Sosial Media “lahir” ke dunia digital sesuai dengan namanya, yakni untuk menghubungkan orang-orang dalam konteks sosial dengan memanfaatkan internet. Namun, seiring waktu dan dinamika kondisi, fungsi itu kian berkembang. Kali ini, pandemi yang mengubah media sosial jadi media berita. Gambar: unsplash.com/@asterfolio

Pandemi Ubah Sosial Media jadi Sumber Berita

0 Shares
0
0
0

Sapopoé – Mengacu pada Merriam-Webster, Sosial Media ialah sebentuk komunikasi elektronik (seperti situs web untuk jejaring sosial dan mikroblog) di mana pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi, dan konten lainnya (seperti video). 

Media Sosial sebagai sarana bersosial

Sosial Media “lahir” ke dunia digital sesuai dengan namanya, yakni untuk menghubungkan orang-orang dalam konteks sosial dengan memanfaatkan internet. Misal, Facebook, awalnya dilahirkan oleh Mark Zuckerberg untuk menghubungkan para mahasiswa Harvard pada 2004, sebagaimana dirangkum oleh History

Atau Twitter yang lahir sebagai “produk sampingan” layanan podcast Odeo pada 15 Juli 2006. Awalnya, aplikasi gratis ini memungkinkan pengguna berbagai “update status” singkat pada teman dengan mengirimkan satu pesan teks ke satu nomor “40404”. 

Facebook atau Twitter lahir sebagai “media untuk bersosialisasi”. Karena itu, para akademisi mengategorikan keduanya sebagai “Social Network Service” atau “Layanan Jejaring Sosial”. Fungsinya membantu kita dapat membangun hubungan dengan orang lain yang memiliki minat, latar belakang, atau hubungan yang sama dengan menggunakan jaringan internet.  

Pandemi Mengubah Media Sosial

“Hidup setelah covid-19 akan terlihat jauh berbeda dibanding sebelum covid-19,” sebagaimana Inc mengutip pernyataan Bill Gates dalam salah satu konten YouTube pribadinya “GatesNotes”

Kurang lebih begitulah yang juga terjadi pada media sosial. “Karena aturan “Lock Down“, banyak hal berubah dramatis. Pada awal April, hampir separuh konsumen mengatakan, mereka menghabiskan waktu lebih lama di media sosial,” sebagaimana rilis Global Web Index pada blog-nya.

Perubahan yang dimaksud ialah perubahan soal perilaku para pengguna media sosial dalam menggunakan media sosial. “Asumsi lama tentang media sosial harus dikaji ulang. Perannya dalam kehidupan pengguna telah berkembang dan beragam selama pandemi”. Salah satunya media sosial menjadi sumber untuk mendapatkan berita.

“Saat ini, data kami menunjukkan bahwa menggunakan media sosial untuk tetap up-to-date dengan berita dan peristiwa terkini adalah alasan utama untuk masuk secara global, sebesar 36%.

Tiga dari empat segmen yang menjadi responden pada survei yang GWI lakukan menunjukkan, alasan pertama terbanyak dari empat alasan ialah “Log-In” media sosial ialah “Agar tetap ‘up-to-date‘ dan kejadian terkini”. 

Empat segmen yang dimaksud ialah Gen-Z (16-23 tahun), Gen Millenial (24-37 tahun), Gen X (38-56 tahun), dan Gen Baby Boomers (57-64 tahun). Kecuali Gen Z, ketiganya mengungkapkan “mendapatkan berita” sebagai alasan utama mengakses media sosial. Sedangkan Gen Z menjadikan “untuk bersenang-senang” sebagai alasan utama mereka. 

Kredit: Global Web Index

Kebutuhan informasi, terutama di masa awal pandemi, membuat semua orang memerlukan informasi terkini. Sosial media yang mudah diakses membuatnya menjadi pilihan menjadi sumber informasi. 

Meski bukan alasan pertama, Gen Z juga menempatkan alasan “to stay up-to-date” sebagai alasan mereka. Hanya, soal prioritas saja ya g berbeda. Gen Z menempatkan alasan “sumber berita” pada urutan ketiga, setelah “untuk menghabiskan waktu luang” dan “memperoleh konten lucu dan menyenangkan”. 

“Menjadi sumber berita berarti perusahaan media sosial harus lebih bertanggung jawab mencegah penyebaran informasi yang salah karena daftar permintaan konsumen terus bertambah,” GWI mengungkapkan. Pengguna yang lebih senior, yakni mereka yang kurang mempercayai berita di media sosial, bahkan lebih menuntut perusahaan media sosial dalam hal ini.

GWI menemukan fakta, 73% responden di Inggris Raya dan Amerika Serikat setuju jika perusahaan penyelenggara social media harus menyaring berita yang tak terverifikasi di platform mereka 

Upaya WHO di tengah pandemi

Sebagai pandemi di era digital, covid-19 juga nyatanya memicu “infodemik“. Untuk itu, Sekretaris Jenderal PBB meluncurkan inisiatif United Nations Communications Response dalam rangka memerangi penyebaran mis- dan disinformasi pada April 2020. 

“Misinformasi berpotensi menelan korban jiwa. Tanpa kepercayaan yang memadai dan informasi yang benar, tes diagnostik tidak digunakan, kampanye imunisasi (atau kampanye untuk mempromosikan vaksin) tidak akan mencapai targetnya, dan virus akan terus berkembang” ujar WHO dalam salah satu rilisnya 

Salah satu aksi nyatanya ialah kerjasama dengan pihak penyelenggara media sosial. Kita dapat melihat di setiap postingan yang mengandung kata kunci terkait covid, maka akan muncul semacam notifikasi pada postingan yang mengarahkan kita pada sumber informasi utama yang tervalidasi di setiap negara.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like