Salah satu fitur keamanan Signal “Blur Faces”. Kredit: signal.org

Elon Musk Sarankan Kita Gunakan Signal daripada WhatsAp

0 Shares
0
0
0

Sapopoe – 7 Januari lalu, Elon Musk menge-twit, “Use Signal”. Signal yang ia maksud ialah aplikasi berbasis chatting atau obrolan sejenis WhatsApp. 

 

 

 

Berselang tiga jam, whistleblower kenamaan, Erdward Snowden me-retweet-nya. Kala ditanya alasannya, mantan anggota Agensi Keamanan Amerika (NSA) tersebut mengatakan, “Saya menggunakannya setiap hari dan belum mati hingga saat ini.” 

Endorsement kedua simbol teknologi informasi tersebut tak pelak melonjakkan jumlah pengguna Signal. Memang belum ada data yang pasti soal peningkatan jlah pengguna saat ini, namun Signal saat ini berada di puncak download terbanyak App Store di 40 negara dan di Google Play Store di 18 negara. 

“Nilai valuasi perusahaan” pun melambung. Padahal Signal bukanlah produk dari perusahaan berorientasi profit alias non profit oriented organisation. 

 

Independent “501 (c) (3)” maksudnya organisasi nonprofit tertentu telah disetujui oleh Internal Revenue Service sebagai organisasi amal bebas pajak. “Amal” secara luas didefinisikan sebagai didirikan untuk tujuan yang bersifat religius, pendidikan, amal, ilmiah, sastra, pengujian untuk keamanan publik, membina olahraga amatir nasional atau internasional, atau pencegahan kekejaman terhadap hewan dan anak-anak.

Signal dan Cara Kerjanya

Wired mengatakan jika Signal merupakan aaplikasi bertukar pesan dengan end-to-end encryption paling aman di dunia. Seorang cryptographer sekaligus coder, Maxi Morlinspike meluncurkannya lima tahun lalu melalui organisasi non-profit “Signal Foundation”.

Percepatan perkembangan Signal terjadi saat dua tahun lalu, mantan co-founder WhatsApp, Brian Acton keluar dari manajmen WhatsApp karena ketidakcocokan dengan pihak manajemen Facebook. Ia kemudian “menyuntik” proyek end-to-end encryption milik Maxi Morlinspike dengan dana sejumlah $ 50 Juta atau Rp 702 Milyar.
Selanjutnya, Acton menjabat sebagai Chairman Signal Foundation. Sejak itu, lembaga non-profit Marlinspike dapat mengakses dan menggunakan jutaan aset milik Acton — berikut pengalamannya mengembangkan aplikasi miliaran pengguna — untuk bekerja.
“Signal telah mengalami transisi yang signifikan. Bermula dari upaya kecil tiga orang menjadi proyek serius dengan kapasitas membangun perangkat lunak di dunia saat ini,” kata Marlinspike
Pada dasarnya, fitur yang Signal sediakan mirip dengan WhatsApp, yakni, bisa bertukar pesan, menelpon, juga video call, baik person-to-person, maupun dengan sesama anggota grup.
Namun yang membedakan Signal dengan aplikasi berbasis “SMS” lainnya terletak pada cara kerja enkripsinya. Cara kerjanya, Signal akan “menghancurkan” pesan yang kita kirimkan, kemudian pesan tersebut hanya akan menyatu kembali hanya oleh orang yang kita tuju untuk menerimanya. 
Cara tersebut, diyakini dapat mencegah orang atau pihak-pihak tertentu mengintip pesan kita. Signal juga tidak menyimpan data pengguna. Selain itu, Signal memberi kamu opsi privasi, termasuk kunci khusus aplikasi, pop-up notifikask kosong, fitur anti-pengawasan dengan memburamkan wajah, dan pesan yang menghilang. 
Tentu tidak ada aplikasi yang sepenuhnya aman, namun Signal dapat membuktikan fitur-fitur yang ia tawarkan membuatnya mampu berada di level tinggi orang-orang yang mengerti pentingnya privacy di dunia digital.

WhatsApp yang tertuntut klarifikasi

Sementara itu, WhatsApp sedang ramai diperbincangkan netizen di berbagai daerah terkait isu “privacy”. WhatsApp diduga memperlebar celah “penjualan” data para penggunanya yang mencapai 2 Milyar.

Melalui papan informasi dalam aplikasi (in-app alert) WhatsApp meminta penggunanya di waktu belakangan ini pada syarat dan ketentuan (term of condition) yang memungkinkan sang pemilik aplikasi membagikan data penggunanya pada induk perusahaannya, Facebook.
Co-founder WhatsApp, Brian Acton mengatakan sejatinya WhatsApp berupaya menggabungkan fitur-fitur monetisasi sambil tetap melindungi privasi orang. Namun, “kebijakan rumit” barunya memaksa WhatsApp dan media mencari penjelasan karena membuat “semua orang bingung”.
Akibat merebaknya miss informasi soal kebijakan terbarunya, WhatsApp memutuskan menunda pemberlakukan syarat dan ketentuan penggunaannya pada Jum’at (15/1). Tidak akan ada pemberlakuan penutupan akses pada 8 Februari, dan WhatsApp juga memberi kesempatan bagi para penggunanya agar dapat mencerna kebijakan terbarunya hingga 15 Mei mendatang. 
Aplikasi milik Facebook ini juga menyampaikan klarifikasi jika tidak ada yang berubah pada soal kerahasiaan konten percakapan, baik berupa teks maupun yang lainnya. Juga mereka tak bisa mengintip “berbagi lokasi” yang kita lakukan, baik WhatsApp maupun Facebook.
“Dengan pembaruan ini, tidak ada yang berubah.  Sebaliknya, pembaruan menawarkan opsi baru yang dapat pengguna miliki untuk mengirim pesan pada fitur bisnis di WhatsApp, juga memberikan transparansi lebih lanjut tentang cara kami mengumpulkan dan menggunakan data,” sebagaimana pihak WhatssApp sampaikan melalui rilis di blog-nya. 
Manajemen WhatsApp juga menyampaikan klarifikasi soal kebijakan terbarunya melalui FAQ dengan lebih lugas.
“Kami ingin memperjelas, pembaruan kebijakan tak memengaruhi privasi pesan Anda dengan teman atau keluarga dengan cara apa pun. Perubahan tersebut terkait dengan fitur bisnis opsional di WhatsApp, dan memberikan transparansi lebih lanjut tentang cara kami mengumpulkan dan menggunakan data,” ujar pihak WhatsApp.

Elon Musk “Facebook Hater”

Soal perilaku Elon Musk yang kini terkenal sebagai advokat isu privacy di dunia digital, sebenarnya sudah tidak aneh. Tahun 2018, ayah dari X Æ A-Xii ini, menghapus total akun Facebook-nya. Tak hanya itu, akun perusahaan miliknya, baik space-X maupun Tesla, juga takkan kamu temui. Untuk itu, Forbes sampai menyebutnya “Facebook hater“. 

Penghapusan akun Facebook tersebut merupakan buntut dari Cambridge Analytica yang mengumpulkan 87 juta data oengguna Facebook tanpa sepengetahuan pengguna.  

Elon Musk juga terang-terangan mengampanyekan agar pengikutnya menghapus akun Facebook-nya kala ia mengomentari tweet Sacha Baron yang mengritik Facebook. Elon Musk mengatakan “#DeleteFacebook it’s lame

 

 
 
0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like