Di tengah cepatnya persebaran covid-19, cepat juga mis-informasi tersebar. Melemahkan kemampuan nalar kita menyaring mana yang benar dan salah. Kredit gambar: unsplash/@brianmcgowan

Apa itu Infodemik?

0 Shares
0
0
0

Sapopoe – Mengutip Lexico, Infodemik ialah informasi yang terlalu banyak tentang suatu masalah. Namun, informasi tersebut biasanya tidak dapat diandalkan alias lemah validitasnya. Ia menyebar dengan cepat, dan membuat solusi lebih sulit dicapai.

Menurut Merriam-Webster, “infodemik” ialah campuran dari “informasi” dan “epidemi” yang biasanya mengacu pada penyebaran yang cepat dan luas dari informasi yang akurat dan tidak akurat tentang sesuatu, seperti penyakit. Karena Fakta, rumor, dan ketakutan bercampur dan menyebar, kita kesulitan memfilter dan mempelajari informasi penting terkait satu masalah atau isu.

Covid-19 ialah pandemi pertama yang terjadi di era digital. Era di mana informasi dapat dibuat dan disebarkan oleh siapapun. Media sosial, menjadi saluran di mana di satu sisi menyebarkan informasi juga edukasi soal covid-19 secara cepat.

Namun, kecepatan itu nyatanya juga merupakan pedang dua sisi. Kecepatan menuntut “tumbal” berupa ketelitian atau kecermatan. Karena terlihat “penting-nya” informasi, dengan sukarela, “sesegera mungkin” kita perlu menyebarluaskannya.

WHO mengatakan infodemik adalah informasi yang melimpah, baik online maupun offline. Termasuk di dalamnya, upaya menyebarkan informasi salah yang sengaja disebarkan untuk merusak “kesehatan” respon masyarakat dan memajukan agenda tertentu kelompok atau individu.

Mis dan dis-informasi yang salah berpotensi membahayakan kesehatan fisik maupun mental orang; membuat orang terjebak stigma; dan mengurangi tingkat kepatuhan masyarakat pada kebijakan dalamengatasi isu kesehatan di masyarakat. Akibatnya, pemerintah tak bisa efektif dalam menghadapi pandemi.

WHO juga mengatakan, lebih jauh disinformasi mempolarisasi debat publik tentang topik yang terkait dengan COVID-19. Akibatnya, di tengah krisis, di mana kita memghajatkan ketenangan, hate sprach bertebaran. Juga potensi konflik meningkat, begitu juga kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Lebih jauh dapat mengancam prospek jangka panjang untuk memajukan demokrasi, hak asasi manusia, dan kohesi sosial.

Kemunculan istilah “infodemik”

Istilah “infodemik” kembali merebak setelah Sekjen PBB, António Guterres men-tweet tentangnya pada 28 Maret 2020. Ia mengatakan, “Covid-19 memang musuh utama kita, namun “infodemik” mis-informasi juga merupakan musuh kita”.

 

Pasalnya, pada awal persebaran Covid-19 ke berbagai negara, salah satu yang kemudian muncul kala itu ialah berbagai solusi atau obat yang dapat melindungi kita dari covid-19. Mulai dari dosis tinggi chloroquine, jahe, juga bawang putih. Padahal belum ada bukti ilmiahnya.

Mengacu pada Merriam-Webster, istilah “infodemik” sebenarnya diciptakan pada tahun 2003 oleh seorang Jurnalis sekaligus Ilmuan Politik David Rothkopf pada salah satu kolom yang ia buat dan dimuat pada Washington Post. Dalam kolmnya ia membahas salah pandemi yang terjadi kala itu, SARS.

SARS is the story of not one epidemic but two, and the second epidemic, the one that has largely escaped the headlines, has implications that are far greater than the disease itself. That is because it is not the viral epidemic but rather an “information epidemic” that has transformed SARS, or severe acute respiratory syndrome, from a bungled Chinese regional health crisis into a global economic and social debacle.… [T]he information epidemic—or “infodemic“—has made the public health crisis harder to control and contain.

Rotkopf juga menjelaskan yang ia maksud dengan “infodemik”. Ia menulis “Infodemik ialah fakta yang bercampur dengan kecemasan, spekulasi dan rumor, diperkuat dan disampaikan dengan cepat ke seluruh dunia oleh teknologi informasi modern. Ia mempengaruhi ekonomi nasional, bahkan internasional, juga politik dan keamanan dengan cara yang sama sekali tidak tak rasional

0 Shares
2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like