“Iya sih nongkrong bareng, tapi matamu itu lho, ke ponsel mulu, sibuk amat”

Kena Phubbing? Jangan Keburu Kesal

0 Shares
0
0
0

Sapopoe – Diabaikan, merasa terhina, merasa tersakiti, itu perasaan yang membuat senja yang indah menjadi suram di pandangan. Sore berjanji temu dengan teman, maksudnya hendak ngobrol dan bercerita soal banyak hal. Pas ketemu, dia terlihat sibuk dengan ponselnya.

Bagaimana perasaanmu jika diperlakukan seperti itu? Kesal atau.. Biasa saja? Bisa jadi, setiap orang punya perasaan yang beda-beda tergantung dari pengalaman dan referensi masing-masing. Tergantung juga cara komunikasi partner kita saat itu.

Buat yang merasa sangat kesal dengan perilaku bernama phubbing, bahkan anti dengan perilaku tersebut, kita bahas yuk. Jangan-jangan temen atau partner kita bosan dengan obrolan kita sehingga mencari pengalihan dengan membuka ponsel. 

Mengenal Phubbing

Barangkali di antara kamu ada yang belum mengenal istilah “Phubbing”. Phubbing ialah istilah yang lahir pada 2012 dari forum para ekspert di bidang bahasa.

Mereka dikumpulkan oleh Australia’s Macquarie Dictionary dan the McCann advertising agency di untuk merumuskan nama satu fenomena yang merebak di era serba ponsel.

Lahirlah ‘phubbing’ dengan definisi “the act of snubbing someone in a social setting by looking at your phone instead of paying attention”. Phubbing merupakan hasil ‘perkawinan’ dua istilah yakni ‘phone’ dan ‘snubbing’. Mengacu pada kamus Cambridge daring, ‘snubbing’ berarti penghinaan.

 

Penyebab dan Efek Phubbing 

Phubbing berkorelasi dengan soal hubungan sosial. Di tengah arus zaman yang menarik kita menjadi serba ponsel, memang ponsel di satu sisi dapat menjadi perangkat untuk senantiasa terhubung dengan siapapun dan kapanpun.

Namun, berponsel faktanya juga dapat mengundang ketegangan dalam hubungan kita. Jamak orang bilang, “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat“.

Dalam konteks hubungan antar dua insan, professor di bidang psikologi Gwendolyn Seidman, mengatakan dalam artikelnya, komplain yang biasanya muncul ialah merasa diabaikan oleh partnernya yang tak bisa lepas dari menatap ponselnya. 

Ia mengutip penelitian yang diampu oleh James Roberts and Meredith David at Baylor University. Mereka membuat indikator untuk mengukur seberapa sering seseorang mem-phub partner cinta mereka.

Mereka menemukan phubbing pada level tertentu dapat terasosiasi dengan hubungan yang kurang memuaskan dan makin banyak menggunakan ponsel, berkorelasi dengan kemungkinan konflik. Efek phubbing akan semakin besar bagi mereka yang memiliki kekhawatiran diabaikan. 

Prinsipnya, Seidman menyimpulkan, phubbing akan berdampak negatif pada mereka yang merasa insecure dengan hubungan yang dijalani. 

Di sisi lain, peneliti mengatakan jika phubbing juga merupakan efek. Efek dari hubungan yang dirasa kurang menyenangkan atau kurang memuaskan. Ada beberapa alasan yang memicu partner kita memilih bermain ponsel ketimbang bertahan pada komunikasi yang sedang dilakukan.

Dalam hubungan yang kurang memuaskan, mengalihkan perhatian pada ponsel saat bertemu merupakan kegiatan yang lebih menenangkan dan menghibur atau di kala partner kita tak mendapatkan kebutuhan emosional yang mereka harapkan, dia akan mencarinya dari sumber yang lain, yakni berinteraksi melalui ponsel.

Namun, pada dasarnya, phubbing terkait erat dengan kecanduan ponsel dan internetnya. Sebagaimana diungkapkan oleh penelitian oleh delapan mahasiswa dari Eskişehir Osmangazi University, Eskişehir, Turki dan Artvin Çoruh University,  Artvin,  Turki dalam jurnal Behavioral Addiction.

Penelitian yang melibatkan 401 partisipan ini mengungkapkan, kehadiran ponsel pintar, sms (fitur chatting), kecanduan internet, media sosial, dan game berpengaruh pada perilaku Phubbing. Namun, yang paling berpengaruh ialah ponselnya itu sendiri, SMS, media sosial, dan kecanduan internet.

 

Bagaimanapun Phubbing Berdampak Negatif

Terlepas dari berbagai alasan yang melatarbelakangi melakukan phubbing, faktanya phubbing berpengaruh negatif. Saat kita melakukan phubbing, partner mengobrol kita akan merasa diabaikan.

Efeknya akan terjadi siklus. Komunikasi jadi tidak menyenangkan, dan akhirnya partner kita pun akan melakukan yang sama. Kembali lagi ke tulisan Seidman. 

Ia mengatakan jika kau mendapati getar notifikasi saat nongkrong bareng kawan, coba tanya dirimu, “Apakah aku sedang bosan atau kesal dengan kawan-ku?”

Jika begitu, coba tanya apa yang menyebabkan kamu merasa seperti itu dan cobalah perbaiki hubungan serta cara komunikasi mu dengannya atau lebih baik kita akhiri saja sesi nongkrong kita. Kalau kita merasa terganggu dengan getar atau nyala notifikasi pada layar, cobalah balik ponselmu 

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like