyak konsumsi berita negatif berarti dampak negatif bagi diri kita. Itulah Doomscrolling. Praktik serupa pun berkembang bukan hanya di medsos, melainkan melalui berbagai sumber yang akhirnya menjadi Doomsurfing. 

Kamus daring Merriam-Webster hingga tulisan ini kami buat, masih menempatkannya sebagai “Kata yang sedang kami pantau”. Artinya belum masuk list kata-kata dalam kamusnya. Namun, istilah ini sedang populer. Nyatanya, konsumsi berita melalui sosial meningkat meningkat di masa pandemi. Apakah terdorong oleh diri yang terlanda ketidakpastian, kami belum menemukan korelasinya. 

Doomscrolling dan doomsurfing, Merriam-Webster menjelaskan, merupakan istilah baru yang merujuk pada perilaku menelusuri berita buruk terus menerus meskipun berita itu menyedihkan, mengecilkan hati, atau menyedihkan. Banyak orang mendapati diri mereka terus membaca berita buruk tentang COVID-19 tanpa kemampuan untuk berhenti atau mundur.

Mengutip Vox , istilah Doomscrolling sudah ada sejak 2018 . Popularitasnya meningkat sejak masyarakat harus beraktivitas di rumah karena kebijakan pemerintah dalam rangka menyikapi pandemi. Kita patut berterima kasih pada Reporter Quartz Karen K. Ho yang memperkenalkannya pada dunia. 

Karen mengenal istilah Doomscrolling sejak Maret 2020. Namun, ia mengaku sudah mempraktikannya sejak 2015 dan ia merasa bersalah karenanya. Ia kemudian mulai disiplin dengan dirinya sendiri sejak bulan April, sejak ia mendapatkan pekerjaan tetap.

Ia pun kemudian menge-twit soal Doomscrolling secara berkala  hingga ia mendapatkan 20.000 pengikut baru karena reminder-nya. Padahal reminder tersebut ia tujukan pada dirinya sendiri. 

“Semua orang tahu jika ‘pengetahuan adalah kekuatan’ dan banyak belajar dapat membantu kita memutuskan pilihan dengan lebih baik.”

Namun yang sebenarnya kita lakukan, menurutnya adalah menyisihkan waktu dari kegiatan dan orang-orang yang kita cintai, sambil bermain dengan (produk) perusahaan teknologi yang memperoleh insentif dengan cara membuat kita terpaku pada layar.

Bahaya Doomscrolling

Psikolog klinis Amelia Aldao mengingatkan jika perilaku yang para Jurnalis lazim lakukan ini merupakan “lingkaran setan” yang karenanya, kecemasan justru akan mengisi hari-hari kita, sebagaimana ia sampaikan pada NPR.

“Pikiran kita terprogram untuk waspada terhadap ancaman,” katanya. “Makin banyak waktu yang kita habiskan untuk scrolling, semakin kita menemukan bahaya, semakin kita tersedot ke dalamnya, semakin kita gelisah.” 

Konten yang “suram” itu kemudian mengaktifasi filter gelap saat kamu melihat dunia, kata Aldao. “Sekarang kamu melihat sekeliling dirimu, dan semuanya terasa suram, semuanya membuatmu cemas. Jadi kamu kembali untuk mencari informasi lebih lanjut.”

0 Shares
3 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like